Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
KESALAHPAHAMAN


__ADS_3

Keesokan harinya...!!!


Salma terbangun dari tidurnya. Dia melihat kearah sebelahnya, masih ada suami yang sangat dicintainya memejamkan matanya. Rasa sedih menyelimuti hatinya, entah rasa cemburu atau rasa takut kehilangan yang saat ini dia rasakan.


Salma menatap suaminya dalam dalam. Tangannya menyentuh lembut pipi sang suami. Tak terasa airmatanya mengalir tanpa henti.


"Mas aku harus bagaimana? Apakah aku harus merelakanmu atau mempertahankanmu? Jika ingin merelakanmu, apakah aku sanggup melepaskanmu. Tapi jika aku mempertahankanmu, pertahananku semakin melemah setiap kali aku melihatmu dengan wanita yang pada kenyataannya akan memberimu keturunan. Aku tau itulah yang selama ini kamu harapkan dari pernikahan kita. Tapi aku sadar bahwa aku tak mampu mengabulkan harapanmu." Batin Salma yang masih menatap suaminya dalam dalam. Suami yang mungkin semakin jauh dan semakin lama hanya menjadi sebuah status didepan keluarga dan dunia.


Salma menghapus airmatanya, takut suaminya akan melihatnya menangis. Dia hanya berpikir keputusan apa yang akan dia ambil untuk hubungannya bersama suaminya.


Salma duduk dikasur dan menyandarkan tubuhnya diujung tempat tidur. Dia menunggu suaminya bangun dan memainkan ponselnya. Menggeser geser menu kekanan dan kekiri. Matanya melihat ponselnya tetapi hatinya berfikir entah kemana. Dia berada didalam dilema yang sulit untuk dipecahkan.


"Aku harus bagaimana? Jika aku harus ikhlas, mungkin itu akan sulit. Tapi jika aku tak ikhlas, itu sakit. Jalan mana yang harus aku ambil sebagai jalan keluar?" Batin Salma berfikir keras. Salma semakin gelisah. Dia sesekali menggigit bibirnya sendiri karena merasa bingung.


Tidak lama kemudian, Salma sadar bahwa suaminya terbangun dari tidurnya. Burhan membuka mata dan melihat kearah Salma dengan mata kriyip.


"Kamu sudah bangun sayang?" Tanya Burhan dengan suara serak khas orang yang bangun tidur. Burha menggaruk lehernya karena gatal.

__ADS_1


"Sudah!" Jawab Salma dengan senyum masam menyembunyikan rasa gelisahnya.


"Kenapa kamu tak membangunkan aku?" Tanya Burhan masih dalam posisi yang sama.


"Tidurmu terlihat sangat nyenyak, jadi aku sengaja tidak membangunkan kamu."Jawab Salma sekenanya.


"Ya sudah! Aku mau mandi dulu." Ucap Burhan beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


"Mas! Apakah kamu sudah mulai mencintai Fitri?" Tanya Salma tiba tiba karena tak ingin berprasangka buruk kepada suaminya.


"Kenapa tiba tiba kamu mempunyai pertanyaan seperti ini? Kamu tidak percaya lagi sama aku?" Tanya Burhan tak mengerti dengan jalan pikiran istrinya.


"Bukannya aku sudah tidak percaya sama kamu mas. Aku hanya bertanya apakah kamu sudah mulai mencintai Fitri? Kamu tinggal menjawab iya atau tidak!" Ucap Salma menahan airmatanya agar tidak keluar.


"Kamu jangan berfikir yang macam macam. Aku sudah pernah bilang sama kamu kalau aku hanya akan mencintai kamu dalam hidup aku dan aku tak menginginkan yang lain. Aku cuma mau kamu. Aku tidak ingin kamu bertanya seperti ini lagi. Jawaban aku sudah pasti tidak." Terang Burhan meyakinkan Salma.


"Tapi mas, melihat dengan apa yang kamu lakukan ke Fitri, perhatianmu ke Fitri, wanita mana yang tak berfikir hal yang sama seperti aku? Wanita mana yang akan selalu berfikir positif setiap kali melihat suaminya lebih mementingkan wanita lain yang mungkin lebih sempurna daripada dia?" Tanya Salma yang sedari tadi mempertahankan airmatanya agar tidak keluar.

__ADS_1


Tetapi akhirnya setelah dia mengeluarkan semua pertanyaan yang ada dihatinya, pertahanannya jebol juga. Airmatanya mengalir dengan derasnya tanda bisa dia bendung. Burhan yang melihat istrinya menangis karenanya ikut merasakan betapa sedih dan takutnya hati sang istri. Tak tega melihatnya seperti ini, Burhan cepat cepat menghampiri istrinya dan memeluknya erat.


"Maafkan aku sayang! Aku tidak tahu kalau yang aku lakukan akan menyakitimu seperti ini. Aku tidak tahu semua yang aku lakukan akan menimbulkan pertanyaan seperti ini dihatimu. Tapi percayalah bahwa aku melakukan semua ini hanya agar calon anak kita sehat. Perhatianku hanya untuk calon anak kita bukan untuk Fitri. Aku benar benar tidak tau bahwa yang aku lakukan ini akan menyakitimu. Tapi aku mohon percayalah padaku." Terang Burhan yang juga menangis dipelukan Salma.


Mendengar jawaban Burhan, airmata Salma semakin mengalir entah dia merasa bersalah karena sudah berfikir negatif terhadap Burhan, atau karena dia belum sepenuhnya percaya terhadap semua yang dikatakan suaminya. Dia hanya mampu berharap bahwa semua yang diduganya itu salah. Dan apa yang dikatakan suaminya itu adalah faktanya.


Burhan melepaskan pelukannya dan jemarinya menghapus airmata Salma agar tidak menangis lagi.


"Percayalah kepadaku! bersabarlah sebentar lagi, sampai anak itu lahir. Kita akan bahagia seperti dulu bersama anak kita dan tidak ada lagi dia dikeluarga kecil kita. Kamu harus menungguku." Ucap Burhan menenangkan Salma.


Anehnya, setelah mendengar semua yang dikatakan Burhan mampu menenangkan hati Salma dan membuatnya berhenti menangis.


Salma memegang kedua tangan Burhan yang masih sibuk menghapus airmata Salma. Salma menatapnya dan tersenyum.


"Maafkan aku!" Ucap Salma dengan nada serak khas orang habis menangis.  Tangannya menggantikan tangan Burhan menghapus aitmatanya.


Burhan merasa lega karena Salma sudah tenang dan Iapun tersenyu setelah melihat istrinya tersenyum kepadanya. Tangan Burhan menegang kedua pipi Salma. Ciuman Burhan mendarat dikening Salma. Salma memejamkan matanya karena merasa nyaman dan tenang setelah merasakan ciuman Burhan.

__ADS_1


__ADS_2