Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
Berasa sahabat


__ADS_3

"Iya, boleh, dan aku juga akan menemani mu! ya sudah ... aku akan pergi bekerja dulu ya? jaga diri dan kesehatan!" cuph Eran mengecup pipi nya Sisilia kanan dan kiri lalu mencium bibirnya dengan durasi yang lama.


"Hati-hati ya?" suara Sisilia setelah Eran menjauhkan wajahnya dari Sisilia.


Sisilia mengangguk lalu melajukan mobilnya, setelah sang istri turun dan berdiri di pinggir dengan lambaian tangannya yang pada sang suami.


Lalu Sisilia memutar badannya dan berjalan mendatangi butik yang baru beberapa langkah saja. Beberapa asistennya datang dengan motornya masing-masing.


"Selamat pagi Nyonya?" sapa para asistennya.


"Pagi juga ... kalian barengan datang janjian ya?" Sisilia dengan nada ramah mengedarkan pandangan kepada mereka semua.


"Iya nih, kami janjian. Jadinya bisa barengan datangnya." Jawabnya Utari.


Kemudian mereka pun masuk ke dalam butik setelah Utari membukakan kuncinya. Dan semua memulai aktivitasnya dengan bersih-bersih terlebih dahulu. Ada yang nyapu, ada yang pel ada juga yang membereskan patung yang belum di pasang baju, yang membuka gorden juga.


Sementara Sisilia langsung duduk di depan mejanya dan kertas-kertas dan ballpoint di sela-sela jari. Lanjut dia mulai menggambar dengan sangat serius.


Rudi yang kini memotong bahan sangat fokus untuk memperhatikan gambar yang Sisilia berikan.


Mila pun begitu dia serius menjahit bahan gaun yang Sisilia rekomendasikan.


Sementara Utari dan Nadia bagian melayani pembeli dan menyiapkan pesanan online.


Jadi Sisilia fokus menggambar dan mengatur semuanya. Sisilia di sela-sela fokus menggambar dia sering merasa mual.


"Oek. Oek ..." dan langsung Sisilia ke toilet yang ada di lantai bawah.


Membuat Utari dan Nadia yang lebih dulu menjadi karyawan di sana, merasa panik dan menghampiri bosnya tersebut.


"Nyonya kenapa? sakit bukan? jangan kerja dong ...."


"Tidak, aku tidak kenapa-napa aku tidak sakit aku cuman terbawa ngidam saja." Jawabnya Sisilia sembari membuang ludahnya kembali.

__ADS_1


Utari dan Nadia saling berpandangan sambil tersenyum ikut bahagia. Mendengar majikannya sedang ngidam.


"Ooh jadi Nyonya sedang ngidam


... ya ampun, aku ikut senang!" Utari menutup mulutnya yang menganga ikut bahagia.


"Iya aku juga ikut ikut bahagia emang sudah berapa bulan?" selidik Nadia sembari menatap ke arah Sisilia yang kini sudah berdiri tegak sambil mengusap mulutnya dengan tisu.


"Sekitar 2 bulan tolong doain ya semoga sehat semuanya aja kadang aku jadi takut dan was-was!" ucapnya Sisilia sampai keluar dari toilet.


"Iya dong ... kami doain semoga semuanya sehat, bayinya pun mulus!" jawabnya Utari.


"Emangnya takut dan was-was kenapa nyonya?" Nadia mengerutkan keningnya tidak mengerti dan penasaran apa yang menjadi ketakutan Sisilia tentang kehamilannya.


"Aku takut kehamilan aku banyak halangannya. Banyak cobaannya, apalagi sampai kenapa-napa, aku jadi was-was kuatir!" Sisilia menjadi menerawang, dia terus terngiang dengan omongan sang ibu mertua yang mendoakan sesuatu yang bukan-bukan terhadap janin yang ada di kandungannya.


"Kalau menurut kami sih buang semua pikiran jelek itu, kita percayakan saja sama yang maha kuasa dan berdoa semoga bukan yang terbaik." Sambungnya Utari.


"Iya benar dan jangan mendengarkan kata-kata yang buruk, kita positif thinking saja bahwa yang mengatur itu bukan manusia tapi yang maha kuasa ya kan, Utari?" tambahnya Nadia.


"Makasih ya buat kalian yang memberikan super penuh pada aku? dan sebenarnya aku nggak begitu betah di rumah itu masalahnya--" Sisilia menggantungkan ucapannya.


Membuat kedua asistennya itu berasa tambah penasaran.


"Masalahnya apa nyonya?" Utari mengerutkan keningnya begitupun dengan Nadia mengangguk pengen tahu kelanjutan perkataan dari Sisilia.


"Em ... enggak ach, enggak kenapa-napa! juga nanti dibilangnya membuka aib. Sudahlah nggak pa-pa. Anggap saja aku nggak pernah ngomong apa-apa ya!" Sisilia membebaskan tangannya lalu berjalan mau kembali ke meja kerjanya.


"Ooh, kalau aku sih menduga ya! kalau nyonya itu nggak betah di sana, bukan karena rumahnya atau gimana-gimana. Tapi karena adanya campur tangan mertua kan?" Utari menduga-duga.


"Bukan campur tangan sih


... sebenarnya. Cuman gimana ya, untuk menjelaskannya! Intinya itu mereka kurang setuju kali ya? aku dan putranya menikah denganku yang cuman anak panti, sementara mereka inginkan putranya menikah dengan seorang anak bangsawan!" ungkap Sisilia.

__ADS_1


Utari dan Nadia menggelengkan kepalanya, dia sih sudah menduga dengan sikap mertua Sisilia yang tidak adil terhadap Sisilia sebagai bosnya.


Mereka berdua yang sudah menduga pun tidak berani ngomong ataupun berasumsi.


"Sebenarnya sih, aku sudah menduga dari mula juga. Kalau orang tuanya itu agak jahat." Utari menduga.


"Aku sih tidak menyalahkan mereka ya? karena aku juga sadar diri karena aku seperti apa, aku sadar kalau cuman orang biasa yang mendapatkan suami sebagai bangsawan di Negeri ini!" akunya Sisilia.


"Tapi Nyonya, kalau seandainya harga diri kita diinjak-injak banget sama mertua ya lawan saja. Kita juga punya harga diri kok! lagian kan ini mungkin emang sudah jodoh bukannya pernikahan yang dipaksakan!" ungkapnya Utari kepada Sisilia.


"Iya bener, bukannya paksaan dan kalian saling mencintai, hingga akhirnya menikah! bukan pernikahan yang dipaksakan bukan? memang suka sama suka. Saling menyayangi," tambahnya Nadia.


"Iya benar, kami saling menyayangi dan dari awal juga sudah bilang. Gimana kekurangan aku yang nggak punya orang tua cuma tinggal di panti, hanya orang biasa! tapi suamiku kekeh ingin menikahi aku, hingga akhirnya aku dibawa ke Negeri ini. Dan ternyata orang tuanya nggak suka sama aku." Sisilia menaikkan kedua bahunya.


"Kalau aku sih seandainya diperlakukan yang tidak-tidak oleh orang tua suami. Aku lawan deh. Dan bila perlu kutinggalkan deh dalam artian tidak ingin serumah dengan mertua! ibaratnya mendingan ngontrak deh yang penting berdua, daripada bersama mertua yang tidak suka sama kita yang otomatis menyakiti kita sebagai mantunya." Ujarnya utari panjang lebar.


"Yaps. Benar itu jadi wajar jika Nyonya lebih betah di sini ketimbang di rumah mewah yang ada mertua serta sikapnya seperti singa wow! takut!" ucapnya Nadia.


"Makanya aku minta doa dari kalian berdua! agar aku kuat, tegar menghadapinya. Apalagi saat ini aku sedang hamil kan? semoga yang maha kuasa selalu menjagaku melindungi menjauhkan ku dari segala marabahaya." Sisilia penuh harap.


"Aamiin ... pasti kami akan mendoakan yang terbaik buat Nyonya Dan juga tuan. Bila perlu kami pun akan menjaga nyonya dari nenek sihir itu," ucapnya Utari.


"Jangan-jangan penculikan itu pun ada dalangnya dan dalamnya mertua sendiri, wiih ngeri." Tambahnya Nadia.


"Hus! jangan suudzon pamali, kita berpikir yang positif saja! nanti takutnya menjadi fitnah!" ucap Sisilia.


"Tapi Nadia bener juga sih, yang kamu katakan itu siapa tahu memang seperti itu ya? karena kan ingin memisahkan nyonya sama Tuan gitu kan?" Utari malah membenarkan kecurigaan Nadia terhadap Puan Nandita, atas penculikan Sisilia waktu itu.


"Sudah-sudah, tuh ada beberapa pembeli layani sana, aku juga akan bekerja kembali," Sisilia menunjuk kepada beberapa orang yang baru saja datang.


Utari dan Nadia berjalan menghampiri pengunjung butik dan Sisilia siap berkutat kembali di meja kerjanya ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Makasih masih.


__ADS_2