Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Dia Bukan Calon Suamiku


__ADS_3

Hujan sedang menghantam bumi dengan rintik-rintiknya. Membuat udara malam ini lebih dingin dari biasanya, namun hal itu tak menyurutkan semangat segerombolan pemuda yang sedang menyaksikan jalannya balap liar. Sorak-sorai penonton ditambah geberan suara mesin motor yang melaju kencang memecah dalam keheningan malam.


Diantar semua peserta yang mengikuti ajang balap.liar tersebut. Tidak terlihat batang hidung Zian, sang iblis jalanan tidak ada diantara orang-orang itu. Hanya ada teman-teman Zian yang datang hanya untuk menyaksikan balap liar.


"Omo!! Bukankah itu, Vera? Sedang apa dia disini dan kenapa dia bersama, Andrew?" pekikan keras itu mengalihkan perhatian Alex, Theo dan Cris.


Sontak ketiganya menoleh pada Max. "Vera, wanita tak punya hati itu?" ucap Alex memastikan. Kemudian Max menganggukkan kepalanya. Ketiganya lalu mengalihkan pandangan mereka pada para peserta balap liar. Mereka memang melihat Andrew membonceng seorang wanita. Tapi mereka tidak tau jika itu adalah Vera.


"Astaga, benar-benar kadal betina. Bisa-bisanya dia dengan laki-laki lain sementara dirinya sudah menikah." ujar Alex menimpali.


"Untung saja Zian sudah lepas darinya. Jika belum, entah bagaimana perasaannya saat melihat pemandangan semacam itu." Sahut Theo menimpali.


Terus terang saja mereka sangat bersyukur karena Zian dan Vera berpisah. Sebab mereka tau jika Vera bukanlah wanita baik-baik. Dan itu terbukti ketika dia memutuskan untuk menikah dengan Ayah Zian dan mengakhiri hubungan mereka yang sudah lama terjalin .


Apa perlu kita melaporkannya pada, Zian?" tanya Cris sambil menatap ketiga temannya bergantian.


"Untuk apa?" Max menyahut cepat. "Dia tidak akan peduli. Lagipula hidup wanita itu sekarang tak ada hubungannya dengan Zian. Jadi biarkan saja, tidak perlu mengatakan apakah padanya." Ujar Max.


Benar juga yang Max katakan. Lagipula untuk apa juga mereka ikut campur. Toh hidup yang Vera jalani saat ini sudah tidak ada hubungannya dengan Zian sama sekali, Karena bagaimanapun juga Vera bukan siapa-siapa lagi bagi Zian.


.


.


"Zian, kau sedang apa?"

__ADS_1


Luna yang baru saja bangun kebingungan saat mendapati Zian sedang berada di dapur. Lantas pemuda itu menoleh dan menatap datar pada gadis yang berjalan menghampirinya.


"Menyiapkan sarapan. Kau sudah bangun?" Zian balik bertanya sambil menatap Luna dari ekor matanya.


Gadis itu terlihat mengangguk samar kemudian menghampiri Zian lalu berdiri di sampingnya. "Perlu aku bantu?" ucap Luna sambil menatap sisi wajah Zian. Kemudian Zian menoleh, matanya dan Luna saling bersirobok menatap satu sama lain. Saling menatap selama beberapa saat untuk menyelami keindahan mata masing-masing.


Buru-buru Luna mengakhiri kontak mata diantara mereka lalu beranjak dari hadapan Zian. "Sebaiknya aku cuci buahnya saja." ucapnya seraya beranjak pergi. Luna mengeluarkan beberapa jenis buah yang berbeda dari dalam kulkas lalu membawanya ke wastafel. Zian melirik gadis itu dari sudut matanya dan tersenyum tipis. Luna terlihat sangat menggemaskan ketika sedang gugup seperti itu.


"Luna, Zian. Mama, datang!!"


Seruan keras itu kemudian mengalihkan perhatian mereka berdua. Sontak Luna dan Zian sama-sama menoleh pada asal suara dan mendapati Nyonya Xia datang sambil membawa bingkisan besar di kedua tangannya. Kemudian Luna meninggalkan Zian dan menghampiri ibunya.


"Banyak sekali yang Mama bawa," kemudian Luna mengambil alih bingkisan-bingkisan itu dari tangan ibunya lalu meletakkannya diatas meja.


"Ya. Mama, sengaja masak banyak pagi ini. Mama, tidak ingin kau sampai membuat Zian kelaparan. Ngomong-ngomong soal, Zian. Dimana dia, kenapa Mama tidak melihat batang hidung, Zian?" tanya Nyonya Xia.


Wanita itu menautkan alisnya mendengar jawaban Luna. "Dapur?" Nyonya Xia mengulang kata-kata Luna. "Sedang apa dia di sana?" kemudian Nyonya Xia meninggalkan Luna dan pergi ke dapur. Dia sangat penasaran dengan apa yang Zian lakukan di sana.


Kedua mata Nyonya Xia membelalak sempurna. Kemudian dia menghampiri pemuda itu. "Zian, apa yang sedang kau lakukan di dapur? Kau sedang membuat sarapan?" tanyanya memastikan.


Pemuda itu menganggukkan kepala. "Ya," dan menjawab singkat.


Lalu pandangan Nyonya Xia bergulir pada Luna."Yakk!! Luna, kenapa kau membiarkan zian yang menyiapkan sarapan?! Dia sedang sakit dan bisa-bisanya kau malah memintanya untuk bekerja, calon istri macam apa kau ini?!" Nyonya Xia memarahi Luna habis-habisan karena membiarkan Zian yang menyiapkan sarapan.


"Kenapa Mama malah memarahiku? Aku tidak memintanya untuk menyiapkan sarapan, dia sendiri yang mau." Luna mencoba membela diri, bisa-bisanya ibunya malah menyalahkan dirinya tanpa mengetahui yang sebenarnya.

__ADS_1


Tapi tetap saja itu sala. Zian, sedang sakit dan dia butuh istirahat. Lagipula yang bukan tugas laki-laki melayani perempuan, tapi tugas perempuan yang melayani laki-laki." Ujar Nyonya Xia menegaskan.


Luna menghela napas. Lalu pandangannya bergulir pada Zian dan menatap pemuda itu dengan sebal. Jika bukan karena dia, dirinya tidak akan dimarahi habis-habisan oleh ibunya.


"Kenapa kau masih saja berdiri di sana? Sudah tinggalkan saja," pinta Luna dengan nada sebal.


"Luna, apa-apaan kau ini, bisa-bisanya kau bicara sekasar itu pada calon suamimu. Cepat minta maaf pada, Zian. Tidak baik seorang wanita berkata sekasar itu pada calon suaminya, itu dosa." Ucap Nyonya Xia dan membuat Luna semakin kesal.


"Dia bukan calon suamiku!!" sahut Luna menimpali. Lalu Nyonya Xia menoleh dan menatap Luna penuh tanya, dia membutuhkan penjelasan dari Luna. Gadis itu menghela napas. "Aku dan Zian tidak memiliki hubungan apa-apa, apalagi hubungan special. Demi menghindari perjodohan yang kalian berdua rencanakan, aku memintanya untuk menjadi pacar pura-puraku." akhirnya Luna mengatakan yang sebenarnya pada Ibunya.


Luna sudah siap untuk menerima kemarahan ibunya perihal pengakuannya ini. Pasti dia akan sangat kecewa setelah mengetahui kebenarannya. "Itulah faktanya, Ma. Aku dan Zian memang tidak memiliki hubungan apa-apa," sekali lagi Luna mencoba meyakinkan ibunya.


Nyonya Xia menghela nafas. "Tanpa kau menjelaskan sekalipun, Mama sudah tahu jika hubunganmu dan Zian itu palsu. Mama, bisa melihatnya dari interaksi kalian yang masih sangat kaku. Mungkin papamu memang tidak peka, tapi tidak dengan Mama." ujar Nyonya Xia.


Pupil mata Luna membelalak sempurna setelah mendengar apa yang ibunya katakan. "Jadi Mama sudah tau jika aku dan Zian tidak memiliki hubungan?" kaget Luna dan dibalas anggukan oleh ibunya.


"Ya, Mama sudah tau. Kau bisa saja membohongi semua orang, tapi kau tidak akan bisa membohongi Mama. Karena Mama adalah satu-satunya orang yang paling mengerti dirimu, Luna."


Luna menatap Ibunya tak percaya. "Jadi, Mama tidak marah?" tanya Luna memastikan. Nyonya Xia menggelengkan kepalanya. "Huaaa... Ma, kau the real malaikat tak bersayap. Aku sangat menyayangi, Mama." Seru Luna lalu berhambur ke pelukan ibunya.


Kemudian Nyonya Xia melepaskan pelukannya dan menatap Luna. "Jangan kau pikir dengan bersikap manja seperti ini. Maka Mama akan memaafkanmu, cepat minta maaf pada Zian sekarang juga!!"


"MAMA!!"


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2