
Eran dan Sisilia berbaring berpelukan, mereka saling bertukar pandangan gimana nanti setelah mempunyai omongan.
Dan keduanya mengungkapkan rasa bahagianya karena sebentar lagi akan dikaruniai buah cinta mereka, sesuatu yang sesungguhnya tidak terduga akan secepat ini. Padahal Sisilia pun. memakai kontrasepsi. Karena dia masih was-was dengan ancaman dari ibu mertua.
Sebenarnya kini pun dia merasa sangat was-was, khawatir kalau Puan Nandita membuktikan ancamannya serta berbuat sesuatu yang tidak di inginkan.
Malam semakin larut. Beranjak pagi. Eran dan Sisilia lelap dalam tidurnya.
Kini Sisilia sudah membuat susu bumil dan siap meminumnya semasih hangat.
"Kau, sudah meminum susu numil! berharap sehat bayi mu, saya sumpahin mati di dalam perut." Puan Nandita berkata tidak mencerminkan orang tua yang baik.
"Astagfirullah ... Ibu ... kenapa bilang seperti itu? Ibu itu Oma nya tidak pantas mengatakan demikian." Sisilia tercengang mendengarnya. Sambil celingukan kanan dan kiri yang kebetulan tidak ada siapa-siapa.
"Saya tidak perduli, karena saya tidak pernah menginginkan kehadiran anak itu." Ketusnya Puan Nandita sambil menggerakan matanya ke arah perut Sisilia yang masih rata tersebut.
"Ya ampun Ibu ... jangan mendoa kan seperti itu, karena ini cucu Ibu dan tidak akan pernah terpisahkan dari keturunan keluarga Ibu." Sisilia menggeleng.
"Saya tidak yakin kalau dia anak Eran, siapa tahu itu anak selingkuhan mu." Tambah Puan Nandita lagi seanak hari bicaranya.
"Astagfirullah! Ibu, demi Allah aku tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh dengan pria lain selain suami sendiri--"
"Ya kan hak itu sudah tidak aneh lagi mungkin buat kamu." Puan Nandita memotong perkataan Sisilia.
Sisilia mengatupkan bibirnya, terdiam dengan pandangan yang nanar. Hatinya terasa sakit banget mendengar perkataan yang tidak terpuji dari sang mertua.
Puan Nandita mulutnya sudah mulai menganga. Mungkin dia akan berkata kembali namun kubur datang Eran dari tangga menghampiri mereka berdua.
"Pagi sayang, pagi Ibu? inilah kedua bidadari aku yang sangatlah cantik!" Eran kemudian datanglah Rika yang membawakan bubur permintaan Sisilia.
"Mau ke butik hari ini?" Eran melirik ke arah sang istri yang sedang meneguk minumnya.
Sisilia merasa sakit tenggorokan karena dada pun yang terasa sesak, karena omongan puan Nandita masih terngiang-ngiang di telinga maupun di pikirannya. Hatinya ingin sekali menangis menjerit tapi tidak ingin dilihat oleh sang suami.
"Iya, aku akan ke butik. Karena banyak pesanan yang belum aku realisasikan." Sisilia menunduk dan mengambilkan sarapan buat suaminya.
__ADS_1
"Jangan terlalu capek ya? jaga kesehatan, kehamilannya." Pesan Eran sambil memegangi tangan sang istri.
"Iya, aku akan jaga diri kok, jangan khawatir." Sisilia ternyum pada Eran.
"Padahal istirahat saja di rumah." Kata Puan Nandita sambil sedikit melirik sinis.
"Aku sehat-sehat saja, jadi tidak ada masalah bila aku bekerja seperti biasa." Jawabnya Sisilia.
"Lagian ... Lebih banyak beraktifitas bagi ibu hamil itu lebih sehat." Tambah nya Eran.
Sisilia pun mengangguk membenarkan perkataan dari sang suami.
Kemudian mereka pun sarapan, dan Eran merasa heran kalau di meja makan tak kunjung juga sang ayah satang buat sarapan.
"Ayah mana?" tanya Eran pada sang bunda yang sedang menikmati sarapannya.
"Ayah ... tidak pulang, katanya ada urusan mendadak menjadikan dia tidak pulang!" jawab sang bunda dengan santainya.
"Kok sampai tidak pulang segala sih ayah? apa keluar kota? atau ..." Eran melirik pada sang istri yang juga melihat ke arah dirinya.
"Apa mungkin ayah sama wanita itu? Wanita yang kemarin di Mal!" Batin Sisilia tanpa di ucapkan nya.
"Iya, aku mau ambil tas dulu sebentar, tas mu juga belum di bawa kan?" Sisilia beranjak dari duduknya.
"Belum, Oya jam tangan pun belum ku bawa." Jawabnya Eran sambil mengusap mulutnya dengan tisu.
"Ibu. Aku mau berangkat dulu berkerja." Eran berpamitan pada sang bunda.
Sisilia berjalan menaiki anak tangga untuk ke kamar mengambil tas miliknya dan milik Eran.
Sejenak Sisilia berdiri di kamar dengan entah apa yang dia pikirkan. Sembari mengusap perutnya dengan bibir komat-kamit. "Amit-amit."
Lalu tangannya menyambar tas dia dan Eran, berjalan keluar dari kamar menuruni kembali tangga. Di bawah tidak ada siapa pun. Bahkan sang suami pun sudah tidak ada di tempat.
Sambil berjalan mata Sisilia celingukan dan tidak melihat ada anak tangga yang licin sehingga kaki Sisilia terpeleset ke tangga lainnya, untung saja tangan Sisilia memegangi pagar tangga dengan kuat dan berusaha untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Sehingga dia masih tetap berdiri dengan senam jantung yang di rasakan.
__ADS_1
"Astagfirullah ... hampir saja aku terjaruh!" mengusap dadanya.
Melihat tangga yang licin. "Ya ampun ... terima kasih ya Allah ... kau masih menjaga ku dan menjauhkan ku dari mara bahaya."
Lalu dengan hati-hati. Sisilia menuruni anak tangga sampai akhirnya menapakkan kakinya ke lantai dasar, terus berjalan keluar melintasi pintu utama.
Di teras ada Puan Nandita dengan bersantai di sofa. Melihat intens ke arah Sisilia yang baik-baik saja. Dari kepala sampai kaki ditatap dengan meneliti.
Sisilia tersenyum melihat suaminya yang sudah menunggu di mobil. Lalu melihat ke arah ibu mertua yang bengong. "Bu ... aku pergi dulu!"
"Iya!" gumamnya Puan Nandita dengan jari yang merasa heran.
Lanjut Sisilia memasuki mobil Eran yang sudah terbuka tersebut. "Ini tas mu," Sisilia memberikan tas Eran.
"Makasih sayang?" sambil melirik dan fokus ke depan memutar setir. Merayap keluar pagar meninggalkan tempat tersebut.
"Ingat ya, jangan terlalu capek dan jangan terlalu stres. Demi kesaham kalian berdua." Pasan Eran pada sang istri seraya melirik sekilas.
"Aku ... boleh gak kalau ..." Sisilia tidak meneruskan perkataannya.
"Kalau apa? bicara saja. Gak perlu ragu sayang ..." Eran penasaran dengan perkataan sang istri yang menggantung.
"Em ... boleh gak? kalau aku lebih banyak di butik!" sambung Sisilia sembari menyandarkan bahu ke kursi belakang.
"Sayang, kenapa? apa tidak suka kalau ibu bersama kita?" selidik Eran. Ibu itu ibu aku ibu kamu juga. Apalagi kamu kan tidak punya ibu jadi seharusnya menjadikan ibu sebagai ibu mu juga!" Ucap Eran dengan nada aneh.
"Bu-bukan begitu. Aku juga menganggap ibu sebagai ibu aku sendiri kok. Cuma aku pengen saja suasana lebih tenang seperti di butik. Bukan tidak mau ada ibu dan jangan salah faham juga." Sisilia mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
Eran terdiam sambil memandangi ke depan di mana dia harus hati-hati dalam melajukan mobilnya.
"Aku juga kalau di ijin kan kok ... kalau nggak sih tidak apa! aku akan menuruti kehendak mu." Tambahnya Sisilia.
Eran melirik sekilas pada sang istri yang melepas pandangan keluar jendela. "Aku sih ijinin kalau untuk sekedar satu malam menginap. Why not,"
"Jadi ... kalau menginap satu malam! boleh saja ya? oke malam ini aku akan menginap! kamu mau menginap juga di sini!" Sisilia menunjuk ke arah butik karena mobil Eran sudah berada di depan butik ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa dong dukungannya. makasih.