Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
MENIKAH SIRI


__ADS_3

Malam ini, adalah malam yang tak ingin Salma lewati. Karena dia harus menerima kenyataan bahwa suami yang sangat di cintai akan menikahi wanita lain. Seakan Salma tak kuasa melewati malam itu. Salma hanya terdiam didalam kamarnya. Sendiri dengan airmata mengalir dimatanya. Salma tak makan apapun setelah tadi siang mendengar bahwa malam itu Burhan akan menikahi wanita yang telah dipilihnya.


Sedangkan Burhan yang ada diruangan tempatnya akan melangsungkan pernikahan yaitu rumah Fitri, terlihat sangat bingung dan sedih. Pikirannya hanya memikirkan Salma yang mungkin sangat merasa terhianati.


"Mas, pernilahan akan segeran dimulai. Kamu cepetan keluar." Panggil Fitri dari balik pintu.


Burhan keluar dari ruangan menuju tempat pernikahan. Dan dia terlihat sangat tidak bahagia. Burhan menyapa semua saksi pernikahannya dengan senyum terpaksanya.


Kemudian Burhan duduk disebelah Fitri dan melangsungkan pernikahan mereka. Setelah semua selesai, semua saksi pergi. Hanya tinggal mereka berdua dirumah Fitri.


"Mas kalau kamu tidak bahagia malam ini, dan memukirkan mbak Salma. Mas bisa pulang sekarang dan kita bisa melakukannya lain kali kalau kamu sudah siap." Ucap Fitri merasa iba.


Fitri tahu jelas bagaimana perasaan bersalah Burhan terhadap istrinya, Salma.


"Tidak, tidak. Aku tidak mau menundanya lagi. Aku lakukan semua ini untuk keluargaku. Karena aku tidak ingin kehilangan Salma. Jadi siap tidak siap ku harus tetap melakukannya." Kata Burhan meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu telepon mbak Salma dulu." Kata Fitri.


Burhan menelepon orangtuanya. Dia pamit bahwa ada perjalanan bisnis keluar kota untuk beberapa hari. Dia tidak ingin orangtuanya curiga.


Setelah menelepon orangtuanya, Burhan menelepon Salma.


"Sayang! Kamu sedang apa? Kamu baik baik saja?" Tanya Burhan khawatir.


"Aku sedang mau tidur. Aku baik baik saja. Kenapa kamu menelepon malam malam gini." Tanya Salma menahan air matanya dan mencoba kuat.


"Iya aku tau. Makanya aku baik baik saja. Ya sudah aku mau tidur, aku sudah ngantuk." Pamit Salma tetap menahan airmatanya.


Salma mematikan teleponnya, dan menangis dengan kerasnya. Sesangkan Burhan tahu persis bahwa Salma sedang sangat sedih saat ini.


Setelah menelepon Salma, Burhan kembali kekamar dengan wajah tetap tidak bahagia.

__ADS_1


"Mas." Panggil Fitri.


Burhan tak menyahutnya. Dia hanya diam seperti pikirannya sedang tak ada disana bersamanya.


"Mas." Panggil Fitri lagi. Tangan Fitri menyentuh bahu Burhan. Burhan terkejut.


"Ehhh iya?" Jawab Burhan tanpa ekspresi diwajahnya.


"Kalau kamu tidak ingin, kita bisa tunda melakukannya. Kitabis melakukannya besok setelah kamu siap." Kata Fitri.


"Tidak tidak. Aku akan tetap akan melakukannya. Semakin cepat semakin baik untuk kita semua." Jelas Burhan.


Fitri hanya menuruti Burhan dan pasrah dengan apapun yang dilakukan Burhan terhadapnya. Fitri tau, Burhan memikirkan yang lain. Tetapi dia hanya diam tak melawan.


Burhan tinggal dirumah Fitri untuk beberapa hari. Dan menunggu sampai keajaiban datang. Setiap malam Fitri hanya pasrah melayani Burhan. Karena setiap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, Fitri tahu dengan jelas kalau pikiran Burhan tidak bersamanya. Burhan selalu memikirkan hal lain. Mungkin dia memikirkan rasa bersalahnya terhadap istri sahnya, Salma. Itulah yang selalu dipikirkan Fitri.

__ADS_1


Fitri juga selalu berusaha untuk membantu Burhan agar dia segera hamil. Dia sellu menyiapkan makanan sehat dan bergizi untuknya dan Burhan.


__ADS_2