
Zian dan Tuan Xia tengah bertanding dengan serius. Keduanya sedang bermain catur di ruang keluarga. Siapa yang menduga jika mereka berdua bisa langsung akrab meskipun ini merupakan pertemuan mereka yang pertama.
Kehangatan dalam keluarga yang tak pernah Zian temukan dalam keluarganya justru dia temukan dalam keluarga Luna. Ibu, ayah dan kakak gadis itu memperlakukannya dengan sangat baik meskipun ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.
"HAHAHA...! ZIAN, AKHIRNYA KAU KALAH JUGA DARI, PAMAN." seru Tuan Xia setelah berhasil mengalahkan Zian. Dan ini pertama kalinya dia memenangkan pertandingan setelah mengalami kelelahan lebih dari satu kali.
Zian menyeringai. "Apa Paman yakin?" pemuda itu menatap Tuan Xia dengan tatapan yang sama. "Sayangnya aku masih memiliki satu langkah lagi, Paman. Skak!! Paman, kau kalah lagi." Pemuda itu menatap Tuan Xia dengan senyum penuh kemenangan.
Mata Tuan Xia membelalak sempurna."A..Apa, bagaimana bisa? Tidak bisa, tidak bisa. Zian, pasti kau curang kan sama, Paman. Makanya kau memang lagi!!" Tuan Xia tidak bisa menerima kekalahannya.
"Sudahlah, Paman. Kalah ya kalah saja, tidak usah mengelak apalagi mencoba untuk membela diri." Ucap Zian dengan seringai yang sama.
Tiga kali dia kalah dari Zian. Tuan Xia pikir dia memang dipertandingan kali ini. Tapi nyatanya Zian mengalahkannya lagi untuk ketiga kalinya. "Zian, kau curang. Sudahlah, Paman tidak mau bertanding lagi denganmu!!" seru Tuan Xia seraya bangkit dari kursinya.
Bukannya merasa tersinggung oleh ucapan Tuan Xia. Zian justru tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Sudut bibirnya tertarik keatas dan membentuk senyum setipis kertas. Hatinya benar-benar menghangat. Zian menemukan apa yang tak pernah dia rasakan dalam hidupnya. Yakni kehangatan dan kasih sayang sebuah keluarga.
Selepas kepergian Tuan Xia. Terlihat Luna datang dari dapur dan menghampiri Zian. Gadis itu tersenyum ketika tatapan Zian tertuju padanya.
"Bagaimana? Apa Papaku merepotkanmu?" tanya Luna yang kemudian dibalas gelengan oleh Zian."Syukurlah. Sepertinya keluargaku sangat menyukaimu, bagaimana jika kita lanjutkan saja sandiwara ini?" usul Luna.
"Mengambil kesempatan dalam kesempitan, eh? Atau mungkin kau yang tidak ingin hubungan pura-pura ini sampai berakhir?" ucap Zian sambil mengunci manik Hazel milik Luna.
__ADS_1
Gadis itu pun gelagapan dibuatnya. Karena jaraknya dan Zian begitu dekat. Bola mata berbeda warna milik mereka berdua saling bersirobok dan menatap dalam diam selama beberapa detik.
Merasa tak sanggup, buru-buru Luna mengakhiri kontak mata diantar mereka berdua dan menatap kearah lain. "A..Aku melupakan sesuatu. Sebaiknya tetap disini, Mama sedang menyiapkan makanan yang special untukmu." Ucap Luna lalu beranjak dari hadapan Zian dan pergi begitu saja.
Lagi-lagi Zian mengurai senyum setipis kertas. Pemuda itu menggelengkan kepala melihat tingkah Luna. Zian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Matanya tertutup rapat.
"Zian, ayo kita tanding sekali lagi. Dan kali ini Paman tidak akan kalah lagi darimu!!" seru Tuan Xia.
Zian membuka kembali matanya yang sebelumnya tertutup rapat setelah mendengar suara Tuan Xia yang berkaur di telinganya. "Paman, apa kau masih belum puas juga setelah kalah tiga kali dariku?!" Zian menatap Tuan Xia dengan pandangan dingin dan datar.
"Kali ini aku tidak mungkin kalau lagi darimu. Lihat saja bagaimana Paman akan mengalahkanmu. Akan Paman tunjukan skill permainan catur terbaik Paman padamu!!" ucap Tuan Xia menegaskan.
Rupanya Tuan Xia masih belum puas juga meskipun sudah dikalahkan tiga kali olehnya. Dan dia menontonnya lagi, dan kali ini Tuan Xia begitu percaya diri bisa mengalahkannya. Apakah Zian menolaknya? Maka jawabannya tidak, Zian menerima tantangan Tuan Xia.
Mereka berdua kembali bertanding. Dan kali ini Tuan Xia tak akan membiarkan dirinya kalah lagi dari Zian. Karena jika sampai kalah lagi, dia bisa hilang muka apalagi sudah percaya diri akan menang. Vincent yang baru saja tiba di rumah pun langsung tertarik untuk melihat pertandingan Zian dan ayahnya.
"Skak!! Paman, kau kalah lagi. Jadi akui saja kekalahan mu. Mau bertanding 1000 kali lagi sekalipun, kau tidak akan menang dariku," ujar Zian dengan senyum penuh kemenangan.
Vincent mengacungkan jempolnya pada Zian sambil memujinya. "Wah, kau sangat hebat. Baru kali ini ada orang yang berhasil mengalahkan, Papa. Oya, ngomong-ngomong kau ini siapa?" Lalu pandangan Vincent bergulir pada Zian.
Vincent menatap Zian penuh tanya. Dia sangat penasaran dengannya. Karena Vincent belum pernah melihat apalagi bertemu dengan Zian sebelumnya. Tiba-tiba Tuan Xia menjadi begitu bersemangat setelah mendengar pertanyaan Vincent.
__ADS_1
"Oya. Papa, sampai lupa memperkenalkan dia padamu. Namanya Zian dan dia adalah calon adik iparmu, dia kekasih Luna." Jawabnya dengan semangat.
Pandangan Vincent lalu bergulir pada Zian."Benarkah itu? Kau adalah kekasih adikku?" tanyanya memastikan. Zian mengangguk meyakinkan. "Ini baru cocok. Cantik dan tampan. Pa, ini baru calon pasangan ideal. Dan aku lebih suka Luna dengan Zian daripada si gendut manja itu. Tidak cocok sama sekali!!" ujar Vincent panjang lebar.
Perkataan Vincent membuat Zian terdiam. Dia tidak tahu bagaimana kecewanya keluarga ini setelah mereka mengetahui kebenarannya, Jika ia dan Luna sebenarnya tidak memiliki hubungan apa-apa. Hubungan mereka saat ini adalah sebuah kepalsuan.
"Adik ipar, perkenalkan aku adalah Vincent. Dan aku adalah kakak iparmu. Mulai sekarang kau bisa memanggilku Kakak ipar, dan saat dirimu dalam kesulitan jangan pernah ragu untuk datang dan meminta bantuan padaku. Dengan senang hati aku pasti akan membantumu." Ujar Vincent dengan begitu antusias.
Impian terbesar Vincent adalah menjadi seorang paman. Dia ingin sekali melihat Luna cepat-cepat menikah lalu memiliki anak, dan kemudian anaknya itu memanggilnya dengan sebutan paman.Vincent sangat mengharapkannya. Dan mungkin saja Vincent akan menjadi orang yang paling sibuk jika Luna dan Zian benar-benar menikah.
Zian tak memberikan respon apa-apa. Dia memilih untuk diam. Lalu pandangannya bergulir pada Luna yang entah sejak kapan sudah berada di dapur bersama ibunya. Senyum lebar perempuan itu membuatnya diam dan terpaku. Dari Luna, pandangan Zian bergulir pada semua anggota keluarga Xia dan menatap satu persatu.
Hati Zian menghangat. Benar-benar keluarga yang sangat harmonis, pikirnya. Dan berada diantara mereka membuat Zian merasakan yang namanya keluarga. Meskipun ini pertemuan pertamanya dengan mereka.
"ZIAN!! KITA TANDING LAGI!!" suara meninggi itu mengalihkan perhatiannya. Tuan Xia dengan semangat yang berapi-api kembali menantangnya untuk bermain catur. "Vincent, jadilah saksi bisu saat Papa mengalahkan bocah ini!!" serunya.
"Oke, Papa. Tapi aku di pihak adik ipar, jadi aku akan menjadi saksi kekalahan mu. Hahaha..."
"DASAR ANAK DURHAKA!!"
.
__ADS_1
.
Bersambung.