Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Menyerah


__ADS_3

"Zian, ada apa denganmu? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?!"


Bisa menahan keterkejutannya ketika melihat Zian masuk dalam keadaan terluka, pelipis kanannya robbek dan mengeluarkan banyak darrah. "Ini ulah Sean, dia memukulku dengan sebuah besi bergerigi." Jawabnya.


"Bajingan itu!! Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan segera kembali," ucap Luna lalu beranjak dari hadapan Zian.


Kurang dari lima menit, Luna kembali dengan sebuah kotak p3k dan juga baskom kecil berisi air bersih. Luka itu harus segera dibersihkan, sampai darahnya benar-benar bersih, supaya tidak terjadi infeksi.


"Dia bisa melukaimu sampai seperti ini?" luna mengangkat kepalanya dan menatap Zian penasaran. "Lalu di mana dia sekarang? Apa dia sudah kembali ke kantor polisi?" tanya Luna memastikan, Zian menganggu. "Sayang sekali, jika dia masih belum pergi pasti sudah aku patahkan lehernya. Berani-beraninya dia melukaimu sampai seperti ini!!"


Luna geram sendiri pada Sean, dan dia ingin menghajarnya habis-habisan, tapi sayangnya sayang sudah kembali ke kantor polisi. Dia benar-benar beruntung karena berhasil lolos dari kemarahannya, karena jika Luna sudah bertindak , entah bagaimana nasib Sean nantinya.


"Lukanya terlalu dalam, sebaiknya kita ke rumah sakit saja, lukamu perlu dijahit," ucap Luna. Dia memohon pada Zian supaya dia mau pergi ke rumah sakit bersamanya.


Zian menggeleng. "Tidak perlu ke rumah sakit, bukan luka yang fatal." ucapnya.


Luna menghela nafas. "Kenapa kau ini keras kepala sekali jadi orang?! Sudah seperti ini masih saja menolak diajak ke rumah sakit, kau ingin lukamu semakin parah?!" Zian malah diomeli habis-habisan.


"Luna, sudahlah."


"Aku tidak mau tahu, kita harus ke rumah sakit sekarang juga!! Jika kau menolaknya, maka aku akan memaksamu!!" Luna tak memberikan pilihan pada Zian sehingga dia tidak memiliki pilihan lain.


"Baiklah, ayo kita ke rumah sakit." akhirnya Zian pun setuju untuk dibawa ke rumah sakit. Dia tidak mau mengambil resiko yang nantinya akan menjadi korban kemarahan Luna.


.


.


Remon dan Maya tidak tahu Mimpi buruk apa yang sebenarnya mereka alami sampai-sampai harus berurusan dengan dua bocah Kematian seperti Ren-Jun dan Jii-Sung. Dan kedatangan mereka berdua, memberikan mimpi buruk pada Remon dan Maya.

__ADS_1


"Melisa, cepat usir keluar dua iblis itu dari rumah ini!!" pinta Maya pada Melisa, asisten pribadinya dan Remon.


"Bagaimana caranya, Nyonya? Saya sudah kehabisan cara untuk mengusir mereka berdua keluar dari rumah ini, mereka benar-benar sulit diatasi," Melisa pun angkat tangan dengan kelakuan si kembar.


Pandangan Maya lalu bergulir pada Remon. "Jangan hanya diam saja seperti orang bodoh, Remon!! Sebaiknya bantu berpikir tentang bagaimana kita bisa mengatasi kedua bocah iblis itu, aku tidak ingin semakin miskin karena ulah mereka!!" teriak Maya yang mulai hilang kesabaran.


Remon berdiri sambil menggebrak meja di depannya. "Berhenti menyudutkanku, Maya!! Kau pikir hanya kau saja yang terganggu oleh mereka berdua, aku juga!! Memangnya harus dengan cara apa lagi coba, sementara semua cara sudah kita coba untuk mengatasi kedua iblis kecil itu!!" teriak Remon dengan emosi.


Jii-Sung dan Ren-Jun saling bertukar pandang dan tertawa geli melihat kelakuan mereka bertiga. Kemudian keduanya menghampiri mereka.


"Santai saja Nenek, Kakek. Kami tidak akan berbuat yang macam-macam kok pada kalian, jadi tidak perlu tegang, lagipula kami berdua adalah anak yang manis dan menggemaskan, jadi mana mungkin kami melakukan kenakalan kepada orang lain," ujar Ren-Jun, Jii-Sung mengangguk setuju.


"Diam kau bocah!! Memangnya siapa yang memintamu untuk bicara?! Kalian benar-benar keterlaluan, aku tidak akan memaafkan kalian berdua!!" teriak Maya dengan emosi.


Bagaimana mereka berdua tidak marah pada Jii-Sung dan Ren-Jun, kedua pemuda itu menguras habis isi tabungan Remon dan Maya.


Mereka berdua berhasil ditipu habis-habisan oleh keduanya, setengah dari isi tabungan mereka terkuras habis. Belum lagi mereka masih harus membayar kartu kredit yang Ren-Jun dan Jii-Sung habiskan. Mereka berdua benar-benar mengalami nasib yang sangat buruk.


"Itu benar, bulan lalu tetangga kami di luar negeri ada yang mati karena sering marah-marah, dan itu adalah karma yang dibayar kontan!!" ucap Ren-Jun menambahkan.


"Sebaiknya kalian berdua pergi sekarang juga dan jangan pernah kembali lagi kemari, atau aku akan memanggil polisi untuk mengatasi kalian!!" geram Remon memberikan ancaman. Dia menatap Ren-Jun dan Jii-Sung bergantian.


Kedua pemuda itu menghela nafas. "Kakek, Nenek, kalian berdua benar-benar tidak asik, Baiklah kita pergi. Icung, ayo pergi." Ucap Ren-Jun dan dibalas anggukan oleh Jii-sung.


Tidak ingin terus-terusan ganggu oleh Jii-sung dan Ren-Jun. Maya dan Remon memutuskan untuk pergi keluar negeri. Karena percuma juga mereka tetap berada di Korea, jika tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun naas menimpa keduanya, entah atas laporan siapa mereka kembali di bekuk oleh polisii dan dijatuhi hukuman yang sangat berat.


Dan setelah tertangkapnya mereka berdua. Maka Zian bisa menjalani hidupnya dengan damai, dia tidak perlu lagi berurusan dengan mereka berdua lalu terbakar emosi karena ulahnya. Zian sekarang bisa menata masa depannya yang cerah bersama Luna.


.

__ADS_1


.


"Zian," seru Luna.


Wanita itu bangkit dari kursinya setelah mendengar suara pintu di depannya terbuka. Zian keluar dari dalam sana dengan pelipiis yang sudah tertutup perban. Luka di pelipiis Zian sedikitnya mendapatkan 8 jahitan luar dalam.


"Maaf, harus membuatmu menunggu lama?" ucapnya penuh Sesal.


Luna menggeleng. "Tidak sama sekali, sudah selesai kan?" Zian mengangguk."Ya, sudah. Kalau begitu ayo kita pulang," luna memeluk lengan Zian lalu melenggang pergi meninggalkan rumah sakit.


Sepanjang perjalan pulang. Berkali-kali Luna kata-kata mutiaranya, yang semuanya di tunjukkan untuk Sean. Hanya menghabisi pria itu, karena sudah melukai suaminya. Jika saja saat ini Sean tidak sedang berada di kantor polisi, pasti pria itu sudah habis olehnya.


"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan, kakakmu. Bisa-bisanya dia melukaimu sampai seperti ini, apa dia sudah bosan hidup?! Rasanya aku ingin sekali membotakkan kepalanya dan memecahkan kedua telornya!!" ujar Luna.


Zian mendengus geli. Apalagi ketika melihat ekspresi Luna yang tampak begitu menggemaskan dimatanya, rasanya Zian ingin sekali melumatt habis bibirnya. Namun hal itu tidak mungkin dia lakukan karena sedang mengemudi.


"Kau lapar tidak? Bagaimana kalau kita pergi ke cafe langganan kita untuk makan malam. Aku lapar," ucap Zian dan langsung di setujui oleh Luna.


"Ya, boleh. Kebetulan aku juga sangat lapar, karena Kakakmu yang kurang ajar itu, kita jadi melewatkan makan malam sampai lebih dua jam. Perutku sampai keroncongan," ucap Luna sambil memegang perutnya terus keroncongnya.


"Kau boleh pesan makanan apapun yang kau inginkan, tapi jangan marah lagi. Kau terlihat sangat jelek jika marah begitu."


Luna mempoutkan bibirnya. "Dasar menyebalkan!!"


Zian menepuk kepala wanita itu dengan lembut. Kemudian Zian menambah kecepatan pada mobilnya, dan mobil itu melaju kencang pada jalanan malam yang legang. Tak begitu banyak mobil yang berpapasan dengan mereka berdua, karena memang ini bukan jalan utama.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2