
Deru suara motor yang melaju kencang memecah dalam keheningan malam disalah satu lokasi di Seoul. Tengah malam yang seharusnya sunyi dan sepi malah berubah menjadi waktu-waktu yang penuh dengan kebisingan.
Beberapa motor sport yang ditunggangi oleh beberapa pemuda melaju dengan cepat tinggi dan saling mendahului berusaha untuk jadi yang terdepan. Bahkan tak terpungkiri beberapa pengendara sengaja membenturkan motor mereka dengan motor milik lawan demi mencegah lawan mereka untuk mendahului.
Sementara itu sebuah motor sport hitam metalik dengan perpaduan warna merah menyala melaju dengan kecepatan penuh di barisan terdepan. Motor itu terus melaju meninggalkan jauh motor lainnya di belakang. Dia yang terdepan dan tak terkalahkan.
Hingga ketika garis finish sudah dapat terlihat, sang pengendara langsung menambah kecepatan pada laju motor besarnya dan motor tersebut melesat cepat menuju garis finish dengan mulus tanpa hambatan. Ya, dia memenangkan pertandingan balap liar malam ini.
"Sial!! Lagi-lagi aku kalah dari bajingann itu," umpat seorang laki-laki yang masih duduk diatas motor besarnya. Ini adalah kekalahannya untuk yang kesekian kalinya. Dan lagi-lagi yang mengalahkannya adalah orang yang sama, yakni Zian.
"Reg, aku bertaruh banyak untuk kemenanganmu malam ini. Tapi ternyata kau kalah lagi darinya. Aku benar-benar menyesal karena telah mengeluarkan banyak uang untuk manusia tak berguna sepertimu!!" seseorang menghampiri pria itu 'Reg' dan menyampaikan kekecewaannya.
Reg menatapnya dengan marah. "Kenapa kau malah menyalakanku?! Jika takut kalah, sebaiknya tidak usah ikut bertaruh. Lagipula alat yang menang sudah biasa dalam taruhan ." Ucap Reg tak kau kalah.
Bersama teman-temannya, kemudian Reg meninggalkan arena balap liar. Sementara kubu Zian hendak pergi ke club' malam untuk merayakan kemenangan besarnya.
Sejauh ini belum ada satupun lawan yang berhasil mengalahkan Zian. Bahkan mereka yang mengaku paling hebat sekalipun, julukan Raja jalanan masih dipegang oleh Zian. Dan Zian sangat berharap jika suatu saat dia bisa menemukan lawan yang seimbang.
.
.
Deru suara motor yang berasal dari motor-motor besar yang melaju di jalanan malam kota membuat banyak orang terganggu.
Baik itu pejalan kaki, pedagang maupun pengendara lain. Aksi tak terpuji para pemuda-pemuda berandal itu begitu meresahkan. Membuat warga merasa tidak nyaman dalam beraktivitas di malam hari.
__ADS_1
Banyak anak kecil yang terbangun dan menangis karena ulah geng motor tersebut. Warga telah melaporkan geng itu pada pihak yang berwajib, tapi mereka justru angkat tangan. Karena para geng motor itu begitu sulit untuk ditertibkan.
BRUMM.... BRUMM... BRUMM...
"Ahhh.... Sialan, kenapa mereka berisik sekali?!" teriak seorang gadis yang sedang sibuk merangkai bunga di 'Star Florist'
Dan dengan emosi yang meledak-ledak, gadis itu bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar sambil membawa seember air yang dia ambil dari kamar mandi. Seorang gadis lain mencoba menghentikannya.
"Luna, kau mau kemana? Jangan keluar, itu sangat berbahaya. Luna, tunggu!!" seru perempuan itu yang tak lain dan tak bukan adalah Starla. Tapi sayangnya teriakan Starla tak digubris oleh Luna.
Dan sesampainya di luar toko. Luna melihat beberapa motor besar yang sedang konvoi di jalanan sambil menggeber motornya dengan keras. Tanpa berkata apa-apa Luna langsung menyiramkan air itu kearah mereka dan membuat beberapa motor roboh karena hilang kendali.
"Yakk!! Betina, apa-apaan kau ini?! Kau sudah bosan hidup, ya?!" bentak salah satu pemuda yang jatuh dari motor besarnya karena ulah Luna.
"Justru kalian yang apa-apaan?! Apa kalian semua tidak memiliki otak sampai-sampai membuat keributan dijalan malam-malam begini!! Apa kalian pikir jalanan ini milik nenek moyangmu, sehingga kalian bisa membuat keributan dengan seenak jidat!!" teriak Luna tak mau kalah.
Ketua geng Black Jack itu pun terlihat turun dari motor besarnya lalu menghampiri Luna yang sedang berdebat hebat dengan beberapa anak buahnya.
"Cukup, hentikan!!" seru Andrew dan menghentikan perdebatan mereka berlima. Lalu pandangannya bergulir pada anak buahnya. "Kembali ke motor kalian. Tidak perlu berdebat lagi. Dan untukmu Nona yang sangat pemberani, aku hargai keberanianmu menghentikan kami. Tapi tanpa kau sadari kau telah menempatkan dirimu sendiri dalam masalah besar, Nona!!" ujarnya.
Luna menyeringai dan menatap Andrew dengan sinis. "Benarkah? Atas dasar apa kau mengatakan jika aku menempatkan diriku sendiri dalam masalah besar? Oh, atau hanya karena menghentikan kalian semua berbuat onar? Justru kalianlah yang sedang dalam masalah besar!!" ujar Luna tak mau kalah.
"Kali ini kau aku lepaskan. Tapi ingat, sekali lagi kau berani ikut campur, habis kau!!" Andrew memberi ancaman sebelum pergi dari hadapan Luna.
Gadis itu mendesah berat. "Benar-benar manusia tidak berontakk. Jelas-jelas salah, hanya meminta maaf malah mengancam. Kalian pikir aku takut pada ancamannya itu, jangan bermimpi!!" Luna mengambil embernya yang ada di tanah lalu membawanya masuk ke dalam. Dan Starla merasa lega melihat Luna baik-baik saja.
__ADS_1
"Luna, syukurlah kau baik-baik saja. Aku benar-benar takut dan cemas mereka akan melakukan sesuatu yang buruk padamu, tapi syukurlah kau tidak kenapa-napa." Ujar Starla.
"Aku bukanlah gadis yang lemah. Jadi kau tidak perlu mencemaskan ku secara berlebihan. Oya, Starla. Aku pulang dulu, ya. Besok aku akan kembali lagi kesini," Ucap Luna dan dibalas anggukan oleh Starla.
Karena saking asiknya bekerja. Sampai-sampai Luna tidak sadar jika ini sudah larut malam. Jam dinding telah menunjuk angka 22.00 malam. Dan seharusnya Luna sudah pulang sejak 4 jam yang lalu.
.
.
Tiga puluh menit berkendara. Luna tiba di rumahnya. Dan dia sedikit terkejut melihat sebuah motor yang tampak tak asing terparkir di depan pagar rumahnya. Dan lagi-lagi pemiliknya tidak ada, persis seperti kejadian malam itu.
Takut sesuatu yang buruk terjadi pada pemilik motor besar itu yang tak lain dan tak bukan adalah Zian. Luna pun segera turun untuk memastikannya. Dia benar-benar takut sesuatu yang buruk menimpa Zian seperti malam itu. Dimana dirinya menemukan pemuda itu dalam keadaan terluka parah.
Luna mencarinya disekitar motor besarnya. tapi batang hidung Zian tak juga terlihat olehnya. Dan hal itu membuat Luna semakin cemas dan perasaannya semakin tak karuan.
"Zian," Luna menyerukan nama pemuda itu. Namun tak ada jawaban, sampai akhirnya dia merasakan tepukan dipundak kanannya diiringi suara bariton pria yang masuk ke dalam indera pendengarnya.
"Kau mencari ku!" tanya orang itu. Sontak Luna menoleh dan...
"ZIAN?!"
.
.
__ADS_1
Bersambung.