
Zian menghentikan motor besarnya di sebuah pusat perbelanjaan. Dia hendak membelikan sesuatu untuk Luna. Zian melihat jika Luna tidak memiliki banyak make up di rumahnya dan akhir-akhir ini wajahnya terlihat sedikit kering. Itulah kenapa dia berinisiatif memberikan skin care untuknya.
"Tuan, ini adalah produk terbaik kami. Kandungan di dalam prodak ini sudah lengkap sehingga tidak memerlukan banyak prodak lainnya." Seorang wanita memberikan penjelasan pada Zian perihal produknya.
"Baiklah, aku ambil yang ini. Langsung bungkus saja," ucap Zian seraya memberikan black card miliknya pada wanita itu.
Setelah membayar dan mendapatkan barang yang diinginkan. Zian pun bergegas meninggalkan toko tersebut. Dia harus segera pulang, karena jika tidak pasti Luna akan sangat khawatir padanya.
.
.
"Zian, kau dari mana saja?"
Kepulangan Zian, disambut dengan sebuah pertanyaan oleh Luna. "Kemasi semua barang-barangmu, mulai hari ini kita akan tinggal di kediaman Lu," alih-alih menjawab pertanyaan Luna, sian malah memintanya untuk mengemasi semua barang-barangnya.
Gadis itu memicingkan matanya. "Maksudmu kau akan membawaku tinggal di kediaman keluargamu?" tanya memastikan.
Zian menganggukkan kepala. "Ya," mulai hari ini dan seterusnya, kita akan tinggal di sana." Jawabnya.
"Tapi Bagaimana dengan keluargamu, apa mereka setuju? Bahkan ketika kita menikah, keluargamu tak ada yang hadir satupun untuk memberikan Restu," Luna mengungkit tentang keluarga Zian yang tidak datang di pernikahan mereka kemarin malam.
Zian menghela napas. "Aku tidak membutuhkan Restu dari mereka. Karena sejak awal aku tidak memiliki keluarga, lagi pula apa yang bisa diharapkan oleh anak yang tidak dianggap sepertiku. Dan masalah mereka akan menerimamu atau tidak, itu tidak perlu kau pikirkan. Karena saat ini ayah dan kakakku berada di penjjara, ibuku sudah lama matii, sedangkan ibu tiriku aku depak keluar dari kediaman Lu. Jadi hanya ada kita berdua, dan beberapa pelayan yang bekerja di sana." Jelas Zian panjang lebar.
Mendengar penuturan Zian membuat Luna terdiam. Pandangannya tertuju pada sepasang manik hitam milik pemuda itu. Ada kesedihan, kekecewaan dan luka yang mendalam yang bisa Luna lihat dari mata itu. Pasti Zian melewati masa kecilnya dengan tidak mudah.
__ADS_1
Luna mendekati Zian dan langsung memeluknya, membuat pemuda itu terkejut dan terpaku dengan apa yang Luna lakukan. "Jangan sedih, ada aku disini. Karena sejak kita menikah, aku dan keluargaku adalah keluargamu. Kau tidak sendirian lagi, Zian. Karena ada kami yang akan selalu bersamamu," ucapnya sambil menatap sisi wajah Zian.
Kemudian Zian mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Luna. Di letakkan dagunya diatas kepala gadis itu. Zian tak mengatakan apa-apa, namun dia sangat terharu dengan ketulusan Luna dan keluarganya. Dan kehadiran Luna, tanpa sadar telah merubah hidup Zian yang semula abu-abu menjadi lebih berwarna.
Luna melonggarkan pelukannya, matanya terkunci pada mata hitam milik Zian. Kedua tangannya menangkup wajah pemuda itu, sudut bibirnya tertarik keatas. Luna mengukir senyum tipis dibibir ranumnya.
"Aku adalah bagian rusukmu yang hilang. Yang artinya, kita memang telah ditakdirkan untuk bersama. Aku memiliki kekurangan, dan kau pun pasti memiliki kekurangan. Bersama-sama, kita akan saling melengkapi," ucap Luna dengan senyum yang sama.
Zian menarik tengkuk Luna lalu mencium bibirnya. Membuat Luna terkejut bukan main, pupil matanya membelalak sempurna, tak menduga jika Zian akan menciumnya. Sebelah tangan Zian berada dibelakang kepala Luna, sedangkan tangan satu lagi memeluk pinggang rampingnya. Luna pun tak mau kalah, dia mengangkat kedua tangannya dan memeluk leher Zian.
Dan ciuman itu baru berakhir ketika siang merasakan pukulan pada dadanya, sepertinya Luna sudah tidak sanggup untuk meneruskannya lagi.
Jari-jari Zian menyeka sisa liur dibibir Luna."Terimakasih, Luna. Karena sudah membagikan kehangatan keluarga yang selama ini aku impikan." Ucap Zian sambil mengukir senyum tipis disudut bibirnya.
"Ya, sudah. Segeralah siap-siap, aku akan menunggumu di luar." Ucap Zian dan dibalas anggukan oleh Luna.
Tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya lalu menoleh dan menatap Zian. "Sepertinya aku tidak bisa membawa semua barang-barangku hari ini, karena barang-barang milikku disini terlalu banyak dan akan memakan banyak waktu untuk mengemasinya," ujar Luna.
"Kalau begitu tidak usah dibawa, kita bisa membelinya yang baru." Ucap Zian menimpali. Luna pun mengangguk setuju.
Lagipula Luna juga tidak perlu khawatir Zian akan kehabisan uang meskipun dia tidak bekerja, karena Zian memiliki uang yang tidak terhitung jumlahnya. Dan jika bukan dirinya yang memanfaatkan uangnya, lalu siapa lagi?! Wanita lain? Oh, tidak bisa.
"Oya, Luna. Aku belikan make up untukmu. Kulihat wajahmu agak kering, prodak ini sangat bagus dan semoga kau cocok," Zian menyerahkan barang yang dia beli tadi pada Luna.
Gadis itu tersenyum lebar. "Terimakasih, Zian,."
__ADS_1
.
.
Setelah diusir keluar oleh Zian, Vera mendatangi kantor kepolisiian dan mengadukan pemuda itu pada suaminya, dia menangis penuh drama dihadapan Donny untuk mendapatkan simpatik darinya. Dan berhasil, Donny langsung percaya dan dia pun menjadi sangat murka.
"Sekarang Aku sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi. Mama, sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan, seharusnya dia tinggal di tempat yang layak, tapi Putramu yang berandalan itu malah mengusir kami dan menguasai rumah," Vera bercerita dengan bercucuran air mata, tujuannya adalah agar Donny lebih percaya dan simpatik padanya.
"Bajiingan kecil itu!! Dia benar-benar sudah sangat keterlaluan, kau tenang saja, masalah ini biar aku yang mengurusnya. Aku akan meminta pengacaraku, untuk mengatasi masalah ini. Jangan Menangis Lagi kau terlihat sangat jelek. Dan jika kau tidak memiliki uang, kau bisa memakai uangku. Ini pin-ku, ambil berapapun yang kau butuhkan," Donny menyerahkan card miliknya pada Vera, dan meminta wanita itu untuk mengambil berapapun uang yang dia butuhkan.
Vera menyeringai lebar. Uang sudah ada di tangannya, dan itu akan lebih memudahkannya untuk menguasai uang Donny. Vera akan mengambil uang-uang itu untuknya, dan tidak akan mengembalikan card tersebut pada Donny. Bahkan dia berencana membuat pria itu, mendekam selamanya di penjara.
"Ya, sudah kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus mengantarkan Mama untuk cuci darah ke rumah sakit. Terimakasih, Donny. Kau memang suami yang baik," cara menggenggam tangan Donny dengan erat.
"Ya, sudah pergilah, jangan membuat Ibumu menunggu," ucapnya dan dibalas anggukan oleh Vera.
"Aku pergi dulu," ucap Vera lalu meninggalkan Donny begitu saja. Vera menyeringai tajam.
Selama Donny masih bisa dimanfaatkan, Vera tidak akan hidup dengan susah. Karena dia bisa memanfaatkan pria itu untuk memenuhi semua kebutuhannya. Lagipula Vera mana mau sampai rugi besar?!
.
.
Bersambung.
__ADS_1