Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Tidak Selera Lagi


__ADS_3

Lampu kota yang berkerlip cantik memantul di kedua bola mata Luna yang jernih dan cerah. Ia memandang warna-warni cantik dari lampu-lampu itu seraya mengukir senyum tipis di bibirnya. Ketika malam hari, kota Seoul memang terlihat lebih hidup dibandingkan ketika siang. Dan lampu-lampu itu laksana bintang yang menghiasi langit malam.


Luna berjalan diantara puluhan orang yang hilir mudik di trotoar jalan. Gadis itu tak sendirian, ada Zian yang berjalan beriringan dengannya. Pemuda dalam balutan pakaian hitam lengan terbuka itu sesekali menatap gadis yang berjalan disebelahnya, tanpa sadar Zian menarik sudut bibirnya.


"Aku lapar. Bagaimana jika kita makan malam dulu?" Luna menghentikan langkahnya dan menatap Zian yang juga menatap padanya.


"Kau ingin makan malam dimana?" tanya pemuda itu.


Luna tampak berpikir, sebenarnya dia memiliki beberapa tempat yang sangat recommended. Dan karena tak ingin pusing-pusing memilih cafe mana yang akan dia datangi, akhirnya Luna pun memutuskan untuk makan malam di cafe yang paling dekat dengan posisi mereka berdua saat ini.


Tanpa mengatakan apapun, Luna menarik pergelangan tangan Zian dan membawanya pergi ke cafe tersebut. "Kita makan malam di sini saja," ucapnya setelah mereka berdua tiba di cafe. Setelah mendapatkan meja yang diinginkan, seorang pelayan menghampiri mereka berdua sambil membawa buku menu.


"Zian, kau mau pesan apa?" tanya Luna tanpa menatap lawan bicaranya.


"Hn, samakan saja denganmu. Untuk minumnya, kopi pahit saja," jawab Zian.


Kemudian Luna pun memesan beberapa menu yang menurut pelayan paling recommended di cafe ini. Sambil menunggu pesanan datang, Luna menyapukan pandangannya ke semua penjuru arah dan hampir semua yang datang ke cafe ini mereka berpasangan, meskipun ada beberapa yang datang bersama temannya.


Dan sejauh ini tak ada yang menarik, sampai dia melihat kedatangan beberapa perempuan yang tak asing bagi Luna. Luna menghela napas, kedatangan mereka berempat membuat Luna menjadi bad mood. Dan salah satu dari mereka berempat menyadari keberadaan Luna di cafe. Dia pun mau segera memberi kode pada temannya yang berambut sebahu, yang sepertinya adalah ketua dari geng itu.


"Kita pindah cafe saja, aku sudah tidak mood lagi di sini," ucap Luna seraya bangkit dari kursinya.


Zian menautkan alisnya dan menatap Luna dengan bingung. "Kenapa, bukankah kau sendiri yang tadi memilih tempat ini? Kenapa sekarang tiba-tiba berubah pikiran, lalu bagaimana dengan makanan yang sudah di pesan?"


"Aku akan tetap membayarnya. Tiba-tiba Aku kehilangan selera untuk makan disini, ayo pergi." ajak Luna sekali lagi. Bahkan dia sudah meninggalkan meja mereka dan berjalan kearah kasir untuk membayar makanan dan minuman yang sudah terlanjur dipesan.

__ADS_1


Namun langkah Luna dihadang oleh keempat wanita itu. Mereka memblokir jalan Luna sehingga dia harus mengurungkan niatnya untuk pergi ke kasir. "Xia Luna, lama tidak bertemu," ucap salah satu dari keempat perempuan itu


Luna menghela nafas. "Minggirlah, aku sedang tidak ingin berurusan dengan kalian," pinta Luna menuntut.


Keempat wanita itu menyeringai dan menatap Luna dengan sinis. Kenapa buru-buru sekali, Luna. Kita sudah lama tidak bertemu, apa kau tidak ingin bernostalgia dengan teman-teman lamamu ini?!" ucap salah satu dari keempat wanita itu.


"Sayangnya aku tidak memiliki teman-teman toxic seperti kalian!!" ucap Luna menimpali.


Ya, mereka adalah teman-teman Luna, tapi itu dulu sebelum salah satu dari mereka berempat ada yang berkhianat. Satu-satunya teman yang paling dekat dengan Luna dan sudah dianggap seperti saudara perempuannya sendiri, ternyata malah mengkhianatinya dan menusuknya dari belakang dengan merebut kekasih Luna.


"Jadi cepat minggir dan jangan halangi jalanku!!" Ucap Luna sambil mendorong dua orang yang menghalangi jalannya.


"Aku dan Jerry akan segera menikah!! Apa kau tidak ingin datang dan mengucapkan selamat pada kami?!" Luna menghentikan langkahnya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh wanita berambut sebahu bernama Mona. "Aku sangat berharap kau bisa datang dan menyaksikan kebahagiaan kami," ucapnya lagi.


"Katakan saja jika kau masih mencintai, Jerry." seru Mona.


Luna tersenyum sinis dan menatap Mona dengan seringai meremehkan. "Untuk apa aku masih harus mencintai sampah yang telah aku buang dan mengharapkannya kembali. Karena sampah yang telah dibuang, sudah tidak layak untuk dipungut kembali. Sampah, cocoknya memang dengan sampah!!" ucap Luna menimpali.


"Luna, kau~"


"Ini bukan lagi tentang masa lalu, Mona. Lagipula aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kalian berdua. Aku takut jika kedatanganku di pernikahan itu justru akan mengacaukannya, mengingat jika orang tua Jerry sangat menyukaiku, bisa-bisa mereka meminta Jerry membatalkan pernikahannya denganmu lalu memintanya untuk beralih menikahiku. Kan gawat jadinya, lagipula aku sudah memiliki penggantinya, jadi sudah saatnya untuk move on." Tutur Luna panjang lebar.


Luna meninggalkan Mona begitu saja lalu menghampiri Zian yang sudah menunggunya sedari tadi. kemudian keduanya meninggalkan cafe, dan sekarang Zian tau alasan kenapa Luna sampai ngotot untuk pindah cafe. Dan semua itu karena wanita itu.


.

__ADS_1


.


Keheningan menyelimuti kebersamaan Luna dan Zian. Saat ini mereka berdua sedang berada di Sungai Han. Mereka berdua urung untuk makan malam dan Luna sudah kehilangan selera makannya sejak kedatangan wanita itu.


"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Zian memecah keheningan, membuat perhatian Luna sedikit teralihkan padanya. "Perlu aku belikan sesuatu?"


Luna mengangguk. "Boleh juga, kebetulan aku memang sangat lapar. Wanita itu membuatku kehilangan selera makan," jawabnya.


"Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan segera kembali," ucap Zian lalu beranjak dari hadapan Luna dan meninggalkannya begitu saja.


Luna menghela napas. Pertemuannya dengan wanita itu membuka luka lama di hatinya yang sudah lama mengering. Membicarakan tentang mantan kekasihnya membuat Luna teringat pada penghianatan yang telah dia lakukan padanya dulu. Padahal Luna sangat mencintainya dan mereka berjanji untuk selalu bersama.


Tapi janji hanya tinggal janji, dan lagipula janji dibuat untuk diingkari. Dan jika boleh meminta ,Luna ingin semua ingatan masa lalunya dihapuskan dari ingatannya agar dia tidak pernah lagi menginat masa lalunya.


"Ini makananmu," di saat Luna sedang berkutat dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Zian datang membawakan makanan untuknya.


Luna tersenyum lebar lalu mengambil makanan itu dari tangan Zian. Tanpa menghiraukan pemuda itu, manapun segera menyantap makanannya dengan lahap, Dia benar-benar sangat lapar sampai-sampai membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Bahkan dia tidak menghiraukan Zian sama sekali, dan pemuda itu hanya menatapnya dengan pandangan heran.


"Dasar bocah,"


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2