Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
VANIA


__ADS_3

Dihari yang cerah, setelah sarapan seperti biasa Salma mengantar kepergian suaminya ke kantor. Salma mencium tangan Burhan dan melambaikan tangannya melepas kepergian Burhan.


Setelah mobil Burhan tak terlihat lagi oleh matanya, Salma masuk rumah dan duduk santai diruang keluarga sambil menonton tv. Melihat menantunya duduk diruang keluarga sendiri, Ayah mertuanya menghampirinya dan duduk didekatnya.


"Kamu nonton apa Salma?" Tanya Ayah Burhan mengawali obrolan mereka.


"Ini Pa, gosip." Jawab Salma tersenyum kearah Ayah Burhan.


"Pagi pagi sudah nonton gosip." Balas Ayah Burhan sembari mengambil koran dimeja.


Ayah Burhan membuka buka halaman koran dan sesekali membaca setiap judul dihalaman yang dibukanya. Sampai akhir halaman tak ada berita yang menarik, Ayah Burhan melipat kembali koran tersebut seperti semula dan meletakkannya dimeja.


"Bagaimana dengan kandungan kamu? Apakah baik baik saja?" Tanya Ayah Burhan.


Salma sedikit terkejut dengan pembicaraan Ayah Burhan yang tiba tiba bertanya soal kandungannya.

__ADS_1


"Ehm.. Ehmm.. Alhamdulillah sehat Pa." Jawab Salma gugup.


"Kamu harus jaga kesehatan, supaya kamu dan bayi yang ada dikandungan kamu sehat. Jangan terlalu memikirkan semua omongan Mama. Dia memang seperti itu." Ucap Ayah Burhan menasehati Salma.


"Iya Pa."Jawab Salma singkat. Salma ingin mengalihkan pembicaraan, tetapi dia tak tau apa yang harus dibicarakan dengan Ayah mertuanya itu. Salma tak ingin terus terusan berbohong jika Ayah mertuanya tetap membicarakan tentang kandungannya.


Beberapa saat kemudian, Salma mendengar seseorang mengetuk pintu dari luar.


"Pa aku buka pintu dulu ya. Sepertinya ada tamu." Pamit Salma meninggalkan Ayah mertuanya menuju pintu depan untuk membuka pintu.


"Vania?" Gumam Salma terkejut.


"Kenapa? Kaget? Biasa aja kali." Ucap Vania dengan centilnya. Tanpa disuruh masuk, Vania sudah berjalan masuk seperti rumahnya sendiri. Vania sengaja menabrak bahu Salma sampai Salma hampir terjatuh. Untung Salma bisa menyeimbangkan tubuhnya, jadi dia tak sampai terjatuh kelantai.


"Upss! Sorry!" Ucap Vania memandang Salma dengan senyum liciknya. Vania langsung meninggalkan Salma dan menuju ruang keluarga untuk mencari Ibu Burhan.

__ADS_1


Salma termenung sejenak dengan penuh rasa khawatir. Salma menarik nafas dalam dalam dan membuangnya dengan keras. Setelah tersadar, Salma menutup pintu dan masuk kedalam.


"Selamat siang Om." Sapa Vania setelah melihat Ayah Burhan duduk diruang keluarga sedang menonton tv.


"Selamat siang. Wah lihat siapa yang datang? Sudah lama kamu tidak main kesini?" Tanya Ayah Burhan dengan senyum senangnya.


"Hehe biasa Om, aku akhir akhir ini lagi sibuk ngurusin bisnisnya Papa." Jawab Vania dengan ramahnya.


Vania dan Ayah Burhan mengobrol dengan asiknya. Salma yang melihat keakraban mereka merasa iri. Dia hanya berdiri memperhatikan mereka.


"Ahh aku sangat iri dengan keakraban mereka. Papa memang tidak membenciku, tapi aku belum pernah melihat Papa sesenang itu saat mengobrol denganku. Dan belum pernah aku melihat Papa bisa tersenyum seperti itu." Batin Salma dalam hati. Lagi lagi Salma menarik nafas dan membuangnya keras untuk menenangkan hatinya.


Salma pergi ke dapur dan menyuruh Art untuk menyiapkan minum dan beberapa camilan untuk disajikan untuk tamunya.


Salma hendak keluar dari dapur, tetapi langkahnya terhenti melihat Ibu mertuanya menuruni tangga, dan tersenyum sangat senang.

__ADS_1


__ADS_2