Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
Ngidam


__ADS_3

"Assalamu'alaikum ... Ibu, sayang?" suara Eran yang baru saja datang menghampiri.


"Wa'alaikum salam ...Abang dah pulang?" sambut Sisilia sambil tersenyum.


"Eeh, sayang ... kok baru datang? lembut dulu sama Erika ya?" celetuk Puan Nandita.


Membuat Sisilia menatap tanpa ekspresi pada Puan Nandita.


"Bukan, Bu aku dari lapangan. Hari ini aku tidak bertemu dengan dia." Jawabnya Eran.


"Nona Erika tadi bersama aku di butik. Dan dia minta aku bikinkan gaun malam buat pemotretan di hotel katanya tambahnya Cecilia sembari meneruskan tugasnya lagi.


"Ooh mungkin pemotretan hotel itu. Tapi kalau bikin gaun malam jangan terlalu yang gimana-gimana ya? yang biasa aja." Eran melirik keras sama istri.


Sisilia yang lalu menoleh pada sang suami. "Iya memang itu yang sedang aku pikirkan gaun malam tapi tidak terlalu mencolok ataupun monoton."


"Ya sudah, aku mau mandi dulu ya sayang ya?" kemudian Eran mengecup pipinya Sisilia sebelum dia berjalan menaiki anak tangga.


Sisilia meneruskan lagi masaknya yang tinggal sebentar lagi pun selesai.


Karena semuanya sudah tertata dengan rapi di meja Sisilia pun membawa langkahnya untuk ke kamar. Dan setibanya di dalam kamar, dia mendapati suaminya baru saja keluar kamar mandi.


Eran menoleh pada sang istri yang berjalan mendekatinya. Lalu meraih tangannya, di tarik ke dalam pelukan.


Sisilia kini sudah berada dalam pelukan sang suami. "Kamu belum berpakaian, pakai lah dulu. Oh iya aku akan menyiapkannya dulu."


"Nanti saja sayang, aku kangen sama kamu." Eran semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.


"Aku mau menyiapkan dulu pakaian mu." Sambungnya Sisilia sambil sedikit mendongak menatap wajah Eran.


Tiba-tiba Sisilia merasa mual. Dan kepala pun pening. Sehingga dengan cepat dia melepaskan diri dari pelukan sang suami.


Dia berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya di sana. Oek-Oek Oo ... Sisilia muntah-muntah.


Membuat Eren merasa kaget dan langsung menyusul tulang istri ke kamar mandi. "Sayang kamu kenapa! kamu sakit?"


Sisilia menggelengkan kepalanya sampai rumah menghadap ke wastafel dan Oo ... oo ... lagi-lagi mengeluarkan isi perutnya hingga terasa kepahit-pahitnya.


Eran memijat pundaknya sang istri menatap cemas ke arah wajah Sisilia yang pucat dari pantulan cermin.

__ADS_1


Kemudian Eran mengambilkan air putih dan hangat untuk sang istri yang ada di kamar itu. "Ini sayang minum dulu!"


Sisilia pun langsung menyesap minumnya sampai tandas. Kepalanya terasa pusing dan pening, perutnya terasa eneg banget.


Tidak lama kemudian datang dokter keluarga untuk memeriksa Sisilia yang kini sedang berbaring.


"Emang istri mu kenapa?" Puan Nandita berdiri depan pintu kamar.


"Entah Bu ... aku tidak tahu makanya aku datangkan dokter ke sini karena istri aku tiba-tiba muntah-muntah!" jawabnya Eran sambil berdiri tidak jauh dari sang Bunda.


"Jangan-jangan itu perempuan hamil lagi Aku harus bisa menggugurkannya." Batinnya puan Nandita sambil menatap sinis kepada Sisilia.


"Gimana dok, istri saya sakit apa?" tanya Eran pada dokter setelah memeriksakan Sisilia.


"Sebaiknya di periksakan lagi ke dokter kandungan. Karena istri anda kemungkinan sedang mengidam." Kata dokter keluarga.


"Apa? hamil?" suara Eran sangat kaget dan merasa senang mendengarnya.


"Hamil, ternyata ... dia hamil. Jangan sampai dia melahirkan!" Puan Nandita menatap tajam sembari berkata dalam hati.


"Sayang, benar kamu hamil?" Eran menatap wajah sang istri yang tampak pucat.


Eran memeluk sang istri dengan sangat erat, dia sangat bahagia mendengarnya sang istri sedang hamil.


Sisilia pun jadi termangu. Antara bahagia dan was-was, hamil dan mau punya anak. Was-was dengan ancaman Puan Nandita yang katanya tidak akan membiarkan dirinya hidup tenang.


"Ya sudah. Aku mau mengantar dokter ke luar dulu!" Eran beranjak lalu mengantar dokter.


Puan Nandita mendekati Sisilia. "Sekarang kau hamil. Tapi jangan pernah merasa akan tenang hidup mu."


"Ibu, Aku minta maaf dan tolong doa kan agar anak ini sehat." Sisilia menatap sendu ke arah Puan Nandita.


"Jangan harap!" Puan Nandita dengan tatapan sinis.


"Ini cucu Ibu juga." Sisilia mengusap perutnya.


"Saya sudah bilang, jangan berharap hati saya akan luluh hanya karena kamu hamil." Puan Nandita mendelikkan matanya.


Namun raut wajah Puan Nandita 95% berubah setelah kedatangan Eran di sana.

__ADS_1


"Eran sayang ... Ibu sangat bahagia mendengarnya kalau Ibu akan mempunyai cucu dari kamu." Puan Nandita memeluk Sisilia.


Sisilia senyum samar mendapatkan pelukan sang mertua yang bermuka dua itu.


"Tentu dong ... saya sangat bahagia. Dan menyambut dengan senang cucu pertama ini!" Puan Nandita lagi-lagi merangkul bahunya Sisilia.


"Kita ke dokter kandungannya sekarang saja?" menggenggam tangan Sisilia.


"Emangnya harus sekarang?" Sisilia menatap suaminya.


"Aku ingin sekarang juga periksakan. Biar lebih meyakinkan!" Eran menarik sang istri untu turun dari tempat tidur.


"Baiklah, kalau begitu! kamu belum makan makan malam aja dulu nanti setelah makan barulah kita ke dokter," ucapnya Sisilia kepada sang suami yang begitu semangat untuk mengajaknya ke terkandungan.


"Iya, sebaiknya kita makan malam aja dulu. Periksa ke dokternya nanti saja lah ... kan barusan juga diperiksa dan bilangnya seperti itu. Jadi tidak terlalu khawatir!" timpal puan Nandita.


"Ya sudah, kita makan malam aja dulu. Tapi beneran ya? sesudah makan kita pergi ke dokter kandungan!" jawabnya Eran sembari mengangguk lalu menggandeng tangan sang istri keluar dari kamar tersebut.


Puan Nandita yang masih berdiri di belakangnya dengan wajah yang tidak bersahabat mengikuti langkah Eran dan Sisilia turun ke lantai dasar.


"Emangnya kamu pikir, saya suka punya cucu dari kamu wanita kampung! dan tidak tahu asal-usulnya, lihat saja nanti." Ancam Puan Nandita dalam hati sambil berjalan dan akhirnya duduk di kursi depan meja makan.


"Ayah belum pulang ya? apakah tidak pulang ke sini?" ucapnya Eran sambil menarik kursi buat sang istri.


"Belum, katanya ada meeting makanya mau pulang telat." jawabnya Puan Nandita.


Sejenak Eran mengatupkan bibirnya, terdiam sembari melamun. Karena tadi dia melihat mobil ayahnya berada di depan sebuah Mal. Namun entah sedang meeting di sana atau mungkin ada urusan apa? kurang tahu juga. Yang jelas karena laporan dari Sisilia waktu itu, Eran menyuruh orang untuk mengikuti atau memata-matai sang ayah.


Kemudian mereka pun menyantap makan malamnya dengan sangat lahap. Dengan terus kepikiran untuk segera ke dokter kandungan! rasanya sudah tidak sabar untuk mengetahui kebenarannya Sisilia apa benar hamil atau tidak.


Makanya selesai makan pun Eran langsung mengajak istrinya itu keluar, yaitu untuk pergi ke klinik dokter kandungan. Dengan menggunakan mobilnya tetapi menyuruh sopir untuk membawanya, karena Eran sedang malas nyetir sendiri dan Dia ingin duduk santai bersama sang istri.


Puan Nandita berdiri di teras sambil melambaikan tangan dengan bibir yang tersenyum dan entah senyuman apa yang wanita itu tunjukkan.


"Semoga saja Sisilia tidak hamil tapi sakit biasa, aku harus pura-pura baik dan berusaha menggugurkannya kalau memang dia hamil. Hem ... kau pikir saya akan kehilangan akal apa!" gumam nya wanita tersebut.


Mobil terus melaju dengan cepat. Meninggalkan mension tempat tinggalnya tersebut menuju klinik, Namun setelah beberapa puluhan meter dari mension! mobil tiba-tiba berhenti dan di yakini mogok ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan subscribe nya


__ADS_2