
Dari rumah Fitri, Salma dan Burhan langsung pulang kerumah mereka. Terlihat Ibu dan Ayah Burhan sedang duduk mengobrol diruang keluarga dan menonton tv. Ibu Burhan menatap Burhan dengan penuh rasa penasaran kemana perginya mereka berdua seharian ini.
"Burhan, kamu baru pulang? Libur kerja seharian tidak ada dirumah kemana saja?" Tanya Ibu Burhan tanpa menghiraukan Salma disamping Burhan.
"Kamu dari rumah Fitri Ma. Kasihan dia sendiri dirumah tidak ada anggota keluarga yang menemani dia. Lagian dia sedang hamil." Jawab Burhan.
"Ohh!" Balas Ibu Burhan berpaling tak memperdulikan Burhan dan Salma lagi.
Melihat Ibunya tidak akan bertanya lagi padanya, Burhan mengajak Salma pergi kekamar untuk membersihkan diri.
"Ayo!" Ajak Burhan menarik tangan Salma.Salma hanya tetap diam seperti biasanya didepan Ibu mertuanya. Dengan menurut mengikuti Burhan dari belakang.
Sesampainya dikamar, Burhan merebahkan tubuhnya kekasur. Sedangkan Salma duduk ditepi kasur dengan rasa gelisah. Burhan yang mengetahui kegelisahan istrinya menjadi khawatir.
"Kamu kenapa? Apa yang kamu pikirkan? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Burhan menatap Salma dalam keadaan tubuhnya masih berbaring ditempat tidur.
"Tidak ada apa apa kok mas." Jawab Salma menggelengkan kepalanya dan tak berani menatap Burhan.
"Aku tidak percaya. Ada apa? Ceritakan?" Tanya Burhan lagi memaksa Salma untuk bercerita.
__ADS_1
"Tidak ada apa apa Mas. Mungkin aku hanya kelelahan saja." Jawab Salma tetap tak berani menatap mata Burhan.
"Kamu jangan bohong. Aku tau kamu berbohong saat ini. Setiap kamu berbohong kamu tak akan berani menatap mata aku. Dan sekarang kamu tak berani menatapku, itu artinya kamu sedang berbohong. Ceritakan ada apa?" Ucap Burhan tetap memaksa Salma menceritakan ada apa dengannya.
"Aku hanya takut saja Mas." Jawab Salma.
"Apa yang kamu takutkan?" Tanya Burhan lagi.
"Aku takut bagaimana kalau Mama menyadari tentang kehamilanku ini palsu?" Ucap Salma balas bertanya.
"Kamu tenang saja, sebentar lagi semua akan berakhir. Dan tidak ada lagi yang perlu kamu takutkan." Jawab Burhan menenangkan Salma.
"Kamu tenang saja. Semua pasti akan baik baik saja selama kita menjaga rahasia ini dengan baik." Jawab Burhan tetap berusaha menenangkan hati Salma.
Sebenarnya Burhanpun merasa takut jika rahasianya terbongkar oleh keluarganya. Diapun tak berani membayangkan konsenkuensi dari kebohongannya.
"Kamu tau kan Mas, kebohongan kita ini tidak pantas untuk dimaafkan? Jika ketahuan apa yang akan terjadi dengan pernikahan kita?" Tanya Salma gelisah. Tanpa disadari air matanya mengalir begitu saja.
Melihat Salma menangis, Burhan bangun dan duduk didepan Salma.
__ADS_1
"Sudah! Kamu tidak usah memikirkan yang tidak tidak. Saat ini kita hanya perlu menjaga rahasia kita jangan sampai terbongkar oleh Mama dan Papa. Kita tetap harus menjaganya demi kelancaran hubungan kita." Ucap Burhan memegang bahu Salma dan meyakinkannya agar tetap tegar menghadapi semua ini.
"Aku takut Mas." Balas Salma gelisah.
"Kamu jangan takut. Ada aku disini. Selama ada aku, tidak ada yang perlu kamu takutkan." Jawab Burhan memeluk Salma.
Salma membalas pelukan Burhan erat karena rasa takutnya yang tak kunjung menghilang. Setelah merasa Salma telah sedikit tenang, Burhan melepaskan pelukannya dan menyuruh Salma mandi agar lebih segar.
"Mandilah. Agar pikiranmu lebih segar." Ucap Burhan menyuruh Salma mandi.
Salma hanya menganggukkan kepalanya.
"Apa perlu mandi bersama?" Goda Burhan.
"Massss!" Teriak Salma merasa kesal.
"Iya iya maaf! Mandilah. Aku akan berbaring sebentar dan mandi setelahmu." Ucap Burhan tersenyum manis.
Salma peranjak pergi kekamar mandi untuk mandi, saedangkan Burhan kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya menunggu Salma selesai mandi. Setelah Salma selesai mandi, gigliran Burhan untuk mandi.
__ADS_1
Setelah mereka selesai mandi, mereka keluar untuk makan malam bersama keluarganya. Ayah dan Ibunya sudah menunggu mereka berdua dimeja makan.