JANJI NABILA

JANJI NABILA
part 61


__ADS_3

Radit semakin cemas, menelfonnya berkali - kali tapi tidak di angkat Ryanti. Ingin mengejar ia sudah kehilangan jejak. Radit berdiri di depan pintu gerbang memperhatikan sekeliling berharap menemukan Ryanti.


Dari kejauhan tepatnya di taman, yang lumayan dekat dari kampus dan dirinya berdiri saat ini ia menangkap seseorang mirip dengan Ryanti tengah berbicara dengan seorang laki - laki. Tapi ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa laki - laki tersebut karena posisinya yang membelakangi Radit.


"Apa Ryanti mengkhianatinya?" tiba - tiba lintas masa lalunya terbayang begitu saja. Dimana ibunya menangis mendapati sang suami berselingkuh yang menjadi awal mulanya Radit menjadi anak yang keras kepala, nakal dan susah di atur. Terlebih tidak lama setelah itu ibunya meninggal. Radit yang berasumsi penyebab dari itu semua adalah ayahnya sendiri.

__ADS_1


Radit memejamkan matanya. Melihat Ryanti berbicara dengan serius bahkan sesekali meraka tertawa riang dan terlihat laki - laki tersebut beberapa kali mengusap kerudung Ryanti. Sepertinya mereka sudah sangat akrab. Bagi Radit jika wanita itu sudah menjadi miliknya maka tidak ada seorang pun boleh memperlakukan wanita melebihi sikap dan perbuatannya kepada wanita tersebut. Bukan apa - apa , karena sudah memiliki kisah kelam di masa lalu membuat Radit sangat posesif terhadap pasangannya. Ia tidak mau apa yang terjadi pada ibu nya juga terjadi kepada dirinya sendiri.


Tak lama setelah itu Ryanti dan laki - laki tersebut pergi dan masuk ke dalam mobil yang sama. Bahkan sampai saat ini Ryanti juga tidak mengangkat telfon dari dirinya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, tibalah Radit di makan sang ibu. Dilihatnya keadaan makam yang bersih dan ada taburan bunga yang sedikit layu di atasnya. Menandakan ada orang lain yang baru saja mengunjungi makam tapi siapa? apa mungkin ayahnya? Kerena sampai saat ini ayahnya juga belum menikah setelah di tinggal ibunya.

__ADS_1


Radit tidak mempermasalahkan siapa yang baru berziarah ke makam ibunya, siapa saja bebas menurutnya mungkin keluarga ibu, atau ayahnya sendiri Radit tidak mau ambil pusing. Karena saat ini ia ingin menumpahkan perasaannya kepada sang ibu.


Satu jam sudah Radit bercerita dengan posisi membelai pusara. ia juga menjatuhkan bulir - bulir air mata yang selama ini ia simpan dan akan ia tumpahkan jika sudah di makam sang ibu. Jika mata orang - orang melihat Radit pemuda yang tampan, berpendirian kuat, keras kepala bahkan dulu apa yang menjadi keinginannya harus ia dapatkan tidak perduli menyakiti siapapun, tapi jika sudah di dekat pusara ibunya ia akan berubah seratus delapan puluh derajat.


Ia tidak segan manangis tersedu - sedu dengan suara yang hampir hilang demi melegakan perasaan yang ia pendam. Gerimis mulai turun dan hari juga mulai gelap di saat senja juga menunjukkan wajahnya. Radit bangun dan berpamitan untuk pulang, ia rasa sudah cukup ber nostalgia dengan ibunya, tidak lupa ia juga memanjatkan doa kepada sang khalik agar ibunya mendapat tempat yang baik dan di ampuni segala dosa - dosanya.

__ADS_1


__ADS_2