
Sean ditangkap atas tuduhan pellecehan , cerita palsu Vera berhasil menghantarkannya ke balik jeruji besi. Dan paranya lagi, orang yang mengirimnya kesana adalah ayahnya sendiri. Donny Lu, yang begitu menyayangi Sean malah tidak mempercayainya dan lebih mempercayai ucapan Vera.
"Pa, aku ini anakmu, darah dagingmu, tapi kenapa kau lebih mempercayai ucapan wanita itu dibandingkan mendengarkan penjelasanku?!" teriak Sean penuh emosi.
Sean benar-benar marah dan kecewa pada ayahnya, bagaimana bisa dia lebih mempercayai orang lain dirinya, yang jelas-jelas adalah darah dagingnya. Dan parahnya lagi semua itu karena wanita tak tau berterimakasih yang saat ini berstatus sebagai ibu tirinya.
"Kau benar-benar pembohong yang hebat, Sean. Papa, salah menilaimu, Sean. Ternyata kau tidaklah sebaik yang Papa kira selama ini!! Kau benar-benar sudah membuat Papa kecewa, dan karena perbuatan bejatmu itu sekarang Vera menjadi trauma, dia benar-benar Terpukul dengan apa yang telah kau lakukan padanya." ujar Donny Lu panjang lebar.
Sean mengepalkan tangannya. Dengan emosi yang telah sampai di ubun-ubun, Sean melayangkan pukulan keras ke arah ayahnya, dan saling kerasnya pukulan tersebut sampai-sampai membuat dia terhubung ke belakang. Tak sampai disitu saja, Sean juga mendorongnya hingga Donny tersungkur dilantai yang dingin dan keras lalu menindihnya dan menghajarnya dengan brutal.
"Kau benar-benar Ayah yang buruk, Pa!!Jujur saja dari awal aku tidak pernah merestui Pernikahan kalian berdua, apalagi pada saat itu Mama baru saja pergi dan lebih parahnya lagi wanita yang kau nikahi adalah kekasih dari putra kandungmu sendiri!! Selama ini aku selalu menghormatimu, tapi ternyata kau memang tidak pantas untuk dihormati." Teriak Sean sambil berkali-kali melayangkan pukulannya pada wajah Donny.
Donny pun berteriak. Dia mencoba melepaskan diri dari cengkraman putra sulungnya tersebut. "Sean, lepaskan!! Apa kau sengaja ingin membunuh, Papa?!" teriaknya dengan marah.
"Ya, aku memang ingin membunuhmu!!" teriak Sean menimpali.
Beberapa petugas polisi pun menghampiri mereka lalu memisahkan ayah dan anak tersebut. Sean di tarik menjauh dari Donny Lu yang sudah babak belur karena ulah Sean. "Lepaskan aku. Biarkan aku menghabisi bajingan tua itu!!" teriak Sean dengan emosi. Dia memberontak, meneriaki dua polisi yang memeganginya.
__ADS_1
Akhirnya Donny dan Sean pun dipisah. Donny dibawa pergi untuk diobati, sementara Sean masukkan ke dalam sel bersama para napi lainnya. Hidup Sean benar-benar hancur sekarang, dan parahnya lagi yang menghancurkannya adalah ayahnya sendiri.
Sean memukul tembok dengan keras. Dia bersumpah tidak akan pernah memaafkan ayahnya, terutama Vera. Bahkan ketika ayahnya telah habis menjadi tanah, Sean tidak akan memaafkannya.
.
.
Kabar tentang Sean yang masuk penjarra telah sampai ke telinga Zian. Bukannya merasa prihatin dengan keadaan kakaknya sekarang, Zian malah tertawa mengejek.
"Zian, kau benar-benar gila, adik durhakka. Di saat kakakmu tertimpa masalah, bukannya merasa prihatin malam merayakannya." ucap Max sambil menggelengkan kepala.
Zian mengangkat bahunya. "Kenapa aku harus peduli, yang ada Aku justru menikmatinya. Lagipula itu adalah berita yang sangat bagus, jadi aku tidak ingin melewatkannya untuk bisa merayakannya bersama kalian." Jawab Zian.
Zian meneguk kembali minumannya hingga tandas tak tersisa. Kemudian ia menoleh dan dan membalas tatapan tenang Max. "Jangan menatapku seperti itu, lagipula kau tidak pernah berada di posisiku. Jadi kau tidak bisa memahami apa yang aku rasakan selama ini," ujarnya dingin.
Orang lain memang bisa menilai, tetapi yang merasakannya adalah Zian sendiri. Dan mereka tidak akan pernah merasakan apa yang Zian rasakan selama ini, jadi bukan salahnya jika tiba-tiba Zian membuat perayaan setelah mendengar Sean tersandung masalah dan ribut dengan ayah mereka.
__ADS_1
Alex menyenggol lengan Max dan berbisik pelan. "Apa-apaan kau ini, kenapa kok mengatakan kalimat yang begitu sensitif pada Zian." ucapnya setengah berbisik.
Alex memang tidak pernah berada di posisi Zian. Dia mencoba untuk memahami perasaannya. Karena tidak mudah menjadi Zian, yang sejak kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya dan selalu dianggap sebagai anak pembawa sial.
Kemudian Max bangkit dari kursinya lalu mendekati Zian. Max menatap pemuda itu yang tengah memainkan gelas berisi cairan merah ditangan kanannya. Max menghela napas. "Zian, maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu. Aku hanya kurang peka sebagai seorang teman, untuk itu aku minta maaf." ucapnya penuh susah.
Zian menoleh dan membalas tatapan Max dengan pandangan dingin dan datar. "Hn, lupakan saja." ucapnya menimpali. "Dan bisakah kita tidak usah membahas apapun lagi tentang keluargaku. Karena kalian berempat kemarin untuk bersenang-senang, bukan untuk membahas hal yang tidak penting," ucapnya dingin.
Max mengangguk. "Ya, aku mengerti. Sebaiknya malam ini kita happy-happy, dan kalau bisa sampai pagi."
Acara pun dilanjut. Teman-teman Zian sudah kabur entah ke mana termasuk Max, dan di bar stool hanya menyusahkan Zian sendirian yang masih bertahan. Zian lebih memilih berada di tempat yang tenang dan nyaman, ibadah harus pergi ke lantai dansa untuk menari bersama ratusan manusia. Karena sudah pasti hawanya di sana sangat panas dan berdesak-desakan.
.
.
Bersambung
__ADS_1