
"Runa..." Teriak Nabila namun sama sekali tidak ada jawaban. Melewati pecahan kaca di mana - mana. Dengan jelas Nabila bisa melihat sebuah meja dengan dua kursi yang sudah di hias dan di lengkapi dengan berbagai makanan serta minuman. Tak jauh dari tempat Nabila berdiri ada taburan bunga mawar dengan bentuk love namun sedekit rusak, yang mana bunga mawar masih sangat wangi meski sudah terlihat layu.
Berjalan mengikuti tetesan darah dan berhenti di taburan bunga semakin menguatkan Nabila jika Runa memang sedang terluka lumayan parah. Melihat dinding kaca yang pecah dan tetesan darah membuat lutut Nabila lemas merasa tidak sanggup lagi berjalan akan tetapi ia harus tetap mencari dan memastikan keadaan Runa.
"Runa..." Teriaknya dengan suara serak. Puas mengelilingi tempat tersebut dan memastikan tidak ada lagi yang ia lewatkan Nabila memilih ke luar menelfon mama Runa memastikan apakah Runa sudah pulang atau belum.
" Hallo, Asaalamualaikum tante apakah Runa sudah pulang? Tanya Nabila setelah panggilan telefon tersambung.
"Walaikumsalam, Runa belum pulang. Apa kau sudah dapat kabar di mana Runa?"
Nabila mendengus mendengar perkataan tante Mawar. "Belum ada, di kafe juga Runa tidak ada. Aku coba tanya ke teman - temannya dulu semoga ada petunjuk. Tante juga kalau ada info segera kasih tau Nabila. Baik tante aku tutup dulu telfonnya Assalamualaikum." Karena mencemaskan kesehatan mama Runa ia memilih tidak mengatakan keadaan di tempat terakhir Runa datangi.
__ADS_1
"Huftt kemana lagi aku mencarimu Runa... Apa aku tanya ke Jessi barangkali dia tahu atau Evan saja. Akh aku pusing mikirnya" Nabila bermolog dengan dirinya sendiri.
Setelah menitipkan pesan kepada sekuriti kafe dan meninggalkan no telfon miliknya kini Nabila memilih berjalan kaki di sekitaran area kafe. Walaupun sedang di landa kecemasan namun feeling Nabila mengatakan Runa masih ada di sekitaran tempat ini.
Setelah berkeliling dan menanyai kepada setiap orang yang ia temui dengan menunjukkan foto Runa kini Nabila sampai di taman kecil yang lumayan sepi. Hanya beberapa orang saja yang terlihat mengunjungi taman ini.
"Kemana lagi aku mencarimu Runa. Ada apa denganmu? Mengapa membuat aku dan ibumu khawatir. Tolong angkat terfon dariku!"
Di balik rerumputan Nabila melihat seperti bentuk kaki manusia karena penasaraan ia mendekati dan-
Runa... Dengan berlari kecil Nabila mendekati Runa yang tergeletak di atas rumput. Menggoyang - goyangkan tubuh Runa yang terasa panas.
__ADS_1
"Kau demam Runa. Bangunlah jangan buat aku takut" Mencoba membangunkan Runa namun tidak ada respon sama sekali.
"Runa..." Tangis Nabila pecah membayangkan hal - hal yang eneh. Segera mengeluarkan handphone untuk menghubungi layanan darurat ambulance.
Hallo, layanan darurat ambulance, Aku membutuhkan am-
Tut tut tut
Sambungan telefon terputus. Nabila merasa shock ketika handphone miliknya tiba - tiba di rampas seseorang dan langsung mematikannya begitu saja.
"Mengapa menelfon ambulance" terdengar suara dengan intonasi berat.
__ADS_1
"Tentu saja membawamu ke rumah sakit. Kau fikir untuk apa lagi" Dengan kesal Nabila merampas kembali handphone miliknya. Bagaimana tidak kesal, dari tadi ia berusaha membangunkan Runa tapi dia tidak menunjukkan reaksi apa pun. Tapi ketika ia menelfon layanan darurat rumah sakit Runa langsung bangun. Jelas Runa mempermainkannya.