
Pada suatu hari Eren pun berangkat ke Indonesia untuk urusan pekerjaan di sana, sementara Sisilia yang tadinya mau ikut akhirnya tidak jadi karena dokter melarang dia untuk pergi jauh.
Saat ini Sisilia sedang berada di dekat kolam renang sedang mencari angin di sore hari setelah dia pulang dari butik.
Sambil menatap air yang tenang di dalam kolam, dia pun melamun. Rencana yang ingin ketemu dengan keluarganya di Indonesia pun batal sudah. Karena keadaan dirinya yang tidak memungkinkan.
"Ehem. Sisilia ini Ibu bawakan susu bumil diminum ya? selagi masih hangat!" suara Puan Nandita sembari menyimpan segelas air susu bumil di dekatnya Sisilia.
Sisilia melirik ke arah Puan Nandita mengarahkan pandangannya ke gelas susu tersebut lalu ke arah sang ibu mertua seraya berkata. "Terima kasih Ibu jangan repot-repot, lagian kan ada asisten, Ibu tidak perlu capek-capek."
"Tidak apa-apa saya bisa mengerjakannya buat kamu buat cucu saya!" jawabnya Puan Nandita.
Puan Nandita duduk di sebelahnya Sisilia yang sedang memandangi pohon bunga dan air kolam yang tampak tenang.
Bibirnya tersenyum merekah, di ingatannya mengingat kalau di rumah itu kebetulan sekarang ini. Sedang tidak ada siapapun. Hanya mereka berdua dan tak tau apa yang sedang direncanakan oleh Puan Nandita terhadap Sisilia
"Di minumlah susunya? mumpung masih hangat susu itu tidak beracun, kamu gak usah takut!" ucapnya puan Nandita sembari menunjuk ke arah susu bumil yang berada di dekat Sisilia.
Sisilia pun menoleh ke arah gelas lalu diambil dan menyesapnya.
Puan Nandita terus saja menyunggingkan bibirnya. Lihat Sisilia meneguk minumnya dan entah apa yang ada dalam pikirannya itu.
Dengan diam-diam Puan Nandita pun pergi meninggalkan Sisilia sendiri di taman.
Sementara Sisilia merasa begitu tenang, nyaman di taman tersebut sembari menikmati susunya yang tinggal menyisakan gelasnya saja.
Namun ketika dia berdiri kepalanya terasa sangat pusing pandangannya pun berkunang-kunang. Sehingga wanita itu hampir saja terjatuh ke kolam renang, tetapi untungnya dia masih bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya! sehingga dia hanya sedikit terpeleset dan terduduk kembali di tempatnya semula.
Dan semakin lama, kepalanya semakin pusing berat sehingga dia tidak mampu lagi untuk duduk dengan tegak! tubuhnya menyender dan akhirnya terkulai di kursi tersebut.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Sisilia pingsan di sana, datang seorang pria yang langsung mengangkat tubuhnya dan membawa wanita muda tersebut ke dalam kamar yang ada di lantai bawah serta sudah dipersiapkan dari sebelumnya.
Puan Nandita sedang berada di kamar tersebut dan dia memerintahkan untuk begini dan begitu, di sana juga ada seorang pria yang memegangi kamera.
"Baringkan wanita di tempat tidur?" perintah Puan Nandita kepada pria yang membawa Sisilia.
Sisilia dibaringkan di tempat yang sudah disiapkan dan juga pria itu pun berbaring di sampingnya, Puan Nandita membuka kancing baju bagian atas Sisilia. Sehingga mengesankan kalau Sisilia itu tidak memakai apa-apa padahal masih lengkap.
Begitupun dengan pria yang berbaring di samping Sisilia dia bertelanjang dada dan seolah-olah melakukan sesuatu dengan wanitanya itu.
Lalu kamera pun mulai bekerja untuk mengambil gambar kalau Sisilia melakukan sesuatu dengan pria tersebut.
Setelah mendapatkan beberapa gambar yang lumayan bagus. Puan Nandita memberikan amplop kepada kedua pria tersebut dan menyuruh untuk pergi segera.
"Saya harap kalian bisa menyimpan rahasia ini, jangan sampai terbongkar kebenarannya! sementara kamu ... harus mengakui kalau itu adalah benar!" Puan Nandita menatap keduanya bergantian.
"Baik, Nyonya ... siap laksanakan!" kedua pria itu mengangguk lalu meninggalkan tempat tersebut dengan tergesa-gesa.
Lanjut manik mata Sisilia mengedarkan ke ruangan sekitar dan muncul lah Puan Nandita dengan senyuman di bibirnya saya berkata.
"Kamu sudah sadar? Saya sangat khawatir tadi kamu pingsan!" Tanya Puan Nandita sambil mendekat ke arah Sisilia.
"Apa. Aku pingsan? tadi aku sedang di taman. Terus siapa yang membawa ku ke sini?" Sisilia menatap heran.
"Ya karena tiada siapa-siapa, saya terpaksa menyeretmu ke sini. Apa kau mencurigai ku? tapi coba saja kau pikir kalau saya berniat jahat padamu buat apa sih yang menolong mu ke sini! biarkan saja kamu di taman sampai sadar." Puan Nandita menatap tajam.
"Ti-tidak, Bu ... Bu, aku tidak mencurigai seperti itu. Justru aku berterima kasih karena Ibu mau menolongku! aku tidak curiga sama sekali." Jawabnya Sisilia.
Lalu kemudian, Sisilia pun turun dari tempat tidur dan keluar menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
__ADS_1
Tanpa mempunyai curiga apapun terhadap Puan Nandita, karena bagaimanapun dia sudah menolong, kan sudah syukur. Lagian tidak mungkin sang ibu mertua berbuat jahat lagi sama dirinya, di saat sekarang sedang hamil mengandung anak dari putranya.
Kemudian Sisilia menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Lalu dia menyiapkan buat makan malam. Untuk dirinya dan sang mertua.
...------...
Seminggu kemudian Eren pun pulang dari Indonesia dan dia langsung bermuka masam kepada Sisilia, yang membuat Sisilia tidak mengerti kenapa sikap suaminya menjadi dingin seperti itu?
Di suatu malam mereka tengah berada di dalam kamar dan Sisilia menyajikan secangkir air buah di hadapannya Eran.
"Abang kenapa harus :pulang dariSisilia Indonesia! Abang tuh bermuka masam sama aku, begitu dingin sama aku apa aku ada salah tolong dimaafkan jika aku ada salah!" milihnya Sisilia sembahyang menatap sang suami yang justru sibuk dengan laptopnya.
Eran menjawab melainkan dia hanya terdiam tanpa sepatah kata pun yang diucapkan.
Sisilia semakin mendekat duduknya tidak jauh dari sang suami. "Sekali lagi aku minta maaf. Jika aku melakukan kesalahan padamu!"
Eran masih juga terdiam, dia malas bicara dengan istrinya tersebut. Dia bersikap demikian setelah menerima beberapa foto, entah dari siapa yang menggambarkan Sisilia tengah tidur dengan tubuh polos bersama seorang pria.
Jelas membuat hati Eren terbakar api cemburu dan menganggap Sisilia itu sudah selingkuh namun walau demikian, dia tetap menyelidiki mana kebenarannya.
Eran tidak mau kalau dia mengambil praduga yang tak bersalah karena dalam hati kecilnya percaya kalau sang istri nggak mungkin melakukan itu dengan kesadarannya.
Dalam diam pun, Eran menyelidiki kebenarannya foto itu editan atau bukan? kalau asli benar dilakukan dengan sadar tidaknya dan siapa yang membuat itu?
"Abang bicaralah sama aku agar aku tahu di mana ada kesalahanku jangan diamkan aku seperti ini, kan aku tidak mengerti kesalahan ku apa dan di mana? bila kamu terus diam saja seperti ini!" pinta Sisilia kepada Eran.
Pria itu tetap saja terdiam dengan pandangan mata lurus ke layar laptop membuat sedih ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mohon dukungan dan like-nya ya makasih