
"Kenapa nih? kok mogok sih?" Eran pun merasa heran.
"Tidak tahu, Tuan. Kok bisa mogok?" supir pun menepikannya dan langsung turun untuk memastikan apa yang menjadi kendala.
Begitupun dengan Eran. "Sayang tunggu di sini! aku turun dulu."
"Hem!" Sisilia mengangguk pelan.
Siapa tahu kalau banyak yang kempes atau bensin yang habis. Tapi gak ada masalah. Namun mobil tidak menyala sama sekali membuat Eran dan supir merasa aneh.
Lalu mengecek mesin. Dan setelah di cek dengan sangat teliti. Rupanya ada kabel yang putus sehingga mobil tidak mau menyala, sesekali Eran melihat jam di tangannya. Mengingat dia sudah membuat janji dengan pihak klinik.
Tidak lama kemudian akhirnya mobil pun menyala kembali dan membuat lega hati semuanya. Lantas kemudian melanjutkan perjalanan nya ke klinik uang sudah menjadi tujuannya.
"Kenapa mobilnya?" tanya Sisilia pada Eran yang duduk di sampingnya.
"Ada yang putus kabelnya. Sekarang sudah bagus kok!" kata Eran sambil merangkul pinggang sang istri.
"Ooh ... syukurlah kalau begitu. Oek, Sisilia menutup mulutnya dengan tangan. Karena merasa mual lagi.
"Pak-Pak, berhenti menepi sebentari?" pinta Eran pada supir.
Supir pun langsung menuruti perintah sang majikan.
Eran memijat pundaknya Sisilia. "Mau muntah, sayang?"
Sisilia menghela nafas dengan dalam-dalam dan mengembuskannya dengan panjang. Baru kemudian berkata. "Nggak."
"Ya sudah, kalau nggak jadi muntahnya. Jalan saja Pak?" pinta Eran pada supir.
Supir pun melajukan mobilnya dengan cepat. Tidak selang lama akhirnya tiba juga di depan klinik.
Dan langsung menemui dokter ahli kandungan yang menyambut ramah calon pasiennya. Sisilia pun langsung diperiksa.
Setelah melewati beberapa proses pemeriksaan, kini mereka duduk berhadapan.
__ADS_1
"Selamat ya Tuan Eran ... akhirnya sang istri, hamil dengan usia kandungan 8 Minggu. Kandungannya dijaga ya? karena di masa-masa ini masih sangat rentan. Jadi ini resep yang harus dibeli." Kata dokter kandungan.
"Makasih ya Dok? akhirnya saya mau mempunyai momongan juga! sesuatu yang sangat membahagiakan bagi saya," ucap Eran sembari melirik ke arah sang istri.
Yang dengan raut wajah yang bahagia, namun sebenarnya ada rasa was-was yang menghantui perasaan Sisilia. Rasa takut pada orang yang mungkin saja berbuat zalim kepada dirinya agar dia tidak jadi mempunyai anak.
Lantas dalam hati, dia berdoa dan meminta pada yang maha kuasa, semoga dia terjaga dijauhkan dari segala marabahaya, ataupun orang-orang yang akan zalim kepada dirinya dan juga janin yang tengah dikandungnya.
"Ini, sesuatu yang sangat berharga bagi saya sesuatu yang akan akan kami jaga." Sambungnya Eran dengan perasaan yang berbunga-bunga karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah, pewaris dari hartanya.
"Iya, sekali lagi selamat ya? jangan lupa vitamin dan susu bumil juga, bila ada keluhan silahkan datang kembali!" ucap dokter kembali.
Kemudian mereka pun berpamitan dengan membawa hati yang bahagia dan berbunga-bunga.
"Akhirnya kita punya anak juga, mulai sekarang kamu nggak boleh terlalu capek. Lagian sekarang pekerja pun sudah bertambah jadi kerjaanmu paling cukup menggambar saja! biar yang lain yang mengurus semuanya!" ucapnya Eran kepada sang istri sambil berjalan Setelah dari apotek.
"Oke, yang penting aku sehat, juga bayinya sehat! aku nggak akan capek-capek lagi kok." Jawabnya Sisilia Sambil menggandeng tangan Eran.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan Eran, memerintahkan sopir untuk segera membawa mereka berdua pulang.
"Pak, Istri saya sedang hamil dan tolong kalau bawa mobil jangan ngebut-ngebut bila dia minta diantar ke mana!" ucapkan kepada sang supir.
Sang supir pun lagi-lagi mengangguk sembari fokus melihat ke depan seraya berkata. "Ooh. Nyonya sedang hamil? selamat ya, semoga nanti bayinya sehat menjadi anak yang sholeh dan sholehah."
"Aamiin. Terima kasih Pak atas doanya?" balas Eran dan Sisilia yang berbarengan.
Setibanya di mension, langsung disambut oleh puan Nandita yang berdiri di depan pintu utama.
"Eeh sudah pulang, gimana hasilnya positif apa negatif?" tanya sang ibu mertua Sisilia menatap keduanya bergantian.
"Alhamdulillah bu Sisilia hamil dan usia kandungannya sudah mencapai 8 Minggu. Dan dokter bilang ya harus lebih banyak istirahat karena di masa-masa hamil muda akan rentan!" jawabnya Eran sangat antusias menceritakannya.
"Ooh ya? positif 8 Minggu wah ... kok baru ketahuan sih, selamat ya? akhirnya aku mau punya cucu." Puan Nandita memeluk Eran.
Lalu Puan Nandita memeluk Sisilia sembari berbisik. "Lihat saja nanti!" kemudian Puan Nandita tersenyum manis sembari berkata. "Selamat ya ... bentar lagi kan jadi ibu dan saya akan menjadi oma."
__ADS_1
"Iya Bu ... makasih!" balas Sisilia dengan senyuman samarnya.
"Kalau sedang hamil muda itu ... jangan banyak pikiran biar nggak boleh stress dan bayi yang di dalam kandungannya pun happy!" ucapnya kembali Puan Nandita.
"Iya Bu." Sisilia mengangguk pelan.
"Dan disaat ngidam itu, Ibu juga dulu waktu hamil Eran itu! pengennya dimanja malas ini itu. Dan Ibu beruntungnya punya suami yang perhatian, sayang sama Ibu. Ibu nggak boleh kerja apapun." Tambahnya Puan Nandita.
"Eren jangan khawatir, bila kamu tidak ada di rumah ... Ibu kan ada di sini ya? tentunya akan memperhatikan istrimu bila mengerjakan apapun, nggak capek-capek. Bila perlu nggak usah masuk butik. Kita kan nggak tahu kerjaannya di butik Seperti apa? kalau nggak diperhatikan sama kita!" Puan Nandita melirik ke arah sang Putra.
"Biar saja dia ke butik, Bu ... dia sendiri pasti punya batasan sendiri dan aku juga nggak ngelarang itu." Eren mengalahkan pandangan ke arah sang Bunda dan sang istri bergantian.
"Tapi kan kita kerjaannSisilia di butik apa? kecuali kalau kita yang perhatikan." Tambah Puan Nandita lagi.
"Biar saja Bu ... Sisilia ke butik, dia punya batasan sendiri." Timpal dari Eran kembali.
"Ya sudah, kalau begitu! tidak apa-apa kalian gak menuruti Ibu juga, Ibu sih cuman mengingatkan saja." Puan Nandita dengan nada sinis.
"Em, aku ... pasti bisa jaga diri kok!" lirihnya Sisilia sambil melihat ibu mertua dan suami bergantian.
"Terserah! terserah kalian saja, kan kalian yang menjalani!" Puan Nandita menaikkan kedua bahunya lalu meninggalkan mereka berdua.
Eran dan Sisilia saling bertukar pandangan melihat sikap Puan Nandita seperti itu.
Lalu mereka berdua pun berjalan menaiki anak tangga, untuk ke lantai atas yaitu ke kamar mereka berdua tangan Eran menggandeng tangannya sang istri.
"Ingat ya! jangan terlalu capek jaga kesehatan. Jaga pikiran jangan sampai calon baby kita kenapa-napa!" pesannya Eran kepada sang istri yang langsung dibalas dengan anggukan.
"Iya, aku pasti bisa aku menjaganya jangan terlalu khawatir. Aku akan menjaga kandungan ku sepenuh hati!" jawabnya Sisilia sama itu senyum.
"Kecuali ibumu yang berbuat ulah untuk mengganggu kebahagiaan kita, aku nggak tahu bisa menjaganya atau tidak." Batinnya Sisilia.
Kini mereka sudah berada di dalam kamar, dan Eran mengunci pintunya terlebih dahulu ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like comment subscribe agar aku tambah semangat ya terima kasih.