Jangan Pisahkan Aku

Jangan Pisahkan Aku
Sempurna


__ADS_3

Suatu hari. Sisilia sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit untuk lahiran.


"Hati-hati ya? semoga lahirannya lancar." Sisilia menatap ke arah Sisilia dan menatap ke perutnya.


"Aku mohon maaf bila banyak-banyak salah pada Ibu!" Sisilia menggenggam tangan sang ibu mertua dengan tatapan yang tulus dan sedikit pucat.


Puan Nandita menarik dan memeluk Sisilia. "Kamu tidak ada salah apapun! saya yang banyak salah, saya banyak dosa yang sudah memperlakukan mu tidak adil. Sslaya yang seharusnya kamu maafkan!"


"Tidak, Bu ... apapun alasannya, ibu sudah aku maafkan dan aku yang harus minta maaf itu aku dan aku mohon doanya agar persalinan ini lancar!" jawabnya Sisilia lalu memudarkan pelukannya pada sang ibu mertua.


Puan Nandita mengusap perutnya Sisilia seraya berkata. "Saya doakan, semoga lahiran mu lancar dan selamat ibu juga babybnya."


"Aamiin ... Terima kasih, Bu ... ya sudah! aku berangkat dulu ya? Ibu di sini istirahat. Suster dan Kak Rika jagain ibu ya?" Sisilia mengedarkan pandangannya kepada suster yang merawat puan Nandita dan juga asisten rumah tangga yaitu Rika.


Selanjutnya Sisilia menoleh pada sang suami yang kemudian berpamitan kepada sang ibunda.


"Bu, ku pergi dulu ya? baik-baik di rumah dan jangan banyak pikiran, cukup doakan saja agar kami terutama Sisilia dan calon bayi kami!" ucapnya Eran sembari mencium tangan sang ibunda.


"Iya, Nak ... pergilah bawa istrimu dan segera kembali membawa cucu ku dengan sehat dan selamat!" Puan Nandita mengangguk sembari menepuk pundaknya Sang putera.


Sisilia tampak sering meringis karena memang perutnya sudah sering kontraksi. Dengan tanda-tanda mau melahirkan.


Eren pun memapah Sisilia dan diikuti oleh sopir, yang membawa tas semua keperluan Sisilia nanti di rumah sakit.


"Hati-hati sayang, jalannya santai aja yang tenang. Duduk dengan rileks!" ucapnya Eran sambil membantu Sisilia duduk dan dia pun mendampingi sang istri.


"Aduh-duh ... sakit! pinggang ku rasanya panas banget." Sisilia meringis dan keringat pun bercucuran.


"Iya sayang, sabar ini kan dalam perjalanan ke rumah sakit." Eran mengusap pinggang sang istri dengan lembut.

__ADS_1


Sopir yang mengemudikan mobilnya Eran tampak sedikit panik, dengan terdengarnya rintihan dari Sisilia yang kesakitan.


"Pak, yang tenang dan tetap berhati-hati!" pesan Eran kepada sang sopir yang langsung menganggukan kepalanya, dan menghela nafas berkali-kali dengan sangat panjang.


Tidak lama kemudian, akhirnya tiba juga di depan rumah sakit tempat Sisilia akan melahirkan dan Sisilia langsung dibawa menggunakan brankar pasien.


"Abang ... jangan tinggalkan aku ya?" Sisilia memegangi tangan suaminya dengan sangat erat Dia sangat ketakutan sendirian, melahirkan tanpa suaminya.


"Nggak sayang aku nggak akan ninggalin kamu, aku akan selalu menemani kamu. Mendampingi kamu!" sambil terus berjalan mengikuti jalannya Brankar yang membawa sang istri ke ruangan bersalin.


Kini Sisilia sudah berada di dalam ruangan dan sudah ditangani oleh dokter ahli kandungan.


Dan perkiraan dokter pun memang Sisilia akan segera melahirkan, dan bayinya sudah siap untuk melihat dunia ini.


Eran terus mendampingi sang istri yang terus meringis merasakan nikmat nya mau melahirkan.


"Iya Abang. Temani aku terus ya? dan aku minta maaf jika suatu terjadi kepadaku. Maafkan atas segala kekurangan ku selama menjadi istri yang tidak sempurna untuk mu!" ucap Sisilia dengan suara yang pelan.


"Jangan bicara seperti itu, tidak akan terjadi apapun dan kita akan berkumpul merawat bayi kita dengan penuh kasih sayang." Timpal Eran sambil membelai rambut sang istri.


Dokter dan suster tengah menyiapkan lahirannya Sisilia. Sementara Sisilia sedang berjalan mondar-mandir bersama Eran, sang suami. Selangkah demi selangkah, berhenti lalu jalan lagi.


Beberapa jam kemudian Sisila sedang ditangani oleh dokter karena sedang proses lahiran yang tampak mengharukan.


Oek-Oek, Oek-Oek .... suara bayi yang baru lahir ke dunia, membuat Sisilia merasa lega dan plong ... mendengar suara baby nya yang akhirnya lahir juga ke dunia, dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.


"Sayang, baby kita sudah lahir dan sangat sempurna tanpa kurang suatu apapun. Alhamdulillah ..." Eran berkata penuh rasa bahagia dan mengecup kening sang istri.


"Iya, Abang ... alhamdulilah. Putera kita dah lahir." Sisilia memejamkan manik matanya lalu detik kemudian membukanya lagi sambil melihat ke arah baby yang kini di tempalkan ke dadanya dalam proses inisiasi (imd. Oleh dokter.

__ADS_1


Bibir Sisilia tersenyum lebar, hatinya teramat bahagia dengan kehadiran baby nya yang berjenis kelamin laki-laki tersebut.


"Terima kasih sayang! kau sudah memberikan keturunan dan pewaris ku. Mengandung benih ku," cuph. Kecupan mesra lagi-lagi mendarat di kening Sisilia.


Beberapa saat kemudian sang baby sudah berada di tempatnya dan Sisilia pun sudah di pindahkan ke ruangan inap. Ruang VIP yang hanya di huni oleh Sisilia seorang.


Beberapa kolega, staf dan karyawan pun tampak datang ke rumah sakit, untuk menjenguk Eran junior yang begitu tampan. Lucu dan menggemaskan.


Kata-kata pujian terdengar menghujani baby nya Sisilia. Semua orang berkata, kalau anak itu sangat tampan lucu dan menggemaskan biarpun baru saja terlahir ke dunia ini.


"Siapa dulu dong ayahnya nggak lihat apa aku kan ganteng, tampan. Jadi wajar kalau putra ku sangat tampan dan menggemaskan!" Eran menunjuk hidungnya penuh bangga.


"Ha ha ha ... awas terbang Bos!" canda mereka semua.


Sisilia tidak pernah berhenti tersenyum. Dia sangat bersyukur dengan kebahagiaan yang didapat saat ini dan semoga kebahagiaan nya semakin lengkap karena sang ibu mertua bisa menerima cucu dan juga menantunya yang selama ini dia benci.


Setelah tiga empat hari Sisilia dirawat di rumah sakit. Akhirnya hari ini Sisilia dan bayinya bisa pulang. Dan kepulangannya disambut bahagia oleh Puan Nandita.


Bibir Puan Nandita tersenyum lebar. Melihat cucu nya yang sehat dan sempurna. Padahal jatinya sudah merasa was-was, takut sang cucu kenapa-napa! akibat dari ulahnya sendiri dan sumpah serapahnya juga.


"Cucuku yang ganteng! maafkan nenek ya? yang sudah sering menyakiti ibumu bahkan menyumpahi yang tidak-tidak. Maafkan nenek cucu ku yang baik." Puan Nandita memeluk sang cucu yang sangat erat.


Eran dan Sisilia saling bertukar pandangan beserta bibir yang terus mengulas senyuman bahagia. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya begitu pun yang menimpa pada puan Nandita. Membuat dia menyadari kalau mantunya adalah yang terbaik.


Dan kehadiran sang cucu pun semakin membawa pengaruh baik untuk keluarga Eran, akhirnya Sisilia bisa merasakan hidup bahagia bersama suami. Mertua dan putranya, menjadikan kehidupan mereka semakin merasa sempurna ....


Tamat.


Terima kasih rider ku yang sudah mengikuti tulisan recehan ini, sekali lagi Makasih banyak 🙏

__ADS_1


__ADS_2