
Dessahan demi dessahan berkali-kali keluar dari bibir sepasang suami-istri yang sedang bergullat dengan panasnya di kamar mereka. Sprei yang menjadi alas tempat mereka berciinta pun tampak berantakan dan tak berbentuk lagi, kain-kain berserakan dilantai.
Malam yang terasa dingin bagi orang lain, justru terasa panas bagi mereka berdua. Dan mereka adalah Zian dan Luna. Tubbuh putih Luna yang halus bak porselen dihiasi beberapa bercak merah tanda kepemilikan, yang mengartikan jika Luna hanya milik Zian.
"Aahhh...Zian, lebih cepat lagi, lebih cepat lagi." rancau Luna ditengah dessahannya.
Zian menyeringai. "Sepertinya kau sangat menikmatinya, Sayang. Tapi maaf harus mengecewakanmu. Aku sudah hampir mencapai puncaknya," ucap Zian lalu membenamkan bibiirnya pada biibir Luna dan menciiumnya seperti tadi. Dan ini adalah ronde kedua, pantas saja jika tenaga Zian mulai terkuras habis.
Dan benar apa yang Zian katakan. Kurang dari satu menit, akhirnya dia melakukan pelepasan. Dia memuntahkan semua miliknya di dalam diri Luna, memberikan sensasi hangat dan nikmat. Kemudian Zian menjatuhkan tubuhnya diatas Luna, meletakkan kepalanya dipertopangan leher wanitanya.
"Ahhhh," mereka sama-sama memekik pelan ketika Zian menarik miliknya keluar dari kehangatan Luna.
Mata itu menatap wajah cantik Luna yang tampak sayu. Zian menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. "Kau sangat luar biasa, Sayang." bisik Zian lalu mengecup pelan bibir Luna.
"Kau juga," Luna tersenyum lalu memeluk leher Zian. Sekali lagi dia mencium bibir suaminya, singkat."Aku lapar, setelah ini temani aku makan," ucapnya lalu beranjak dari hadapan Zian dan melesat masuk ke kamar mandi.
Zian memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai lalu memakainya kembali. Tubuh kekarnya dalam balutan kemeja hitam lengan terbuka dan celana panjang berwarna sama dengan kemejanya. Lima menit kemudian Luna keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh.
Luna tersenyum lebar. Lalu pandangannya bergulir pada tribal yang menghiasi lengan kanan suaminya. Entah kenapa akhir-akhir ini Luna menjadi sangat suka memperhatikan tribal tersebut. Wanita itu menghampiri Zian lalu memeluk lengan kanannya dan mencium tribalnya.
"Aku sangat menyukai tribal ini, bisakah kau lebih sering lagi memperlihatkannya padaku?" Luna menatap Zian dengan penuh harap, matanya terkunci pada mata hitam itu.
Zian mendengus. "Bukankah kau selalu bisa melihatnya setiap waktu? Bukankah tribal ini ada jauh sebelum kita menikah, tapi kenapa kau baru menyukainya sekarang?" Zian menatap Luna dengan heran.
Wanita itu menggeleng. "Entah, mungkin karena dulu kita tidak sedekat sekarang, dulu aku hanya lebih sering memperhatikan wajah tampanmu." Jelas Luna.
Zian menyeringai. "Oh, jadi kau sudah mengagumiku sejak dulu?" ucapnya dengan seringai yang sama.
Luna menggeleng. "Mana ada, tentu saja tidak. Kau terlalu mengada-ada. Aku kan hanya bilang lebih sering memperhatikan wajah tampanmu, bukan karena mengagumimu!!" tukas Aster menegaskan. Zian malah tertawa mendengar pembelaan istrinya. Dia maju satu langkah lalu mengecup singkat bibir ranumnya itu.
"Iya iya, aku percaya. Bukankah tadi kau bilang lapar dan ingin makan? Ayo, aku akan menyiapkan makanan untukmu." Ucap Zian dan segera dibalas anggukan oleh Aster.
Wanita itu menjadi begitu bersemangat, ketika Zian mengatakan akan menyiapkan makanan untuknya. Dan memang kebetulan sekali Aster ingin sekali makan, masakan Zian. Keduanya lalu berjalan beriringan meninggalkan kamar mereka.
.
__ADS_1
.
Kelopak mata itu terbuka secara perlahan-lahan, dan memperlihatkan sepasang manik hitam yang tampak sayu dan redup. Pandangannya kemudian menyapu, memperhatikan sekelilingnya, iya berada di ruangan serba putih dengan aroma khas yang menyengat. Tanpa ada penjelasan sekalipun, dia sudah tahu dimana Dirinya berada saat ini.
Ia merasakan keanehan pada tubuhnya, tubuhnya tak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan tangan dan kakinya, terasa sakit ketika dia mencoba untuk menggerakkan. Dan decitan suara pintu terbuka seketika mengalihkan perhatiannya. Orang yang baru saja memasuki kamar itu terkejut melihatnya telah sadar dari komanya.
"Vera," dan orang itu berseru, menyerukan nama wanita itu yang ternyata adalah Vera. "Kau sudah sadar, Nak. Mama, sangat lega, karena akhirnya kau bangun juga." ucap wanita paruh baya itu sambil menyeka air matanya.
"Ma, apa yang terjadi padaku? Kenapa tubuhku susah sekali digerakkan, bahkan kaki dan tanganku terasa sakit dan sekujur tubuhku terasa mati rasa. Ma, katakan dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi padaku?" tanya Vera meminta penjelasan. Dia benar-benar membutuhkan sebuah penjelasan dari ibunya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Vera, wanita itu justru menundukkan wajahnya sambil menahan isakannya. Membuat Vera kebingungan dan bertanya-tanya. "Ma, aku memintamu untuk menjawab, bukannya menangis!!" kata Vera yang mulai kesal.
Kemudian wanita itu menyeka air matanya, dan menatap Vera dengan sendu. "Vera, kau lumpuh, Nak. Dokter mengatakan, kau mengalami banyak patah tulang pada sekujur tubuhmu. Itulah yang membuat seluruh tubuhmu tak bisa berfungsi lagi, kau lumpuh permanen." jelas wanita itu dengan suara para.
Seketika mata Vera berkaca-kaca mendengar penjelasan ibunya. Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin, pasti Mama membohongiku kan. Aku tidak mungkin lumpuh, Mama pasti bercanda. Aku tidak lumpuh, Ma. Aku tidak mau lumpuh, AKU TIDAK MAU LUMPUH!!" jerit Vera di akhir kalimatnya. "AAAHHHH..." dia berteriak histeris dan sekeras-kerasnya. Wanita itu pun segera membeli Vera dan mencoba untuk menenangkannya.
"Vera... Tenangkan dirimu, bagaimanapun keadaanmu, Mama akan tetap menerimamu. Kau adalah Putri kesayanganmu," wanita itu menyeka air matanya. Dia benar-benar tidak tega dengan keadaan putrinya saat ini.
Vera menggeleng. "Aku tidak mau lumpuh, Ma. Aku tidak mau lumpuh." Vera menerima karmanya dengan konten. Karma itu begitu cepat datang menimpanya, dan apa yang dialami sekarang adalah buah dari semua perbuatannya.
.
.
Kehadiran Luna benar-benar membawa perubahan besar pada diri Zian. Dan karena dia pula, Tuan Mudanya itu mau berubah menjadi lebih baik dan meninggalkan kegelapan lalu kembali kepada cahaya.
Di Satu sisi dia merasa iri yang ditunjukkan oleh pasangan muda tersebut. Melihat orang lain berpasangan, membuat Paman Kim ingin juga ingin memiliki pasangan, karena sampai saat ini dia masih sendiri dan belum beristri, padahal usianya sudah tidak muda lagi.
Paman Kim menghela nafas, kemudian dia berbalik dan melenggang pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Dan sepertinya Luna menyadarinya.
"Zian, sepertinya kita sudah membuat orang lain iri," ucap Luna dan membuat perhatian Zian teralihkan padanya.
Zian mengangkat sebelah alisnya. "Siapa?" dia bertanya penasaran.
"Paman Kim, aku baru saja melihatnya pergi setelah memperhatikan kita dari kejauhan, sepertinya dia iri dengan kita berdua. Dan aku sangat heran, kenapa sampai sekarang dia tidak menikah dan mencari pasangan hidup, apa kau tahu alasannya?" Luna menatap Zian penuh tanya.
__ADS_1
Laki-laki itu menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu, karena itu bukan urusanku." jawabnya dan membuat Luna merenggut kesal, karena Bukan jawaban itu yang dia inginkan.
"Dasar kulkas dua pintu, apa kau tidak bisa memberikan jawaban lain? Kau benar-benar menyebalkan!!" ucap Luna setengah menggerutu.
Zian terkekeh. Dia gemas sendiri dengan tingkah Luna. Beberapa bulan mengenalnya, baru sekarang dia menemukan sisi-sisi lain dari wanita itu. Tak hanya cantik dan bar-bar, ternyata Luna adalah wanita yang sangat unik.
"Sudah cepat habiskan makananmu, setelah ini kita kembali ke kamar. Aku benar-benar lelah dan ingin segera tidur," ucap Zian.
Luna menghela napas. "Huft, baiklah." Luna pun segera menghabiskan makanannya. Bulan hanya Zian yang lelah dan mengantuk, tapi dirinya juga. Luna pun ingin segera tidur.
.
.
Hari berganti dengan sangat cepat. Malam yang dingin telah berlalu dan pagi yang hangat datang menyapa, bulan kembali ke peraduannya dan mentari datang menggantikan tugasnya. Membangunkan para manusia kelelahan supaya tidak melewatkan satu moment pun di pagi yang cerah ini.
Jam dinding masih menunjuk angka 06.00 pagi. Akan tetapi semua orang sudah mulai beraktivitas dan melakukan tugas masing-masing. Ada yang menyiapkan sarapan, ada yang bersih-bersih, ada yang mengurus tanaman dan masih banyak lagi. Semua sesuai pekerjaan dan posisi masing-masing.
Seorang wanita terlihat keluar dari kamar mandi lalu berjalan lurus kearah tempat tidur untuk membangunkan sosok pria yang masih terlelap dalam mimpinya. Wanita itu mengguncang lengan pria itu dengan pelan sambil memanggilnya dengan suara lembut.
"Zian, bangun, ini sudah siang. bukankah kau harus pergi bekerja," ucap wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Luna.
"Hm, lima menit lagi sayang," Zian menanggapi.
Luna mendengus sambil menggelengkan kepala."No, kau harus bangun sekarang juga!! Ini sudah siang, kau masih harus mandi dan bersiap-siap, belum sarapan dan yang lain juga. Jadi cepat bangun dan aku tidak ingin mendengar penolakan!!" ujar Luna menegaskan.
Zian menghela napas. Dengan terpaksa iya bangun karena sudah tidak tahan mendengar ocehan-ocehan Luna yang tidak ada habisnya. Dan Zian tidak tahu sejak kapan wanita itu menjadi begitu cerewet, karena seingat Zian dia sering diam ketika bersamanya, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Zian melenggang keluar dan mendapati Luna yang sedang membantu pelayan menyiapkan sarapan. Meskipun dia sama sekali tidak ahli dalam urusan memasak, tapi dia begitu berusaha untuk bisa menjadi istri yang sempurna. Sudut bibir Zian tertarik keatas dan mengukir senyum tipis dibibir Kiss Ablenya.
Hati Zian yang selalu dingin kini terasa hangat dan semua itu sejak kehadiran Luna dalam hidupnya. Dia sangat berharga , bahkan lebih berharga dari semua yang dia miliki saat ini. Lambaikan tangan itu membuat sudut bibir Zian tertarik keatas. Kemudian dia melanjutkan langkahnya dan pergi ke meja makan untuk bergabung dengan Luna.
.
.
__ADS_1
Bersambung.