
"Sayang, kita pergi jalan jalan yuk. Aku tau kamu bosan setiap hari dirumah. Aku jarang ngajak kamu jalan jalan. Mumpung libur aku akan temani kamu belanja." Ajak Burhan.
"Iya mas, keperluan bulanan kita sudah mau habis. Sekalian aku mau beli keperluan bayi." Jawab Salma dengan semangat.
Salma merasa senang akhirnya dia mempunyai waktu berdua bersama suaminya. Tiba tiba dia semangat seperti menang lotre.
"Ya sudah mas aku siap siap dulu." Ucap Salma.
"Ya sudah, kamu siap siap dulu. Aku mau kerumah Fitri dulu." Ucap Burhan.
Salma terkejut. Dia hanya menatap suaminya dengan tatapan kosong tak tau harus berkata apa. Seketika dia menjadi bingung tak mengerti harus bagaimana.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Burhan tak mengerti arti tatapan istrinya.
"Kenapa mas mau kerumah Fitri? Padahal sekarang kita mau pergi jalan jalan." Ucap Salma tetap tak mengerti.
"Kita sekalian ajak Fitri, biar dia sekalian membeli keperluannya. Lagian kasihan dia, dia kan sedang hamil jadi juga butuh suasana luar." Jawab Burhan.
"Aku kira kita hanya pergi berdua." Ucap Salma dengan nada kecewa.
"Kamu marah?" Tanya Burhan.
"Enggak kok." Jawab Salma lirih dengan penuh rasa kecewa.
Salma mengira dia hanya akan pergi berdua dengan suaminya. Karena sudah lama dia tak merasakan kasih sayang dan perhatian dari suaminya. Salma merasa suaminya mulai berubah semenjak Fitri datang kekehidupan mereka. Salma hanya bisa memendam rasa kecewanya tanpa bisa mengungkapkannya. Dia tak ingin suaminya menjadi salah paham.
"Ya sudah kamu siap siap dulu, aku kerumah Fitri dulu. Nanti aku tunggu dibawah ya." Ucap Burhan.
Salma hanya mengangguk dan tersenyum tipis menahan air matanya. Burhan mencium keningnya dan beranjak keluar menuju rumah Fitri. Airmata Salma tiba tiba menetes tanpa dia sadari. Tak mampung dia menahan rasa kecewa kepada suaminya.
Setelah selesai berdandan, Salma menenangkan dirinya. Setelah merasa tenang Salma keluar menuju mobil yanga akan mereka gunakan.
__ADS_1
"Pagi mbak." Sapa Fitri.
"Pagi." Jawab Salma dengan senyum manisnya menutupi kekecewaannya.
"Ayo kita berangkat." Ajak Burhan.
Burhan mengendarai mobilnya menuju mall terdekat didaerahnya. Sesampainya disana, Burhan berjalan didampingi oleh 2 wanita hamil. Hanya saja yang satu hamil palsu. Keakraban mereka bertiga terkadang menjadi pusat perhatian pengunjung mall. Salma sangat paham apa yang dipikirkan orang orang setelah melihat mereka.
Sesampainya ditoko perlengkapan bayi, Salma sibuk melihat lihat baju baju bayi dan tanpa sadar suaminya tidak berada didekatnya.
"Mas... Ini ...." Ucap Salma menengok kebelakang ternyata tak ada suaminya.
Salma bingung melihat kearah kanan kiri mencari suaminya. Dia berjalan mengelilingi toko mencari suaminya. Dan betapa terkejutnya Salma ketika melihat Burhan bersama Fitri dengan mesranya sedang memilih sepatu bayi. Badan Salma tiba tiba mematung tanpa bisa berbuat apa apa. Airmatanya kembali menetes.Tanpa berpikir panjang Salma langsung berlari keluar mall karena tak ingin melihat kemesraan suaminya dengan madunya itu.
Salma tak memberitahu Burhan bahwa dia pergi meninggalkan mereka. Karena Salma merasa bahwa Burhan sudah lupa kalau disana ada istri sahnya.
Beberapa saat kemudian, Burhan sadar dia tak melihat Salma daritadi.
"Ada apa Mas?" Tanya Fitri bingung.
"Aku lupa kalau kita kesini juga bersama Salma." Jawab Burhan mulai gelisah karena tak melihat Salma sedari tadi.
Fitri juga mulai gelisah melihat sekeliling mall dan tak melihat Salma.
"Coba Mas telepon mbak Salma." Suruh Fitri.
Tanpa menjawab Fitri, Burhan mengeluarkan ponselnya dan beberapa kali mencoba menghubungi Salma tetapi Salma tidak menjawabnya. Dengan perasaan yang tak menentu, Burhan langsung berjalan dengan cepat mengelilingi mall mencari istrinya. Fitri hanya diam dan mengikuti Burhan kemanapun dia pergi.
"Mas jangan terlalu cepat. Aku tidak bisa berlari karena sedang hamil besar." Teriak Fitri sambil memegangi perutnya yang mulai nyeri karena harus berlari mengikuti Burhan.
Burhan yang sadar dengan keadaan Fitri, langsung berhenti dan berbalik arah kearah Fitri. Burhan memegang tangan Fitri dengan rasa khawatir.
__ADS_1
"Kamu tidak apa apa?" Tanya Burhan dengan rasa gelisah dan khawatir.
"Aku tidak apa apa mas, hanya tidak kuat lagi buat berjalan." Jawab Fitri.
"Ya sudah kita istirahat dulu saja. Kita duduk disana." Ajak Burhan.
Sementara itu dirumah, Salma hanya menangis mengingat bahwa suaminya lebih memperdulikan istri pura puranya daripada dia. Salma merasa dia sekarang sudah menjadi orang asing untuk suaminya. Setiap hari, hanya Fitri yang dia perhatikan dan khawatirkan. Salma merasa bahwa sekarang dia menjadi orang ketiga diantara mereka.
Satu jam kemudian Salma mendengar suara mobil Burhan. Cepat cepat dia menghapus airmatanya dan pura pura tertidur. Salma mendengar suara pintu kamar terbuka.
"Sayang! Kenapa kamu pulang duluan enggak ngasih tau aku." Ucap Burhan berjalan jearah Salma.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Salma dengan nada suara lemah.
"Aku sangat mengkhawatirkan kamu. Kenapa kamu aku telepon berulang kali gak kamu angkat?" Tanya Burhan lembut.
"Maafin aku. Aku tadi merasa pusing jadi langsung pulang dan lupa memberitahu kamu. Dan hp ku aku silent jadi gak tau pas kamu telepon." Jawab Salma mencari alasan menutupi kekecewaannya.
"Kamu sudah minum obat?" Tanya Burhan khawatir.
"Sudah! Aku rindu kamu yang seperti ini. Yang selalun mengkhawatirkan aku dan perhatian sama aku." Ucap Salma dengan senyum masam.
"Kamu ngomopng apa sih. Aku selalu seperti ini buat kamu. Hanya kamu yang paling penting buat aku dan selamanya akan tetap begitu." Jawab Burhan dengan mengelus rambut Salma.
Salma spontan memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Burhan.
"Ya sudah aku masih sedikit pusing. Aku mau beristirahat lagi." Ucap Salma dan langsung berbalik badan membelakangi Burhan.
Buryhan hanya terdiam tak mengerti dengan sikap istrinya yang menjadi dingin kepadanya. Burhan berpikir apa kesalahan yang sudah dia perbuat kepada istrinya tersebut.
"Ya sudah kamu istirahat dulu. Aku mau mandi dulu kemudian aku juga mau beristirahat." Ucap Burhan lembut dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah mandi Burhan berbaring disamping istrinya dan memeluknya dari belakang. Salma dengan mata tertutup meneteskan airmatanya karena dia sangat merindukan suaminya yang seperti ini. Salma hanya diam tak menolak ataupun merespon pelukan suaminya. Karena sejujurnya didalam hatinya dia sangat merindukan kehangatan yang seperti ini dari suaminya.
__ADS_1