Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Kecellakaan


__ADS_3

BRAKKK ..


Kecelakaan tunggal itu tak bisa terelakkan. Sebuah motor sport mengalami kecelakaan tunggal setelah menghindari sebuah truk yang melaju kencang dari arah yang berlawanan. Akibatnya, tubuh si pengemudi motor itu terhempas dan terguling diaspal yang menyebabkan dia mengalami luka hampir di sekujur tubuhnya.


Orang-orang ketika berdatangan menghampiri pemuda Malang tersebut, memastikan dia baik-baik saja atau tidak.


Sungguh sebuah Miracle karena pemuda itu masih dapat berdiri meskipun luka tampak di sekujur tubuhnya. Bahkan sebagian wajahnya tak terlihat karena tertutup darahh segar yang berasal dari luka di pelipis dan bawah mata kanannya. Sementara motor besarnya mengalami kerusakan yang sangat parah.


"Omo!! Pa, bukankah itu, Zian?" seru seorang pria yang mengemudikan sebuah Audi R8. Mobil itu pun melambat dan mendekati kerumunan. Memastikan apakah benar dia Zian atau bukan.


Mata pria paruh baya itu membelalak setelah melihat dengan jelas wajah pemuda itu. "Ya, Tuhan. Menantuku, apa yang terjadi padanya?!" buru-buru Tuan Xia turun dari mobil sesaat setelah Vincent menepikan mobil mewahnya. Bahkan dia tak menghiraukannya.


Tuan Xia membelah kerumunan dan menghampiri Zian, membuat pemuda itu terkejut dengan kedatangannya. "Paman," seru Zian. Wajahnya meringis, terlihat jelas jika dia sedang menahan sakit.


"Ya tuhan Zian, apa yang terjadi padamu, Nak? Kenapa kau bisa sampai mengalami kecelakaan seperti ini? Zian, sebaiknya kita segera ke rumah sakit. Luka-lukamu perlu untuk diobati." Ucap Tuan Xia dengan penuh kecemasan.


Pemuda itu menggeleng. "Tidak, Paman. Aku tidak perlu ke rumah sakit. Biar teman-temanku saja yang mengobati luka-lukaku," balas Zian. Dia menolak untuk dibawa ke rumah sakit.


"Tidak bisa, pokoknya kau harus pergi ke rumah sakit!! Luka-lukamu parah, Zian dan harus segera diobati. Dan Luna bisa memarahimu habis-habisan jika kau menolak untuk dibawa ke rumah sakit," ujar Vincent menyahuti.


Mendengar nama Luna disebut, tiba-tiba Zian menjadi diam. Dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah Gadis itu akan cemas saat mendengar dirinya terluka? Zian menggeleng, tidak... itu jelas tidak mungkin, mengingat jika dirinya dan Luna tidak memiliki hubungan apa-apa. Karena hubungan mereka itu palsu.


Dan setelah cukup lama berkutat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Zian setuju untuk dibawa ke rumah sakit oleh Tuan Xia dan juga Vincent. Memang benar yang mereka katakan, luka-lukanya perlu segera diobati.


.


.

__ADS_1


"Apa? Kecelakaan!! Baiklah, aku akan segera ke sana."


Luna mendapatkan kabar dari kakaknya jika Zian mengalami kecelakaan dan saat ini berada di rumah sakit. Vincent memberitahunya jika pemuda itu mengalami luka yang lumayan parah. Membuat Luna menjadi sangat cemas dan khawatir padanya.


Tanpa membuang banyak waktu, Luna pun bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan pemuda itu. Tapi kali ini dia menggunakan taksi karena Luna tak ingin mengambil resiko dengan mengemudi sendiri. Akan sangat berbahaya jika mengemudi dalam keadaan panik dan cemas. Bisa-bisa dia mengalami kecelakaan juga.


Luna tiba di rumah sakit dua puluh menit kemudian. Dan gadis itu segera menuju tempat dimana Zian berada. Setelah menaiki lift, Luna tiba dilantai tiga. Gadis itu berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang nampak sepi dan legang. Dari jarak kurang dari lima meter, Luna melihat keberadaan Kakak dan ayahnya.


"Pa, Kak, bagaimana keadaannya?" tanya Luna setibanya dia di depan mereka berdua.


"Zian mengalami luka yang lumayan parah. apalagi luka di pelipisnya, luka itu terus mengeluarkan darah dan sepertinya harus dijahit." Ujar Vincent menuturkan.


"Jadi dia harus rawat inap?" sekali lagi Luna memastikan.


Vincent dan Tuan Xia menggelengkan kepalanya dengan kompak. "Zian, menolak untuk menjalani rawat inap, dia memilih pulang dan melanjutkan perawatan di rumah. Dokter sudah menyarankan agar sebaiknya menjalani rawat inap saja, tapi dia tetap bersikeras untuk pulang." terang Vincent menuturkan.


"Itu juga yang kami pikirkan," mereka berdua menjawab dengan kompak.


Kemudian Luna menatap ayah dan kakaknya bergantian. "Bagaimana bisa kalian berdua sekompak itu? Tapi bagus juga kalian berdua setuju. Kalian berdua pulang saja , biar aku yang menunggunya." Ucap Luna.


"Kau yakin?" ucap Tuan Xia memastikan.


Gadis itu mengangguk. "Ya,"


"Baiklah kalau begitu, aku dan Vincent pulang duluan. Jika ada apa-apa hubungi Papa atau kakakmu. Ingat untuk menjaganya dengan baik dan rawat dia dengan bersungguh-sungguh, seburuk apapun penampilan luarnya, tetapi dia tetap calon suami." ujar Tuan Xia memberi nasehat.


Blusshhh.

__ADS_1


Rona merah muncul di kedua pipi Luna ketika ayahnya mengucapkan kata 'Calon Suami' Luna tersipu malu. Rasanya sangat aneh mendengar kata itu. Sungguh, Luna tidak pernah membayangkan jika Iya dan Zian akan menjalani sebuah hubungan palsu seperti ini.


Setelah kepulangan Vincent dan ayahnya, di ruang tunggu hanya menyisakan Luna. Dia sendirian menunggu di sana. Sudah hampir tiga puluh menit, namun belum ada tanda-tanda pintu di depannya itu akan terbuka.


Bosan hanya duduk saja, Luna berjalan mondar-mandir di depan ruangan tersebut. Sampai akhirnya dia mendengar suara dechitan pintu terbuka dari dalam. Terlihat Zian keluar dari dalam sana dengan perban yang membebat dibeberapa bagian. Seperti pelipis, tulang pipi dan lengan kiri atas.


"Zian," seru luna dan menghampiri pemuda itu.


Zian terkejut dengan keberadaannya. "Luna, sedang apa kau disini?" tanya Zian.


"Menunggumu. Kakak, menghubungiku Jika kau mengalami kecelakaan. Aku buru-buru datang kemari hanya untuk memastikan keadaanmu. Tapi syukurlah ternyata lukanya tidak begitu parah." Ujarnya.


Kecemasan terlihat jelas di mata Luna. Dia benar-benar mencemaskan keadaan Zian . Luna tak bisa membayangkan seberapa sakit luka-luka itu. Apalagi luka yang Zian alami tak hanya di satu tempat saja. Tapi itu berapa bagian tubuhnya.


"Lalu dimana ayah dan kakakmu? Kenapa kau sendiri yang disini?" tanya Zian.


"Mereka pulang duluan. Zian, sebaiknya kau tinggal selama berapa hari di rumahku, setidaknya sampai luka-lukamu membaik. Aku akan merawatmu dengan sungguh-sungguh." Luna berkata sambil mengunci manik hitam milik Zian.


"Tapi, Luna. Apa tidak terlalu merepotkan?Aku tidak ingin menjadi beban bagimu."


Luna menggeleng. "Sama sekali tidak,"


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2