Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
MENGERTI


__ADS_3

Setelah kejadian kesalahpahaman kemarin, Salma memutuskan untuk sepenuhnya percaya dengan apapun yang dilakukan Burhan, suaminya. Salma tak pernah menyesali apa yang telah terjadi kemarin, karena dengan kejadian itu, dia menjadi tau apa yang sebenarnya ada dihati Burhan. Meskipun dia sempat merasakan sakit dihatinya.


"Mas, kamu bekerja hari ini?" Tanya Salma setelah melihat suaminya keluar dari kamar mandi masih memakai handuk.


"Iya. Kamu ada acara hari ini?" Tanya balik Burhan.


"Ehhhmmm tidak mas. Aku hanya dirumah saja. Palingan kerumah Fitri Mas. Boleh kan?" Tanya Salma.


Burhan sedikit terkejut mendengar perkataan Fitri.


"Kamu tidak apa apa?" Tanya Burhan khawatir.


"Enggak apa apa mas. Kan dia calon anakku juga. Jadi kalau kamu bekerja biar aku yang membantu Fitri menjaganya." Ucap Salma dengan tersenyum yakin.


"Ya udah nggak apa apa kalau kamu baik baik saja. Lagian kasihan juga dia karena disini dia nggak kenal siapa siapa." Ucap Burhan.


"Iya Mas! Aku akan kesana setelah kamu berangkat kerja." Ucap Salma.


Salma menghampiri Burhan dan membantunya memakaikan dasi. Burhan tersenyum melihat istrinya yang soibuk memakaikan dasi untuknya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Salma.


"Tidak apa apa. Hanya ingin menatapmu saja." Jawab Burhan.


"Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu." Ucap Salma.

__ADS_1


"Kenapa? Lagian kamu sepenuhnya milikku. Aku bisa saja menatapmu sesukaku. Kamupun juga begitu." Ucap Burhan menggoda Salma.


Wajah dan telinga Salma berubah menjadi merah karena godaan Salma.


"Kenapa wajah dan telingamu tiba tiba memerah? Kamu sakit?" Tanya Burhan dengan senyumnya.


Salma tak menjawab. Karena kesal dengan godaan suaminya, tiba tiba saja dia mengencangkan tali dasi suaminya sampai mencekik leher Burhan.


"Uhhuuukkk... Uhuuukkk..!" Burhan tersedak hampir tak bisa nafas. Salma melarikan diri keluar dari kamarnya.


"Kenapa kamu mencekikku?" Teriak Burhan merapikan dasinya. Salma tak menghiraukan teriakan Burhan.


***


Di meja makan...


"Dia masih siap siap dikamar Ma. Sebentar lagi keluar." Jawab Salma.


Tak menghiraukan Salma lagi, Ibu Burhan duduk disebelah Ayah Burhan.


Burhan keluar dari kamar menuju meja makan. Burhan melirik Salma tetapi Salma pura pura tak melihatnya.


Setelah makanan habis disantap Burhan berangkat kekantor. Tinggal Salma, dan orangtua mertuanya.


"Ma, hari ini aku mau main ya kerumah Fitri." Ucap Salma meminta izin.

__ADS_1


"Terserah kamu mau kemana." Jawab Ibu Burhan.


"Iya Ma!" Balas Salma.


Meskipun Ibu Burhan sedikit luluh karena Salma sedang mengandung cucunya, tetap saja Ibu Burhan tak pernah menyukai ataupun menganggapnya sebagai menantunya. Yang ada difikirannya hanya cucunya yang dia perdulikan. tidak mau tau dengan apa yang terjadi kepada Salma yang penting cucunya sehat.


Salma kembali kekamar setelah meminta izin kepada Ibu mertuanya. Sesampainya dikamar, Salma membereskan kamarnya. Setelah selesai membereskan semua Salma istirahat sejenak. Dia membaringkan tubuhnya dikasur.


"Kenapa Mama tak pernah menyukaiku. Apapun yang aku lakukan Mama tak pernah perduli sedikitpun. Apakah aku selamanya tidak akan dianggap oleh Mama?" Batin Salma dalam lamunan.


Salma membangunkan tubuhnya dan duduk diatas kasur. Kedua tangannya berada disebelah pahanya.


"Kalau sampai Mama tau bahwa aku tidak akan bisa memberi keturunan kepada Mas Burhan dan Mama tau bahwa kehamilanku palsu, apakah Mama akan memaafkanku? Atau justru Mama akan membuangku?" Pertanyaan pertanyaan itu selalu muncul dalam benaknya.


"Apakah semua akan baik baik saja dengan kepalsuan ini? Sampai kapan aku dan Mas Burhan akan menyembunyikan ini? Akankah semua baik baik saja?"


"Ahh lebih baik aku kerumah Fitri daripada aku memikirkan yang tidak tidak." Gumam Salma.


Salma berjalan menuju kamar mandi dan mandi. Tubuhnya dia masukkan ke buth up agar dia bisa lebih menenangkan dirinya. Setelah merasa sudah lama disana dia bangun dan melilitkan handuk ketubuhnya. Salma berjalan keluar dan mengganti handuk dengan pakaiannya. Tak lupa dia memakai kembali bantalan untuk perutnya agar terlihat bahwa dia sedang mengandung.


Salmka berjalan keluar dari kamar dan melihat Ayah mertuanya duduk diruang santai keluarga sedang membaca koran.


"Pa, aku mau pamit kerumah Fitri ya." Pamit Salma.


"Iya! Kamu hati hati ya." Jawab Ayah mertuanya.

__ADS_1


"Iya Pa." Balas Salma.


Salma berjalan keluar dan menuju rumah Fitri.


__ADS_2