
Di malam hari yang dingin dan gelap. Seorang pria meninggalkan parkiran setelah merusak rem pada salah satu mobil yang terparkir di sana. Suasana di parkiran begitu sepi, sehingga tak ada seorangpun yang mengetahui perbuatannya.
Di tengah langkahnya, pria itu menghubungi seseorang dan menyampaikan jika ia telah menyelesaikan pekerjaannya. "Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku, secepatnya kirim sisa pembayaranku,"
"Kau akan mendapatkan bayaranmu setelah aku mendapatkan kabar tentang kematiannya!!"
"Jangan main-main denganku, jika kau tidak ingin menanggung akibatnya!! jadi segera berikan sisa pembayaranku, atau kau akan menyesal," kemudian pria itu mengakhiri sambungan teleponnya begitu saja. Dia menaiki motor besarnya dan melesat pergi meninggalkan parkiran.
Dia adalah orang suruhan yang dibayar untuk merusak rem pada mobil milik Zian. Orang yang membayarnya itu menginginkan kematiannya, itulah kenapa dia sampai menghalalkan segala cara untuk mencelakainya. Karena dia memang menginginkan kematiannya. Hanya dengan kematian Zian, mereka bisa mendapatkan kembali apa yang selama ini menjadi incaran terbesarnya.
.
.
Suara dering pada ponselnya mengalihkan perhatian Zian dari laptopnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat siapa yang menghubunginya. Tak ingin membuat si penelpon kesal karena ia tak kunjung mengangkat telfonnya, ia pun segera mengangkatnya.
"Ada apa, Luna?" tanya Zian tanpa basa-basi.
"Zian, apakah malam ini kau lembur lagi? Kenapa sampai jam segini belum pulang?" tanya Luna dari seberang sana.
"Hm, sebentar lagi aku pulang. Kenapa? Apa kau begitu merindukanku? Kalau begitu segera persiapkan dirimu, malam ini aku akan membawamu terbang ke langit," Zian menyeringai diakhir kalimatnya. Tanpa dia sadari, Luna memerah di seberang sana.
"Dasar messum, sejak kapan pria dingin sepertimu jadi semessum itu?" gerutu Luna, dia malu sendiri mendengar ucapan Zian.
"Baiklah, aku tutup dulu telfonnya. Jangan lupa untuk segara mempersiapkan dirimu. Aku mencintaimu," kemudian Zian mengakhiri sambungan teleponnya begitu saja.
Pria itu tersenyum tipis. Sungguh sangat lucu,dirinya yang dingin dan masa bodoh dengan cinta setelah penghianat Vera. Kini justru bisa mencintai seseorang dengan begitu dalam, bahkan cinta yang Zian miliki untuk Luna jauh lebih dalam dari cintanya untuk Vera dulu.
Pandangan Zian lalu bergulir pada jam yang menggantung di dinding ruang kerjanya. Pukul 22.00 malam, sungguh tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Zian menutup laptopnya lalu beranjak dari kursinya lalu melenggang meninggalkan ruangannya. Sudah larut malam, sebagian pekerjaannya yang tersisa akan Zian selesaikan di rumah.
__ADS_1
Tiba-tiba Zian menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu mobilnya. Dia merasa ada yang tidak beres pada mobilnya. Dia melihat kap depan tak tertutup dengan rapat dan sedikit terbuka. Ada aroma bensin yang menguar di udara, meskipun aromanya samar, namun masih tercium jelas di hidup Zian.
Yakin memang ada yang tidak beres pada mobilnya. Zian pun segera memeriksanya. Dan benar dugaannya, ada yang sengaja ingin mencelakainya. Beruntung sekali Zian segera menyadarinya, karena jika tidak, entah bagaimana nasibnya? Dan bisa-bisa dia mengalami hal yang fatal dan juga mengerikan.
Satu-satunya cara untuk menemukan siapa pelakunya, adalah dengan memeriksa CCTV di area parkir. Dan siang tidak akan melepaskan orang itu, jika dia sampai menemukan siapa pelakunya.
.
.
Deru suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatian Luna yang sedang berdiri di balkon kamarnya menikmati udara malam. Wanita itu memicingkan matanya, ketika melihat sebuah mobil memasuki halaman luas tersebut. Dalam hatinya dia bertanya-tanya siapa yang datang untuk bertamu malam-malam begini. Sampai dia melihat Zian keluar dari kursi depan samping kemudi.
Kemudian Luna beranjak dari balkon dan melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Dari lantai dua, Luna melihat Zian yang sedang berbincang dengan seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah Max.
"Zian, kenapa kau pulang dengan, Max? Dimana mobilmu?" tanya Luna penasaran.
Luna memicingkan matanya dan menatap Zian dengan penuh selidik. "Benarkah? Kau tidak sedang merahasiakan sesuatu dariku bukan?" Luna memastikan.
Zian menggeleng. "Tidak, aku tidak menyembunyikan apapun darimu," jawabnya meyakinkan.
"Dia bohong, adik ipar." seru Max menyahuti. "Sebenarnya ada orang yang sengaja merusak rem mobil Zian dan berusaha mencelakainya. Beruntung dia segera menyadarinya, jadi tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Jelasnya.
Luna membulatkan pupil matanya, lalu pandangannya bergulir pada Zian. "Zian, benarkah itu?" tanya Luna memastikan.
"Hm,"
"Lalu kenapa kau berbohong padaku?" Luna menatap Zian dengan marah. "Aku paling tidak suka dibohongi, dan berani-beraninya kau membohongiku!!"
Zian mahalan nafas. "Maaf, Luna. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu, hanya saja aku tidak ingin membuatmu cemas dan khawatir, jika memberitahumu yang sebenarnya. Tapi aku berjanji padamu, mulai dari sekarang aku akan lebih terbuka padamu, sekali lagi aku minta maaf." Zian menepuk kepala Luna dan menatapnya dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
Luna mempoutkan bibirnya. "Awas saja jika kau berani membohongiku lagi , aku tidak akan memaafkan!!" ucapnya menegaskan.
Zian mengangguk. "Aku berjanji." Luna mendesah berat. Kemudian ia berhambur ke dalam pelukan Zian dan memeluknya dengan erat.
"Syukurlah, kau baik-baik saja, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku jika sesuatu yang buruk sampai menimpa dirimu." Ucap Luna sambil mengeratkan pelukannya.
Dan sementara itu, Max yang menyaksikan kemesraan mereka berdua hanya bisa gigit jari. Dia benar-benar iri pada Zian karena mendapatkan istri yang sangat cantik dan juga mencintainya. Membuatnya ingin segera memiliki pasangan juga
"Hei, kalian berdua. Bisa tidak, jika kalian tunda dulu bermesraannya? Apa kalian berdua tidak melihatku masih ada disini? Jadi tunda dulu saja bermesraannya," seru Max melayangkan protesnya.
Keduanya pun sama-sama melepaskan pelukannya, lalu menatap Max yang juga menatap pada mereka dengan kesal. Bukannya meminta maaf, Luna malah tertawa, membuatnya semakin kesal. Dan akhirnya Max berpamitan pulang. Dia tidak ingin menjadi obat nyamuk mereka berdua.
Dan disini mereka berdua sekarang, Luna dan Zian berada di kamar mereka. Luna tak sedikitpun melepaskan tatapannya dari Zian, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika Zian tidak segera menyadari jika ada yang tidak beres pada mobilnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Zian yang sedikit terganggu dengan tatapan Luna.
Wanita itu menggeleng. "Tidak apa-apa, aku hanya sedikit membayangkan apa jadinya dirimu jika kau tidak menyadarinya dari awal. Dan baru membayangkannya saja sudah membuatku ketakutan setengah mati." Jawab Luna.
Kemudian Zian menarik bahu Luna dan membawa wanita itu ke dalam pelukan, dia merasakan tubuh Luna yang sedikit gemetar ketakutan. "Jangan takut, semua akan baik-baik saja, aku pasti akan menjaga diriku dengan baik," ucap Zian setengah berbisik.
"Pokoknya mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati lagi, karena bahaya selalu mengintai dirimu setiap saat," bisik Luna.
Zian menutup matanya, dan meletakkan dagunya di atas kepala Luna. "Ya, itu pasti. Aku berjanji padamu."
.
.
Bersambung.
__ADS_1