JANJI NABILA

JANJI NABILA
Part 29


__ADS_3

Minggu depan kita sudah masuk kuliah jadi bagai mana lusa kita bertemu, sebelum kita sibuk dengan urusan kita? Karin Menaik turunkan alisnya. Padahal apa yang di lakukannya saat ini sama sekali tidak terlihat oleh lawan bicaranya .


"Boleh juga, sekalian merefresh otakku ini agar tidak semakin setres memikirkan hal - hal yang buat aku ingin lari dari keadaan" jawab Nabila keceplosan.


Memang nya kamu ada masalah apa? kog gak pernah cerita ke aku.


"Nabila menutup mulutnya, Aihhh aku keceplosan" batin Nabila.


Merasa ada yang di sembunyikan dari dirinya. Membuat Karin sedih, Kamu gak anggap aku besti kamu ya Bil, kamu gak mau berbagi cerita sama aku, Sampai Kapan? tanya Karin dengan suara serak.


Sebenarnya sudah lama Karin ingin menceritakan perihal sifat Nabila yang tertutup dengan urusan pribadinya, Padahal Karin menganggap Nabila seperti saudari perempuannya.

__ADS_1


Namun Nabila selalu menutup rapat urusan pribadi nya sedangkan Karin selalu terbuka. Semua hal mulai dari sedih, senang semua Karin curhat ke Nabila. Mungkin karna Karin anak tunggal tidak ada teman untuk ku bertukar cerita jadi menanggap Nabila lebih dari sahabat.


Bukan seperti itu Karin, Nabila mulai resah karna tidak sengaja kelepasan bicara masalah pribadinya dan membuat sahabatnya menangis.


Terus bagaimana? Selama ini aku selalu nunggu kamu cerita sendiri tentang masalah yang kamu hadapi. Tapi itu gak pernah terjadi dua tahun kita sahabatan, Mungkin terlalu sebentar tapi aku merasa cocok temenan sama kamu bahkan aku udah anggap kamu kayak saudara aku sendiri. Apa hanya aku yang beranggapan lebih. Maaf kalau begitu .Karin mematikan sambungan teleponnya.


Ada apa dengan semuanya, Nabila mulai frustasi dengan dirinya sendiri. Semakin rumit saja, Apa memang aku yang salah. Nabila berguling - guling di atas tempat tidur.


"Ehem, boleh aku masuk?" tanya Rama.


Mendengar suara sang kakak Nabila segera turun dan membukakan pintu. Tentu saja kenapa tidak Nabila mempersilahkan kakaknya masuk.

__ADS_1


Aku tidak sengaja melihatmu berguling - gulingan di sini, Rama menepuk tempat tidur sang adik. Hal ini mengingatkan aku sewaktu kita kecil dulu. Apa kau mengingatnya?


Segera Nabila menganggukkan kepala. Tentu saja aku masih ingat kak, memangnya kenapa ?


Entah la tiba - tiba aku merindukan hal seperti itu, rasanya sangat senang sekali. Hal di mana kita bisa jadi diri sendiri dan bebas melakukan apa pun tanpa ada rasa bersalah. Masih kecil tanpa tau urusan orang dewasa yang sangat tidak di masuk akal dan banyak menguras hati serta tenaga.


Merasakan Rama yang banyak mengalami masalah dengan kisahnya yang rumit di tambah persoalan dirinya membuat Nabila menitikkan air mata dan memeluk Rama.


Ceritakan semuanya padaku. Siapa tahu itu akan mengurangi beban fikiran dan membuat hatimu sedikit lega. Nabila mengusap - usap bahu Rama. Mengurai pelukannya dan mengajak Kakaknya duduk. Ceritakan lah aku akan mendengarnya, Pinta Nabila.


Rama memandangi wajah adiknya, sudah sangat besar kamu sekarang ya tapi di mataku tetap saja terlihat masih kecil dan belum pantas memikirkan bahkan melakukan hal - hal seperti orang dewasa umumnya.

__ADS_1


Kadang cinta dan kasih sayang yang tulus membuat kita susah untuk melepaskan. Termasuk kakak, aku tau kasih sayang terlalu besar untukku sehingga susah untuk kakak mempercayai aku sudah sebesar ini bahkan kakak tidak akan terima jika ada seseorang yang akan menggantikan posisi kakak. Tapi percayalah kak, apa pun kondisinya kakak tetap tidak akan ada yang bisa menggantikannya di hati aku . Kakak itu seperti orang tua ke dua setelah orang tua kita. Nabila tersenyum melihat Rama dan menepuk punggung tangan sang kakak.


__ADS_2