JANJI NABILA

JANJI NABILA
part 64


__ADS_3

Sampai dini hari Radit belum juga bisa memejamkan matanya, nama Ryanti terus menghantui fikirannya. Belum lama ia secara resmi mengutarakan perasaannya setelah mereka berteman dalam waktu yang cukup lama.


Tetapi kini Ryanti menghilang tanpa sebab semenjak dirinya memergoki kekasihnya dengan seorang pria. "Kau itu tega sekali, padahal aku sudah mulai terbiasa dengan dirimu, Menurutku kau hampir sempurna setelah ibuku tapi..."


Radit tak sanggup melanjutkan ucapannya, air matanya jatuh ia merasa kembali dimana saat ia merasa terpuruk. Radit meringkuk memeluk lutut dan menggenggam kuat.


"ibu..., tidak ada wanita setulus dirimu" Ucapnya lirih. Rasanya aku ingin ikut dirimu saja, tapi bodoh jika aku menangisi wanita pembohong seperti dirinya. Radit mengoceh sendiri. Saat ini fikirannya tengah bercampur aduk, antara perasaan dan logika yang tidak sejalan. Hingga tak terasa ia terlelep karena rasa kantuk.


~


Ryanti menunggu di depan kelas Radit. Jujur ia merasa bersalah sudah mengabaikannya, tapi kemarin ia benar - benar tidak ingin di ganggu oleh siapa pun. Lama menunggu tapi Radit juga belum muncul, dan saat teman sekelasnya lewat ia memutuskan untuk bertanya.

__ADS_1


"Maaf mas, Radit ada kelas tidak ya, pagi ini?"


"Seharusnya ada, tapi sepertinya dia tidak masuk. Mungkin nanti jam selanjutnya ia akan masuk."


"Begitu ya, terima kasih informasinya" Ucap Ryanti dengan lembut. "Sama - sama" balas laki - laki itu kemudian pergi bersama teman- temannya.


Ryanti mengambil dan melihat begitu banyak panggilan dan pesan dari Radit. Kemarin ia memang sengaja men silent kan handphonenya. Ia benar - benar tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Dan saat ini ia tersadar sikapnya yang keterlaluan dan mungkin menyinggung perasaan Radit.


Deg


Hatinya berdenyut ketika Radit melewatinya tanpa menyapa. Apakah Radit benar - benar marah? sampai tidak mau menegur dirinya yang jelas - jelas berada di depan mata.

__ADS_1


Ia berbalik tapi pintu kelas sudah tertutup. Tidak mungkin ia masuk pasti akan menjadi pertanyaan anak - anak. Akhirnya ia memilih mengirimkan pesan akan bertemu setelah jam selesai.


Dan lagi - lagi Ryanti terkejut, Radit memblokir dirinya. "Apa ini? apa segitu marahnya sampai memblokir nomorku?" aku hanya mendiamkannya tidak sampai sehari tapi kenapa begitu Radit memperlakukan diri ku.


Air mata tanpa sadar menetes ke pipi yang chubby dan kemerah merahan. Sangat ketara jika dirinya tengah menangis dan langsung menjadi pusat perhatian sekitarnya.


Di Kelas Ryanti hanya diam menyesali perbuatannya, ia sangat mencintai Radit. Tidak ingin kehilangannya karena jujur di Jakarta Radit lah orang yang melindungi serta memberikan perhatian. Setelah ia merasa kehilangan itu semua dari keluarga maka sosok Radit hadir dan menjadi pelindung dan pendampingan yang bisa di percaya.


Radit begitu menjaga diri juga Marwahnya sebagai wanita yang berpakaian tertutup. Sekalipun Radit tidak pernah melakukan hal yang lazim di lakukan orang pacaran hanya berani memegang tangan Ryanti tanpa ada yang lain. Ia merasa bagitu di hormati dan di sayangi dengan sikap romontis yang di tunjukkan selama mereka dekat.


Tapi kini? Ryanti terisak tanpa memperdulikan anak - anak sekitar yang mulai menggosipi dirinya. "Mungkin dia putus dengan Radit, biasanya kan selalu pulang pergi bersama tapi kemarin dan hari ini meraka jalan sendiri - sendiri" Salah satu dari mereka bercerita.

__ADS_1


Banyak lagi yang di dengar Ryanti tapi ia tidak perduli karena ia sangat sedih dengan perlakuan Radit.


__ADS_2