Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
IRI


__ADS_3

"Lihatlah, siapa yang datang? Kesayangan tante." Teriak Ibu Burhan dengan senangnya.


"Tanteeee...!" Balas teriak Vania menghampiri Ibu Burhan dan memeluknya.


"Kamu lama tidak kelihatan, apakah tidak kangen sama Om dan Tante?" Tanya Ibu Burhan melepaskan pelukan Vania.


"Sebenarnya Vania sangat kangen Tan. Tapi mau gimana lagi, sudah mulai sibuk ngurusin bisnia Papa." Jawab Vania dengan senyum ramahnya.


"Wahhh udah benar benar dewasa ini anak." Balas Ibu Burhan.


"Hehe.." Vania hanya tersenyum.


"Ayo duduk!" Ajak Ibu Burhan menuju sofa ruang keluarga.


Sejak orang tua Burhan dan orang tua Vania menjodohkan anak mereka, orang tua Burhan menganggap Vania sebagai keluarga sendiri. Meskipun perjodohannya gagal, tetapi orang tua Burhan tetap menyukai Vania. Mereka tetap menganggap bahwa Vania lah yang pantas mendampingi anaknya, Burhan.


"Bagaimana keadaan Mama dan Papa?" Tanya Ibu Burhan menanyakan tentang orang tua Vania.

__ADS_1


"Mama dan Papa sehat Tante. Mereka tetap saja sibuk mengurusi bisnis. Meskipun Vania sudah banyak membantunya." Jawab Vania sedikit bercanda menyombongkan dirinya.


"Hahaha..! Memang dari dulu begitu. Saat masih muda Papamu sudah seorang pekerja keras." Balas Ayah Burhan tertawa.


Semua tertawa dengan senangnya.


Salma yang melihat keakraban mereka seketika mematung tak berdaya. Rasa iri membuat hatinya serasa dicabik cabik dan disayat dengan pisau yang amat sangat tajam.


"Nyonya, Anda tidak apa apa?" Tanya Art yang membawa nampan untuk disajikan keruang keluarga.


"Ohh! Aku tidak apa apa Bi. Antarkan ini untuk mereka." Ucap Salma menyuruh Art untuk menyajikan camilan dan minuman yang dibawanya.


Salma merasakan hatinya semakin sakit. Dia menegang dadanya yang terasa nyeri. Salma memilih pergi ke kamar untuk beristirahat.


***


Di ruang keluarga..

__ADS_1


Vania dan orang tua Burhan sedang asik mengobrol. Sesekali tawa mereka terdengar sampai ke kamar Salma. Salma hanya membayangkan betapa bahagianya dan asiknya obrolan mereka tanpa bisa ikut menikmatinya.


"Tante, jam berapa biasanya Burhan pulang?" Tanya Vania tiba tiba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Biasanya sih jam 4. Tapi kalau ada meeting sama klien bisa sampai malam. Kenapa? Kamu kangen ya?" Jawab Ibu Burhan menggoda Vania.


"Ihh Tante apaan sih? Burhan sudah punya istri loh. Nanti kalau istrinya salah paham gimana coba?" Ucap Vania tersenyum malu.


"Tante lebih suka kamu yang menjadi istri Burhan daripada istrinya yang sekarang. Kamu sudah cantik, baik, berpendidikan, mempunyai karir yang bagus. Kriteria istri yang sempurna. Dibanding dengan wanita itu , dia nggak ada apa apanya." Ucap Ibu Burhan menyanjung Vania.


"Ehh Tante, jangan gitu nggak enak kalau dia dengar. Mau bagaimanapun dia tetap istri sahnya Burhan dan sekarang sedang mengandung anak Burhan, cucu Tante." Balas Vania tetap ramah.


"Iya Ma. Hati hati kalau bicara." Balas Ayah Burhan.


"Memang kenyataannya." Gumam Ibu Burhan tak senang.


Salma terasa dikhianati oleh keluarga suaminya sendiri. Meskipun hanya mendengar obrolan dengan samar samar, tetapi dia tau pasti orang yang dijelek jelekkan Ibu Burhan adalah dirinya. Meskipun semua sudah tampak jelas, tetapi ini lebih menyakitkan karena dirinya dijelek jelekkan di depan wanita yang dulu pernah dekat dengan Burhan, suaminya.

__ADS_1


Salma membaringkan tubuhnya dan menutup telinganya dengan bantal agar tak mendengar satupun obrolan mereka yang menyayat hatinya.


__ADS_2