
"Jadi ini rumah keluargamu?"
Luna terkagum-kagum setibanya mereka di halaman depan . Yang dia lihat baru bangunan luarnya saja, belum bagian dalamnya. Tak hanya besar dan megah, kediaman Lu dikelilingi oleh taman kecil dan juga dua kolam dengan patung berbentuk orang yang sedang memegang kendi dan mengalirkan air.
Airnya begitu jernih, hingga terlihat puluhan ikan koi yang sedang berenang dengan bebas. Saking banyaknya, sampai-sampai Aster tidak bisa menghitung seberapa banyak jumlah ikan koi di dalam kolam tersebut. Yang jelas jumlahnya puluhan, atau bahkan ratusan.
"Hn, ini adalah rumah peninggalan mendiang kakekku. Dan karena rumah ini pula betina licik itu menyewa orang-orang tadi untuk menghabisiku." ucap Zian. Dia dan Luna berjalan beriringan memasuki bangunan megah tersebut.
Di bagian luar saja susah luar biasa. Apalagi bagian dalamnya juga jauh lebih luar biasa lagi. Luna tidak tahu jika ternyata Zian sekaya itu, bahkan dia jauh lebih kaya dari keluarganya yang masuk 10 besar sebagai orang terkaya di Seoul.
Beberapa pelayan terlihat menghampiri mereka dan membungkuk Zian dan Luna. "Selamat datang kembali, Tuan Muda," sang kepala pelayan membungkuk dan menyambut kedatangan Tuan Mudanya. Kasian telah mengkonfirmasi kepulangannya hari ini pada pria setengah baya tersebut.
Kemudian dia memberi kode pada beberapa pelayan, agar mereka segera menyiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan sang Tuan Muda beserta istrinya. "Bagaimana dengan Blue Ocean dan Angel Kiss yang aku minta?"
"Sudah saya persiapkan, Tuan Muda." Pria setengah baya itu kemudian mendekati Zian lalu memberikan dua benda yang Zian minta. Blue Ocean dan Angel Kiss, harta turun temurun milik keluarga Lu.
Blue Ocean sendiri adalah sebuah kalung berlian langkah yang terbuat dari berlian murni dan didesain khusus oleh desainer luar negeri. Dan Blue Ocean memang dirancang khusus untuk keluarga bangsawan Lu.
Sedangkan Angel Kiss, adalah cincin milik mendiang neneknya, sebuah cincin turun-temurun yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang, termasuk Ibu Zian. Karena Nenek Lu tidak pernah mewariskan cincin itu padanya, dan malam memberikannya pada Zian. Dan selama ini cincin itu disimpan oleh kepala pelayan, satu-satunya orang yang paling dipercayai oleh Nenek dan Kakek Lu.
Dian mengambil cincin dan kalung itu lalu menyerahkannya pada Luna."Pakailah ini, ini adalah cincin dan kalung turun-temurun milik keluargaku. Dan karena kau adalah menantu keluarga ini, maka berhak memiliki kalung dan cincin ini," Zian mengambil Angel Kiss dari tempatnya lalu menyematkannya pada jari manis Luna.
Luna menatap cincin itu dengan penuh kekaguman, cincin itu begitu cantik dan elegan, dan ukurannya juga sangat pas di jari manisnya. Tapi entah kenapa Luna merasa Jika dia tidak pantas memakai apalagi memiliki cincin tersebut.
__ADS_1
"Maaf , Zian. Aku rasa diriku tidak pantas dan tak layak memakai apalagi memiliki cincin ini. Apalagi kedua benda ini sangat berharga, aku takut jika sampai menghilangkannya," Luna melepas cincin tersebut Lalu mengembalikannya ke tempatnya semula.
Zian menggelengkan kepala. "Tidak, Luna. Kau adalah satu-satunya orang yang paling pantas dan layak untuk memakai serta memilikinya. Karena cincin dan kalung ini adalah tanda jika kau adalah menantu, keluarga Lu," ucap Zian lalu menyematkan kembali cincin itu dijari manis Luna.
Paruh baya itu tersenyum. Belum pernah dia melihat Tuan Mudanya memberikan perhatian yang begitu besar pada seorang wanita, apalagi memperlakukannya secara spesial, dan ini adalah pertama kalinya. Yang menandakan jika Luna memanglah spesial bagi Zian.
Luna menghela nafas. "Baiklah, karena kau terlalu memaksa, maka aku akan menyimpan cincin dan kalung ini dengan baik," Zian tersenyum mendengarnya. "Oya, aku sangat lapar, apa tidak ada makanan yang bisa aku makan? Berkelahi tadi menguras semua tenagaku, dan aku membutuhkan asupan makanan untuk mengisi kembali tenagaku yang terkuras," Luna memegangi perutnya yang sedari tadi keroncongan.
Zian mendengus. Dia merasa geli sendiri melihat ekspresi Luna. "Kau lapar?" Luna menganggukkan kepala.
"Paman Wang, segera perintahkan pelayan agar menyiapkan makan siang untuk, Luna." Perintah Zian pada paruh baya itu, Paman Wang.
Paman Wang mengangguk. "Baik, Tuan Muda."
Dan Luna tidak bisa memprediksikan bagaimana hidup yang akan dia jalani kedepannya. Apakah dia akan bahagia dengan pernikahannya, atau malah sebaliknya. Dan Luna akan menyerahkan pada waktu, karena hanya waktu yang bisa menjawabnya.
"Apa yang sedang kau lamunkan?" tegur Zian dan segera menyadarkan Luna dari lamunannya.
Gadis itu menoleh seraya menggelengkan kepala. "Tidak ada. Ngomong-ngomong dimana kamarmu? Aku kebelet dan sudah tidak bisa menahannya lagi," Luna kemudian mendekati Zian lalu berbisik pelan di telinganya. Akan sangat memalukan jika ada yang mendengar apa yang ia katakan.
"Kamarku ada di lantai dua. Sebaiknya kau gunakan kamar mandi yang ada di lantai dasar ini saja. Lebih dekat dan mudah terjangkau," ucapnya dan dibalas anggukan oleh Luna.
Buru-buru Luna masuk ke kamar mandi, dia benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Sudah hampir keluar dan sudah ada dijalan , terlambat sedikit saja bisa-bisa keluar di cellana. Sedangkan Zian terlihat menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan Luna.
__ADS_1
"Tuan Muda, saya lihatnya Nona Luna sangat unik. Dia berbeda dengan kebanyakan perempuan diluar sana. Tuan Muda, yang dingin dan Nona Luna yang sedikit bar-bar, benar-benar persatuan yang sempurna. Dan saya yakin, Tuan dan Nyonya besar bahagia diatas sana melihat Tuan Muda akhirnya menemukan pasangan hidup seperti, Nona Luna." ujar Paman Wang sambil menarik sudut bibirnya.
"Ya, Paman benar. Dan apa yang tidak pernah aku dapatkan dari keluarga ini, justru aku dapatkan dari keluarganya. Keluarga Luna menerimaku dengan tangan terbuka, dan mereka semua memperlakukanku dengan hangat. Itulah kenapa, aku langsung mempertimbangkannya ketika ayahnya memintaku untuk menikahinya," tutur Zian.
Paman Wang menoleh, dia sedikit terkejut mendengar ucapan Tuan Mudanya. "Jadi maksud Tuan Muda, Anda dan Luna Luna menikah bukan karena cinta melainkan karena perjodohan dari orang tuanya?" Paman Wang menatap Zian tak percaya.
Pemuda itu menganggukkan kepalanya. "Ya, dan aku pernah berhutang nyawa padanya. Luna, pernah menyelamatkan nyawaku ketika aku hampir mati. Dan jika tidak ada dia malam itu, entah apa yang akan terjadi padaku. Mungkin saja saat ini aku hanya tinggal nama," tutur Zian menerawang. Dia kembali mengingat kejadian malam itu.
Zian tidak akan pernah lupa pada kejadian malam itu. Dan masih sangat segar di ingatannya, ketika dia membuka matanya setelah tak sadarkan diri dan menemukan seorang sosok jelita yang menatapnya dengan penuh kecemasan. Dan siapa yang menduga, jika pertemuan mereka malam itu justru menjadi awal kisah mereka dimulai.
"Dan saya rasa, pertemuan Tuan Muda dan Nona Luna malam itu bukanlah sebuah kebetulan , tetapi adalah takdir yang telah direncanakan oleh Tuhan. Jodoh memang tidak kemana, dan saya lega karena tuan muda mendapatkan pendamping hidup, seperti Nona Luna," ujar Paman Wang menuturkan.
Luna yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap kedua pria berbeda usia itu dengan tatapan bingung. Kenapa mereka menatap padanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Membuat Luna merasa tidak nyaman dan tenang.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa kalian berdua sedang membicarakanku?" Luna menatap Zian dan Paman Wang bergantian. Keduanya menggeleng dengan kompak. "Benarkah? Tapi kenapa telingaku berdenging terus dari tadi? Aku pikir kalian berdua membicarakanku," ucapnya menambahkan.
"Tidak ada yang membicarakanmu. Katamu lapar, makanan sudah siap. Ayo, aku temani kau makan siang." Zian merangkul bahu Luna dan keduanya berjalan beriringan menuju meja makan. Meninggalkan Paman Wang begitu saja.
Luna benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa laparnya. Sedari tadi perutnya keroncongan dan minta segera diisi, apalagi setelah mencium aroma lezat makanan yang berasal dari meja makan. Membuatnya cepat-cepat ingin menyantap makanan-makanan tersebut.
.
.
__ADS_1
Bersambung.