Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
MUNDUR


__ADS_3

Terkadang Salma berpikir bahwa dunia mereka berbeda dengannya. Jalan yang di tempuhpun juga berbeda.  Semakin Salma memikirkan tentang semua perbedaan itu, dia semakin merasa tak pantas untuk Burhan. Dia pernah merasa dirinya seperti seorang cinderela yang menemukan pangerannya tanpa memandang statusnya, darimana asal usulnya. Hingga kenyataan menyadarkannya bahwa kisah cinderella hanya ada di negeri dongeng.


Semakin memikirkannya, Salma semakin tak kuasa menahan air matanya. Sampai dia tersadar dari mimpi yang selama ini di bangunnya. Menyerah adalah solusi yang terbaik yang dipikirkannya saat ini. Mengingat apa yang dilakukan Burhan terhadapnya semakin memperjelas pemikirannya bahwa dia memang bukan yang terbaik untuk Burhan. "Mungkin aku tak akan pernah bisa membahagiakannya jika tetap bersamanya. Jadi apa lagi yang aku harapkan darinya? Apa yang aku tunggu?". Pikirnya dalam hati.


Keesokan harinya dia memutuskan untuk menemui Burhan untuk memperjelas semua. Dia pergi ke kantor Burhan tak peduli apa yang akan terjadi. Sesampainya di kantor tak sengaja di bertemu dengan ayah Burhan. Spontan ayah Burhan sangat marah.


"ngapain kamu datang kesini?" kata ayah BUrhan dengan nada marah


"saya mau bertemu Burhan om." Jelas Salma


"Untuk apa kamu bertemu anak saya? Pergi kamu." Teriak ayah Burhan sambil mendorong Salma hingga terjatuh.


Salma hanya diam tak berkata apapun. Hingga seorang wanita datang dan membantunya berdiri. Dan ternyata wanita itu tak lain adalah seseorang yang tempo hari dilihatnya mesra bersama Burhan.


"Ada apa om? Kok sampai om kasar gini sama dia?" Tanya Vania tak mengerti apa yang terjadi.


"Ini dia parasit yang sudah mempengaruhi anak om. Sampai sampai dia berani melawan om." kata ayah Burhan sambil menunjuk kearah Salma dengam nada marah. Dan mendengar ucapan ayah Burhan Salma semakin tercabik hatinya. Merasa semakin tak pantas untuk Burhan. Dia hanya meneteskan air matanya.

__ADS_1


"kamu gak papa?" Tanya Vania menyanyakan kondisi Salma.


"Iya aku gak papa kok. terimakasih." Kata salma sambil mengusap air mata di pipinya.


Melihat Vania yang begitu baik dan perhatian, padahal ini pertama kali mereka bertemu, Salma semakin yakin bahwa Vania adalah wanita yang tepat untuk Burhan. Semakin membuat dia membulatkan tekat untuk menyerah.


"Kamu kesini mau bertemu Burhan? Yau udah mari aku antar." ajak Vania.


Setelah sampai di depan ruang kerja Burhan Vania hanya menunjuk ke arah pintu ruangan sebagai kode untuk Salma untuk masuk ke dalam ruangan itu. Melihat Salma membuka pintu, Burhan sangat terkejut, bagaimana Salma bisa sampai disini.


"Salma.. Ada apa kamu kesini? Tak biasanya kamu datang kesini." tanya Burhan


"Jangan bicara di sini. Ayo pergi cari tempat lain." ajak Burhan. Salma hanya mengangguk.


Burhan pergi kearah taman dan Salma mengikuti dibelakangnya.


"Ada apa?" tanya Burhan, tangannya memegang kedua pundak Salma

__ADS_1


"Aku mau ngomong sama kamu." kata salma dengan nada sedikit lirih. Sulit dipercaya olehnya, akan mengakhiri semua ini karena kehadiran orang ketiga.


Burhan mengarahkan Salma untuk duduk.


"Burhan, sebaiknya kita hentikan semua ini sampai disini. Aku tak mau ada yang terluka dengan hubungan kita. Semakin kita memikirkannya aku semakin yakin bahwa dunia kita memang berbeda." Terang Salma


"Apa maksud kamu?" Tanya Burhan memastikan


"Kamu ingin mengakhiri hubungan kita? Kenapa Ma?" Tanya Burhan dengan nada sedihnya. Sampai tidak di sangka Burhan meneteskan air mata.


"Aku merasa kita memang berbeda. Aku bukan yang terbaik untukmu. Semua tentang kita berbeda dan aku sadar akan hal itu. Kamu sudah menemukan wanita yang lebih baik dan mungkin dunia kalian sama." Terang Salma sambil menangis.


"Apa maksud kamu?" tanya Burhan semakin takut kalau sampai Salma tau kebersamaannya dengan Vania. Karena memang Burhan tak ingin kehilangan Salma.


"Aku doain semoga kamu bahagia bersamanya." Kata salma , lalu beranjak untuk pergi.


"Salma maafin aku." Burhan menarik tangan Salma.

__ADS_1


Salma hanya tersenyum dan melepaskan genggaman tangan Burhan. Lalu dia pergi ,meninggaalkan Burhan dengan hati yang tercabik cabik.


__ADS_2