Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
SANG PENGGODA


__ADS_3

Keesokan harinya...


Burhan bersiap siap pergi ke kantor. Setelah usai bersiap, Burhan keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga..


"Burhaaan!" Panggil seorang wanita yang jelas suaranya sangat tidak asing.


Burhan menghentikan langkahnya setelah mendengar teriakan memanggil namanya. Burhan mencari cari arah suara tersebut berasal.


"Vania? Untuk apa dia datang pagi pagi. Bikin Salma salah paham saja." Batin Burhan tak senang.


Ya.. Suara wanita yang memanggilnya adalah suara Vania. Vania tersenyum senang kearah Burhan setelah melihat Burhan. Burhan membalas senyum masam kepada Vania.


Salma yang baru keluar dari kamarnya, heran kenapa sang suami berhenti ditengah tangga.


"Mas..!" Panggil Salma sambil berjalan kearah Burhan.


Burhan tak menyahut.


"Kenapa berhen...ti di ....." Tanya Salma lagi terbata bata setelah melihat Vania sudah menunggu di meja makan bersama orang tua mertuanya.


"Kenapa Vania datang lagi? Untuk apalagi dia datang?" Tanya Salma dalam hati memperhatikan Vania.


"Ehh.. Sayang! Ayo turun bersama." Ajak Burhan tersenyum kearah Salma. Burhan menggandeng tangan Salma dan menuruni tangga bersama.


Salma hanya menurut ajakan suaminya dan berjalan disampingnya.


"Pagiiii Burhan!" Sapa Vania dengan senyum manisnya setelah Burhan sampai di meja makan.


"Pagi!" Balas Burhan dingin.

__ADS_1


"Duduk sini." Ucap Salma sambil memukulkan tangannya di kursi sebelahnya.


Tetapi Burhan tak menghiraukannya. Burhan duduk di samping Salma.


Vania menarik nafas dan membuangnya.


"Burhan! Kamu mau makan apa biar aku ambilkan." Ucap Vania merayu Burhan.


"Biarkan Salma saja yang mrngambilkan aku makan.." Jawab Burhan.


"Oke!" Balas Vania memilih mengalah.


Salma tersenyum kepada Burhan dan mengambilkan nasi serta lauk untuk suaminya.


"Ini Mas!" Ucap Salma meletakkan piring berisi nasi dan lauk di depan Burhan.


"Iya Mas." Balas Salma yang tau bahwa Burhan sengaja mengumbar kemesraan didepan Vania.


Vania yang melihat kemesraan Salma dan Burhan menjadi muak. Vania melihat dengan tatapan tajam karena merasa kesal.


Lagi lagi Vania menghela nafas dan membuangnya kasar.


"Vania! Kamu makan yang banyak ya. Tidak perlu sungkan." Ucap Ibu Burhan.


"Iya Tante." Balas Vania tersenyum manis ke Ibu Burhan.


***


Setelah selesai sarapan, seperti biasa Salma mengantar kepergian Burhan yang hendak berangkat ke kantor sampai di depan pintu.

__ADS_1


"Hati hati ya Mas." Ucap Salma mencium tangan Burhan.


"Burhan!" Panggil Vania.


Burhan menatap kearah Vania.


"Aku nebeng kamu ya. Aku ada urusan didekat kantor kamu." Ucap Vania memohon memegang lengan Burhan.


"Iya Burhan! Daripada Vania harus nunggu taksi kelamaan. Lagian kan searah." Ucap Ibu Burhan membela Vania.


Burhan tak menjawab. Hanya menatap Salma. Salma tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Iya deh!" Jawab Burhan masuk ke kursi kemudi.


"Tante, Om, Vania pergi dulu ya. Nanti Vania mampir lagi." Pamit Vania sopan.


"Iya sayang! Kamu sering sering main kesini ya biar Om dan Tante nggak kesepian." Ucap Ibu Burhan.


"Siap Tante." Balas Vania masuk kedalam mobil dan duduk depan disebelah Burhan.


Burhan menyalakan mobilnya dan menjalankannya. Sedangkan Salma hanya diam dan tertegun.


"Andai ya Pa menantu kita tuh Vania, Pasti Mama nggak akan kesepian seperti ini. Sudah orangnya cantik, sopan dan pengertian lagi. Nggak seperti dia." Ucap Ibu Burhan dengan mata melirik Salma.


Salma hanya diam tak menghiraukan ucapan Ibu mertuanya.


"Ma! Sudah ayo masuk." Ucap Ayah Burhan mengajak istrinya masuk rumah agar tak sembarangan bicara didepan Salma.


Salma menarik nafas dan membuangnya kasar. Salma memilih tetap diluar rumah untuk merasakan udara segar di pagi hari.

__ADS_1


__ADS_2