Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Aku Tidak Peduli Padanya


__ADS_3

"Ada yang ganttung diri... Ada yang ganttung diri...!!"


Teriakan itu seketika mengejutkan semua penghuni sel dan juga para polisi yang berjaga. Beberapa polisi berlarian menuju sel tersebut, dan betapa terkejutnya mereka ketika menemukan Donny Lu terganttung tak bernyawa.


Jasadnya pun segera di turunkan lalu dibawa keluar dari dalam sel. Sean yang mengetahui hal tersebut pun menjadi sangat histeris. Meskipun dia sempat bersitegang dengan sang ayah, bagaimanapun juga dia tetap ayahnya, orang yang selalu menjaga dan melindunginya serta menyayanginya dengan sepenuh hati.


Sean memohon pada penjaga supaya mengijinkannya keluar untuk melihat ayahnya. Dan setelah mendapatkan izin, Sean pun berlari keluar mengejar beberapa polisi yang membawa jasad ayahnya.


"Pa," Sean terus berteriak sambil berlinangan air mata. "Pa, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau sampai senekat ini?!" teriak Sean di depan jasadd Donny Lu.


"Menyingkirlah, kami harus segera membawanya ke rumah sakit untuk dilakukan otopsii," Sean di dorong mudur oleh dua polisi yang hendak membawa pergi jasadd Donny Lu. Penjaga lain kemudian membawa Sean kembali ke dalam sel-nya.


Karena dia terus memberontak, akhirnya Sean dibuat tak sadarkan diri, polisi itu memukul tengkuk Sean hingga dia jatuh tersungkur di lantai. Dengan begitu akan lebih mudah bagi mereka untuk mengembalikan dia ke dalam selnya.


.


.


Kabar tentang kematian Donny Lu telah sampai ke telinga Zian, bukannya terkejut apalagi sedih, Zian justru menunjukkan sikap dingin seperti biasanya. "Kalian urus saja pemakamannya, karena dia tidak ada hubungannya sama sekali denganku!!" ucapnya lalu memutuskan sambungan telepon itu begitu saja.


"Siapa yang meninggal?" pertanyaan itu mengalihkan perhatian Zian, ia menoleh dan mendapati Luna memasuki ruang kerjanya.


"Papa, dia ditemukan tewas ganttung diri di dalam selnya." jawabnya datar.


Pupil mata Luna sedikit membelalak setelah mendengar jawaban Zian. "Papamu?" Zian mengangguk. Lalu kenapa kau masih disini? Bukankah seharusnya kau pergi untuk pemakamannya?"


Zian menggeleng. "Aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa, aku juga tidak pernah merasa memiliki Ayah sepertimu, jadi untuk apa aku pergi ke pemakamannya?! Kematiannya tidak ada hubungannya denganku sama sekali!!" ucapnya menegaskan.


Luna terdiam mendengar kata-kata Zian, dia tidak tahu sedalam apa rasa sakit yang diberikan oleh ayahnya dulu, sampai-sampai rasa benci yang Zian miliki untuknya begitu besar. Kemudian Luna mendekati Zian lalu menggenggam tangannya yang saat ini tergenggam erat.


"Tidak pergi juga tidak apa-apa, bagaimana jika kau pergi menemaniku jalan-jalan saja? Cuaca hari ini lumayan bersahabat, bagaimana jika kita pergi ke pantai? Sudah lama aku tidak merasakan sejuknya angin pantai menerpa kulitku," ucapnya memberi usul.


Zian mengangguk. "Baiklah, kita pergi ke pantai." ucapnya dan membuat Luna tersenyum lebar. Wanita itu menjadi begitu bersemangat setelah mendengar jawaban Zian. Akhirnya setelah bertahun-tahun, sekarang dia bisa merasakan kembali sejuknya angin pantai.


.


.


Senja memerah di pantai Gwanggalli. Angin membawa punggung air beriak bergulir, tersusun menjadi serangkaian gelombang yang bergulung dan pecah di bibir pantai, menghapus segala yang tertinggal di pasir. Suara burung-burung terbang menggema di antara tebing-tebing yang mengelilingi pantai.


Sang Surya mulai terbenam di ujung barat, menandakan jika malam akan segera datang, dan siang yang terik akan segera pergi.


Zian berdiri memandangi laut lepas, merasakan pasir pantai yang basah di sela-sela jarinya. Di pantai yang ramai, ketenangannya tidak terusik sama sekali. Matanya menatap lurus batas cakrawala, biru bercampur kemerahan dan matahari semakin turun. Menandakan jika malam akan segara datang.


Air laut terasa dingin, tetapi jiwanya terasa hangat. Begitu hangat hingga ia menikmati setiap hela napasnya. Terlebih-lebih ketika ia melihat senyum lebar di bibir wanita itu.

__ADS_1


"Zian, ayo kita bermain di sana." Ucap Luna seraya menarik lengan Zian menuju tepi pantai.


Tak ada penolakan dari Zian, meskipun sebenarnya dia sangat malas, tapi Zian juga tidak bisa menolaknya apalagi mengecewakan Luna. "Luna, pelan-pelan saja, tidak perlu berlari,"


"Itu hanya akan membuang-buang waktu," jawabnya menimpali.


Semilir angin menerbangkan rambutnya yang diikat ekor kuda. Senyumnya begitu lepas, seperti samudra tanpa batas. Membuat hati Zian seketika menghangat. Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan tipis dibibir Kiss ablenya.


"KKYYYAAA!!!"


Luna berteriak histeris dan buru-buru berlari ketika ombak menuju tepian. Gelak tawa juga terdengar sela-sela teriakannya. Sedangkan Zian hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan Istrinya.


Zian terus menatap Luna dan menyuruhnya untuk berhenti. Luna pun menurutinya, kemudian Luna menatapnya dan merasakan debaran keras di dalam dadanya ketika Zian menatapnya tajam.


Hingga dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah ia melakukan kesalahan sampai-sampai Zian memberikan tatapan mengintimidasi seperti itu?


Zian maju satu langkah mendekati Luna, kemudian dia mengangkat tangan kanannya dan mulai mengusap pipi Luna dengan punggung tangannya yang besar. Membuat Luna langsung merinding karena ini pertama kalinya Zian melakukan hal semacam ini.


"Luna, aku tidak bisa memungkiri jika kau adalah bagian dari hidupku, dan aku tidak pernah ingin berpisah denganmu. Aku ingin selalu berada di sisimu, dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Hatimu adalah milikku dan hatiku adalah milikmu," kata Zian sambil menatap langsung ke dalam mata Luna.


Membuat Luna merasa terharu mendengar perkataan Zian yang begitu romantis, dengar Zian mengucapkan kata-kata romantis seperti itu adalah hal yang sangat langkah.


"Kau adalah milikku, dan selamanya akan seperti itu." Ucap Zian lagi.


Nafas Zian terasa hangat di kulit wajah Luna. Zian mengarahkan bibirnya pada pipi Luna lalu menciumnya, kemudian bibir Zian berpindah ke bibirnya.


Saat ini wajah Luna memerah seperti tomat matang, dengan lembut jari-jari Zian mengelus bibir Luna dengan ibu jarinya. "Bibirmu sangat manis dan aku menyukainya," lalu dicium kembali bibir itu dengan ciuman penuh hasrat dan membuat Luna semakin merapat pada Zian.


Zian mulai melumatt bibir Luna, dan dia merasakan suatu arus deras mengelilingi tubuhnya dan melewati nadi-nadinya. Luna begitu terbawa oleh buaianĀ Zian yang menggelorakan.


Wanita itu merasakan tubuhnya melekat sempurna ke dalam pelukan Zian, dan bulan hanya bibir mereka berdua saja yang menyatu, tetapi tubuh mereka juga saling menempel. Luna tidak tahu dengan pasti berapa lama mereka berciuman. Tapi yang jelas sangat lama.


Zian melepaskan tautan bibirnya lalu menatap Luna dengan lengkap lekat. Sudut bibirnya tertarik keatas. Kemudian Zian menarik kembali Luna ke dalam dekapannya dan kembali membenamkan bibirnya pada bibir Luna dengan penuh nafsu. Deburan ombak dan semilir angin bertiup membawa mereka ke alam lain. Menjadi saksi apa yang sedang mereka lakukan saat ini.


Wajah Luna dan Zian sama-sama memerah padam, Bukan karena gugup tapi karena asupan oksigen di dalam paru-parunya yang mulai menipis.


"Zian, aku sangat bahagia memilikimu di sisiku, sebelumnya aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Tidak diragukan lagi kamu adalah belahan jiwaku, satu-satunya pria yang aku inginkan di dunia ini." kata Luna sambil membelai wajah Zian.


Zian memegang tangan Luna lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Begitupun dengan diriku, bisa memilikimu adalah sebuah Anugerah Terbesar yang Tuhan berikan padaku. Kau adalah hidupku, Luna aku sangat-sangat mencintaimu."


Kemudian Zian melepaskan pelukannya dan menatap Luna yang juga menatap padanya. "Sudah hampir malam, sebaiknya kita pulang," ucap Zian dan dibalas anggukan oleh Luna. Keduanya kemudian meninggalkan pantai tempat mereka berada saat ini.


.


.

__ADS_1


Sean hanya bisa menatap sedih batu nisan di hadapannya itu. Ia telah kehilangan ayah dan ibunya, yang membuatnya menjadi seorang yattim piatu. Kemudian dia menyapukan pandangannya untuk mencari keberadaan Zian, tetapi dia tidak melihat batang hidungnya, Zian tidak datang.


"Apa Adikku sudah diberitahu?" tanya Sean pada polisi yang berdiri dibelakangnya.


"Sudah, tapi dia tidak peduli. Dia bilang kematian ayahmu tidak ada hubungannya dengan dia sama sekali,"


Tangan Sean yang terkepal kuat setelah mendengar apa yang dikatakan oleh polisi tersebut. "Apa dia sudah gila?" batin Sean mengumpat. Sean benar-benar tidak habis pikir dengan Zian, bagaimana bisa dia tidak datang di pemakaman ayahnya sendiri.


"Bisakah kau memberiku ijin untuk pergi menemuinya? Kalian bisa mengawalku dengan ketat, tidak akan melarikan diri, aku hanya ingin bertemu dengan adikku." Ucapnya dengan mata berkilat marah.


"Hanya 30 menit waktu yang kau miliki, jadi gunakan waktu itu sebaik-baiknya sebelum kau kembali ke dalam sel mu."


Sean menggeleng. "Tidak masalah, bahkan hanya satu menit sekalipun sudah cukup. Dan aku ingin pergi sekarang juga!!" ucapnya. Sean ingin memberikan pelajaran pada Zian karena sudah bersikap keterlaluan. "Zian, aku tidak akan pernah memaafkanmu!!"


.


.


Zian dan Luna saling bertukar pandang saat melihat sebuah mobil polisi berhenti di depan gerbang kediaman Lu. Seorang polisi keluar dari mobil itu lalu menghampiri mobil Zian.


"Ada apa ini?" tanya Zian tanpa basa-basi.


"Maaf, Tuan Muda Lu, kakak anda ingin bertemu. Saat ini dia sedang ada di mobil, dia ingin bicara empat mata dengan Anda." ucap Polisi tersebut.


Zian mengangguk. "Baiklah," lalu pandangan Zian bergulir pada Luna. "Kau masuklah duluan, aku akan segera menyusul," Zian keluar dari mobilnya lalu menghampiri mobil polisi tersebut.


Sean keluar dari mobil itu lalu menghampiri Zian. Mereka berbincang secara empat mata, Sean tak diawasi oleh polisi, mereka hanya melihatnya dari kejauhan. "Katakan, untuk apa kau ingin bertemu denganku?" tanya Zian tanpa basa-basi.


"Untuk ini!!" Sean melayangkan kepalan tangannya ke muka Zian dan membuat pelipis kanannya robek akibat gerigih besi yang membebat jari-jarinya. Dasar segar seketika keluar dari luka itu dan mengotori wajah tampannya. "Bajjingan, kau tahu papa meninggal tapi kenapa tidak datang?!" ucap Sean dengan geram..


"Karena dia bukan ayahku!!" Zian menjawab dengan santai. "Jadi untuk apa aku datang ke pemakamannya?!"


"ZIAN, KAU!!" bentak Sean dengan emosi.


Kembali dia melayangkan pukulannya ke arah Zian, namun kali ini berhasil ditangkis olehnya. Sean meringis kesakitan karena remasan Zian pada tangan kanannya. Darah segar tampak keluar dari sela-sela jarinya, luka yang diakibatkan oleh gerigih besi tersebut. Dan rasa sakit yang Sean rasakan akibat tekanan yang Zian berikan.


"Jangan pernah mencoba mencari masalah dan gara-gara denganku. Jangan sampai aku melakukan sesuatu yang buruk padamu, sebelum kesabaranku habis, sebaiknya angkat kakimu dari sini?!" pinta Zian menuntut. Kemudian dia mendorong Sean hingga terhubung ke belakang.


Sean menatap Zian dengan penuh amarah. Dua polisi menghampiri mereka lalu membawa Sean bersamanya, waktu Sean sudah habis dan dia harus segera kembali ke kantor polisi. Sedangkan Zian masuk ke dalam. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana histerisnya Luna ketika melihatnya berdarah-darah.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2