Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
SALING DUKUNG


__ADS_3

Semakin menyayangi istrinya, itulah yang dirasakan Burhan. Dia merasa tak salah memilih wanita untuk mendampingi hidupnya. Burhan berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia akan selalu membahagiakan istrinya bagaimanapun caranya.


Semenjak mendapat peringatan dari Burhan, Ibu Burhan tak lagi banyak bicara. Meskipun masih tampak jelas diwajahnya bahwa dia sangat tidak menyukai Salma, tapi setidaknya ucapan ucapan yang menyakitkan tak banyak lagi terdengar oleh Salma. Ibu Burhan tak ingin anak kesayangannya meninggalkan dia lagi hanya karena seorang wanita. Jadi dia membiarkan Salma hidup dengan tenang dirumahnya.


Akan tetapi, dengan diamnya Ibu Burhan justru tak menganggap bahwa Salma ada. Dia tak pernah menggubris keberadaan Salma. Menatap wajah Salma saja sepertinya tak sudi.


"Kamu ngomong apa sama Mama? Kenapa aku sekarang jarang mendengar ucapan kasar Mama? Malah hampir nggak pernah." Tanya Salma.


"Aku hanya memberi Mama peringatan, kalau Mama masih ikut campur dalam kehidupan kita, kita akan pergi dari rumah ini." Jawab Burhan.


"Kamu tau sekarang aku justru merasa sedih bukan sakit hati. Kamu tahu kenapa" Ucap Salma frustasi.


Burhan menggelengkan kepala, tak tahu apa maksud Salma.


"Dengan Mama diam seperti ini, aku merasa Mama tidak menganggapku ada dikeluarga ini. Sekarang Mama menatap wajah aku saja tak sudi. Berbeda dengan Mama yang suka marah sama aku. Meskipun aku tau Mama tidak suka sama aku, tetapi setidaknya Mama menganggap aku ada dikeluarga ini. Dan Mama mau menatapku meski dengan tatapan kebenciaannya." Terang Salma.

__ADS_1


"Berarti aku salah? Maaf!" Ucap Burhan mengakui kesalahannya.


"Kamu tidak salah sayang! Aku tahu kamu melakukan semua ini untuk membelaku." Ucap Salma tersenyum.


Burhan mendekap Salma dalam pelukannya.


"MAkasih ya sayang! Aku beruntung punya suami kayak kamu yang selalu mendukung dan mendengarkanku." Kata Salma didalam dekapan Burhan.


"Aku yang harusnya berterimakasih, dan bersyukur punya istri seperti kamu. Yang selalu berpikiran positif meski sudah disakiti." Ucap Burhan.


"Iya. Besok sekalian ya. Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama istriku tercinta." Kata Burhan kembali mendekap Salma.


"Sejak kapan suamiku jadi semanja ini?" Canda Salma.


"Sejak aku sadar bahwa aku sangat mencintai istri mungilku ini." Canda balik BUrhan.

__ADS_1


Mereka tertawa bersama. Setidaknya tawa mereka bisa menghapus sedikit sakit yang mereka rasakan saat ini. Meskipun Ibu Burhan tak pernah merestui hubungan mereka sampai saat sudah menikah, Salma selalu menguatkan hatinya dan bertahan menghadapi semua perilaku Ibu mertuanya. Salma merasa lebih sedih karena setelah peringatan dari Burhan, Ibu mertuanya lebih banyak diam. Salma sudah jarang mendengar cacian dari Ibu mertuanya.


Burhan selalu mendengarkan dan mendukung apapun yang Salma inginkan. Burhan juga setuju untuk tidak meninggalkan orangtuanya. Karena Salma yakin, Ibu mertuanya akan menyayanginya suatu saat nanti.


Ibu Burhan tak lagi menghiraukan Salma.


"Ma?" Panggil Salma.


Tetapi Ibu mertuanya tertingkah seolah olah tak mendengar suara memanggilnya. Salma hanya diam frustasi. Dan kembali kekamar.


"Aku lebih baik dicaci sama Mama setiap hari. Memang sakit. Tapi setidaknya Mama menganggapku ada dikeluarga ini." Ucap Salma kepada dirinya sendiri.


"Ahh apa yang sebenarnya aku inginkan. Ketika Mama selalu marah, aku menangis karena sakit hati oleh ucapannya. Harusnya ketika Mama tak mencaciku lagi, aku harusnya senang dan lega, tapi ini kenapa malah ingin rasanya Mama selalu mencaciku." Lanjut Salma berkata pada dirinya sendiri.


Salma membaringkan tubunhnya diatas kasur dan merasakan betapa frustasinya dia saat ini. Dan berpikir bagaimana dia bisa berbicara kepada Ibu mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2