Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
Nggak becus


__ADS_3

Sisilia membuka pintu dengan gegas. Dan tampak Puan Nandita sedang berdiri menatap ke arah dalam kamar.


Puan Nandita mengedarkan pandangan pada Eran yang masih handuk kan. "Eran, pulang kok gak temui ibu sih? apakah sudah lupa dengan ibu mu ini!"


Eran baru ingat kalau di rumah itu ada ibunya, tetapi kan malam sudah tampak sepi dan mungkin beliau sudah istirahat. Jadi gimana mau bilang.


Sisilia bengong mendengarkan celotehan ibu mertua.


"Semalam sepertinya Ibu sudah tidur, jadi aku tidak berani menganggu." Eran sambil memeluk sang bunda.


Lalu Puan Nandita mengedarkan pandangan ke ruang sekitar. "Kau ngapain saja pagi-pagi, kamar masih berantakan begini. Sebelum ke butik juga urus dulu kamar bersama suami, jangankan ngurus rumah ya keseluruhan. Kamar satu saja tidak becus."


Mendengar ucapan Puan Nandita yang ketus membuat hati Sisilia terasa sakit. Karena ini memang belum ia bereskan saja bukan gak becus. Tanpa bicara Sisilia langsung beberes kamar tersebut.


Eran tidak tahu harus berkata apa untuk membela sang istri di hadapan sang bunda yang berkata ketus seperti itu.


Di saat sarapan, mereka duduk bersama di meja yang sama. Sisilia yang sudah menyediakan sarapan dengan sepenuh hati untuk sarapan semuanya, kebetulan Lita mendadak pulang karena keluarganya ada yang meninggal dan Rika sibuk bersih-bersih.


"Kau itu gak bisa masak gak sih? kok rasanya gak enak begini. Oe!" Puan Nandita membuang makanan yang hampir dia telan.


"Em, emang seperti apa rasanya?" Sisilia langsung menyicipi. "Enak kok."


"Enak apanya? ini gambar sekali rasanya." Puan Nandita kekeh dengan rasa di lidah nya.


Eran yang sedari tadi makan dan juga tuan Amirudin tidak ada masalah apapun. Mereka cukup menikmati sarapannya.


"Tapi, Bu ... ayah dan Abang tidak masalah dengan makanannya. Kenapa Ibu merasa seperti itu? kan sama." Sisilia menggeleng.


"Kamu yang tidak pandai memasaknya. Atau kalian berdua yang punya kelainan yang sehingga makanan itu berasa enak." Puan Nandita mendelik pada suami dan putranya.


Lah, emang enak kok. Lagian kau saja yang lidahnya bermasalah. Hingga tidak beras enak!" ucap tuan Amirudin.


Eran pun mengangguk. Membenarkan perkataan dari sang ayah.


Sisilia merasa bingung sendiri. Lalu menawarkan pada Puan Nandita untuk dia buatkan yang baru. "Ibu mau aku bikinkan yang baru atau mau sarapan apa?"

__ADS_1


"Tidak usah. Saya tidak lapar." Puan Nandita tampak cemberut.


Selesai makan, tuan Amirudin berangkat kerja dan begitupun dengan Eran. Dia pun bergegas untuk berangkat serta menunggu sang istri Sisilia yang mau ke butik.


Namun Puan Nandita menatap ke arah Sisilia yang baru saja turun dari tangga. "Saya merasa lapar, tolong bikinkan dulu mie ayam ya? kan masih pagi!"


Eran menoleh dengan cepat pada sang bunda dan sang istri bergantian. Namun tidak sepatah kata pun yang ucapkan.


Sisilia melihat ke arah jam yang menunjukan pukul 07.00. "Oke. Baik Bu ..."


Sisilia langsung ke dapur dengan menyimpan tas dan mengenakan celemek terlebih dahulu.


Langsung mengeksekusi bahan-bahan yang terlebih dahulu dia siapkan.


Eran menghampiri sang istri yang sedang memasak. "Sayang, aku pergi duluan ya? kamu nanti sama supir saja ya?"


Sisilia mengatupkan bibirnya sesaat, lalu mengangguk pelan. "Iya, hati-hati ya!"


"Ya sayang." Eran mengecup kening sang istri dengan mesra.


Puan Nandita mendekati Sisilia yang sedang memasak. Sisilia langsung menuang mie nya ke dalam mangkuk dan dua sajikan di hadapan Puan Nandita, tidak lupa menaburi nya dengan bawang goreng.


"Sudah siap, Bu ... aku mau berangkat." Sisilia langsung berjalan menghampiri paper bag yang tadi dia simpan beserta tasnya.


"Tunggu?" itu perabotan kenapa tidak di cuci dulu? Rika sedang sibuk dan jorok amat kau main pergi di saat dapur berantakan dengan perabotan kotor." Puan Nandita begitu sinis.


"Aku siang, Bu ... anak-anak pasti sudah menunggu kedatangan ku karena kunci masih aku bawa." Sisilia hentikan langkahnya sembari melihat dapurnya yang tampak rapi, cuma wajan dan sodet juga piring.


"Cuci dulu, gimana mau bersih dan rapi kalau suka meninggalkan tugas rumah." Puan Nandita kembali ketus sambil makan mie buatan Sisilia.


"Ck." Namun tak ayal Sisilia berbalik kembali dan mencuci terlebih dahulu.


"Jangan sulu pergi kalau saya belum selesai makan dan mencuci bekas saya." Puan Nandita dengan suara yang cukup keras.


"Iya, Bu!" Sisilia menunggui sang ibu mertua yang makanya bagaikan dihitung sehingga terasa lelet.

__ADS_1


Sesekali Sisilia melihat ke arah jarum jam yang sudah menunjukan pukul 08.00. Namun makannya Puan Nandita masih banyak dan sambil sibuk dengan ponselnya.


"Ibu, kapan mau selesainya Ibu makan? kalau ibu seperti itu makannya," Sisilia menatap ke arah Puan Nandita.


Puan Nandita menoleh pada Sisilia. "Ini makan ku dan juga yang makan mulut ku, kenapa kau repot-repot mengomentari ku."


Mendengar itu, Sisilia berdiri hendak pergi saja ke butik. Namun dengan cepat rambut Sisilia di tarik Puan Nandita.


"Mau kemana kau? Kan saya sudah bilang kalau jangan dulu pergi sebelum saya selesai makan!" pekik Puan Nandita pada Sisilia condong ke belakang dengan rambut yang wanita itu tarik.


"Auw, Ibu ... apa ini?" memegangi rambutnya yang masih di jambak oleh sang ibu mertua.


"Kau itu lancang dan mulai membantah perintah ku!" Puan Nandita tetap menjambak rambut sang mantu.


"Tapi, Bu ... aku itu sudah siang untuk pergi ke butik." Sisilia sembari meringis.


"Saya tidak perduli." Puan Nandita semakin leluasa karena merasa kalau di mension itu sepi.


"Bu ... tolong lepaskan Bu!" Sisilia memohon.


Kemudian Puan Nandita melepaskan tangannya, namun dia hempaskan dengan kuat ke bawah. Sehingga Sisilia terjatuh bersimpuh dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit dan panas kedua manik matanya pun berkaca-kaca.


"Kenapa sih, Ibu selalu jahat sama aku? apa salah aku Bu? apa aku menyakitimu." Suara Sisilia bergetar menahan tangisnya.


"Kamu itu tidak perlu bertanya kenapa? karena kamu sudah tahu jawabannya. Bahwa saya tidak pernah suka sama kamu. Saya benci sama kamu, sebab kamu sudah menjadi istri dari putra ku!" Puan Nandita dengan jelas dan menunjuk-nunjuk ke arah Sisilia.


"Tapi Bu ... semuanya sudah terjadi dan aku sudah menjadi istrinya Abang, dia tentang apapun percuma. Karena kami sudah suami istri!" ucapnya Sisilia sambil mendongak.


"Tapi saya tetap benci, benci sama kamu tidak akan pernah luluh apapun dan bagaimanapun. Hati saya tidak akan pernah berubah kalau kamu itu tidak pernah layak untuk menjadi istri putra saya!" teriaknya puan Nandita.


Tidak kuasa, Sisilia pun menangis sedih karena ternyata semakin ke sini ibu mertua tetap hanya seperti itu membencinya dan bersikap jahat ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment dan dukungan lainnya terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2