
Berada di tengah keramaian membuat Luna merasa kurang nyaman. Apalagi dengan suara bising mesin sepeda motor dan orang-orang yang berteriak dengan heboh. Muak, begitulah yang Luna rasakan. Jika bukan karena terpaksa dan dipaksa oleh teman-temannya. Luna tak akan berakhir di tempat semacam ini.
Berbeda dengan Luna. Ketiga temannya justru begitu menikmati pertandingan yang mereka saksikan. Bahkan kedua teman perempuan Luna berteriak dengan heboh, seperti penonton lainnya.
"Ayo pulang," rengek Luna pada ketiga temannya.
Lalu salah satu dari mereka melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Ini masih terlalu sore untuk pulang. Sebentar lagi, ya. Dan kau tidak akan bisa kabur kemana-mana karena dompet, ponsel dan kunci mobilmu ada di kami." Ucap salah satu teman Luna sambil mengangkat benda-benda berharga milik gadis itu.
Mata Luna lantas membelalak. "Bagaimana bisa barang-barangku ada di kalian bertiga? Kembalikan sekarang juga." Luna mengulurkan tangannya. Menuntut supaya mereka mengembalikan barang-barang miliknya.
Mereka menggelengkan kepalanya. "Tidak mau! Aku tidak akan mengembalikan barang-barang ini sekarang. Dan aku akan mengembalikannya nanti ketika kita pulang dari sini." jawab salah satu dari mereka bertiga.
Luna menggeram marah. "Kembalikan sekarang juga atau~"
"Atau apa?" mereka menyela cepat.
"Jangan mengancam kami, Luna. Jadi sebaiknya nikmati saja pertandingannya nanti kita pulang sama-sama. Lagipula jika kau pulang duluan lalu bagaimana dengan kita bertiga? Masa iya kita harus naik taksi atau jalan kaki." Ujar perempuan berambut pendek yang berdiri disebelah kanan Luna.
"Itu bukan urusanku. Jadi jangan keterlaluan!! Aku minta cepat kembalikan sekarang juga atau aku tidak akan sungkan pada kalian bertiga." pinta Luna lagi.
Luna mulai hilang kesabaran. Dia tak merasa keberatan ketika mereka ikut nebeng di mobilnya. Tapi Luna paling tidak suka dengan orang-orang yang tak memiliki tata Krama seperti mereka bertiga.
__ADS_1
Satu-satunya pria diantara mereka berempat pun menghampiri Luna. Dia juga tak mau rugi jika Luna sampai pulang duluan. Jadi dia harus bertindak untuk mencegahnya pulang duluan apalagi memaksa mengambil barang-barang miliknya.
Laki-laki itu mengangkat tangannya dan hendak mengarahkan pada wajah Luna. Tapi seseorang tiba-tiba datang dan menahan tangannya. "Jangan coba-coba menyentuhnya dan kembalikan barang-barangnya sekarang juga." pinta orang itu dengan tidak bersahabat.
Sontak Luna menoleh dan dia sedikit terkejut melihat siapa yang berdiri disebelahnya."Zian," Luna berseru menyentuhkan nama orang itu yang ternyata adalah Zian. Kemudian Zian menarik Luna untuk berdiri disebelahnya.
"Jangan sampai aku mengulangi kata-kataku untuk kedua kalinya. Dan sebelum aku menghabisi kalian bertiga disini, sebaiknya kembalikan barang-barang miliknya sekarang juga." pinta Zian menuntut. Tatapannya bergulir pada mereka bertiga dan menatapnya satu persatu.
"Siapa kau, dan jangan ikut campur!! Pergi sekarang juga atau aku akan membuatmu menyesal!!" ucap teman laki-laki Luna.
Zian menyeringai dan menatap laki-laki itu dengan sinis. "Oh, jadi kau ingin berkenalan denganku? Baiklah, kalau begitu perkenalkan.. Aku, Zian Lu. Ketua dari, geng Black Phoenix," Zian memperkenalkan dirinya pada laki-laki itu. Membuat kedua matanya membelalak sempurna.
Tak hanya mereka bertiga saja yang terkejut, tetapi Luna juga. Meskipun sudah mengenal Zian selama beberapa Minggu , tetapi Luna tidak tahu siapa pemuda itu sebenarnya. Luna tau jika Zian memang seorang berandalan, tetapi dia tidak tahu jika pemuda itu adalah ketua dari Geng Black Phoenix.
Tak hanya itu saja. Masih banyak sekali keburukan-keburukan lainnya yang melekat kuat pada Black Phoenix. Salah satunya adalah keberingasan mereka dalam menghabisi siapa pun yang berani mencari masalah dan gara-gara.
"Ka..Kau, Zian Lu?" laki-laki itu bertanya memastikan. "Ka..Kau pasti bercanda. Aku tau kau sedang berbohong. Dan asal kau tau saja, aku mengenalnya dengan sangat baik. Bahkan kami berteman dekat." ujarnya.
Zian memicingkan matanya. "Benarkah? Kau pasti memiliki kontaknya bukan. Jika kau benar-benar mengenalnya dengan baik, kalau begitu coba hubungi dia dan minta dia untuk datang kemari." Pinta Zian dengan seringai meremehkan.
"Tunggu sebentar." Pria itu mengeluarkan ponselnya lalu mencari kontak nomor Zian. Meskipun dia ragu jika Zian akan mengangkat panggilannya. Karena sebenarnya dia sama sekali tidak dekat dengan Zian. Dan nomor ponselnya laki-laki itu dapatkan dari kenalannya.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel diantara mereka berlima. Semua mencari sumber suara itu berasal, termasuk Luna. Kemudian Zian mengeluarkan sebuah benda tipis dari saku Vest Denim yang dia kenakan lalu menerima panggilan tersebut.
"Halo," ucapnya sambil menyeringai meremehkan.
Laki-laki itu pun lemas seketika. Yang dihadapannya benar-benar Zian Lu, sang ketua dari geng Black Phoenix. Dia sangat terkejut begitupun dengan Luna. Luna benar-benar baru mengetahui siapa Zian sebenarnya hari ini.
"Ka..Kau benar-benar, Zian Lu?" sekali lagi laki-laki itu memastikan. "A..Ampuni kami. Aku dan mereka berdua tak akan mengganggu Luna lagi, ini barang-barang miliknya aku kembalikan sekarang juga. Ka..Kami akan pergi sekarang." mereka bertiga pergi dengan ketakutan.
Lalu pandangan Zian bergulir pada Luna yang juga menatap padanya. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau takut padaku?" tanya Zian melihat tatapan cemas Luna ketika menatapnya.
Luna menggelengkan kepala. "Aku tidak takut padamu. Hanya sedikit terkejut saja setelah tau siapa kau sebenarnya." Ucap Luna dengan suara gemetar.
Zian menghela napas. Dia maju satu langkah lalu menepuk kepala Luna. "Aku tau kau takut padaku. Kau bisa berkata tidak, tapi matamu mengatakan iya. Sudah larut malam, sebaiknya aku antar kau pulang."
"Tapi aku membawa mobil sendiri." Sela Luna.
"Aku tahu. Aku akan mengawalmu dari belakang." Ucap Zian yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna.
"Baiklah." Ucap gadis itu lalu meninggalkan arena balap liar dan berjalan menuju dimana mobilnya diparkirkan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.