
"Ini mengenai, Papa. Apa kau tidak bisa memaafkannya? Aku tahu dia sudah sangat bersalah padamu. Dia menyakitimu begitu dalam, tapi itu adalah masa lalu dan lupakan apa yang terjadi kemudian kita buka lembaran baru. Diusia senjanya, biarkan dia merasa bahagia. Jadi pikirkan bagaimana perasaan, Papa."
Senyum sinis terpatri disudut bibir Zian ketika kata-kata Sean kembali berputar diotaknya. Pemuda itu kembali meneguk minumannya hingga cairan berwarna kuning keemasan itu tandas dari botolnya. Zian benar-benar tidak habis pikir, kenapa semua orang begitu mudah memintanya untuk berdamai dengan masa lalu. Sementara masa lalu yang membuatnya terluka.
Berdamai dengan masa lalu adalah hal yang sangat mustahil bagi Zian. Jangankan untuk berdamai, untuk melupakan saja rasanya begitu sulit. Karena masa lalu terlalu dalam menorehkan luka di hati Zian . Dan itulah yang membuatnya tidak akan bisa berdamai dengan masa lalunya.
"Ada apa? Aku perhatikan dari tadi kau lebih banyak melamun, bertengkar lagi dengan ayah dan ibu tirimu?" pertanyaan itu mengalihkan perhatian Zian, kemudian ia menoleh dan mendapati Max berdiri disampingnya dan menatapnya dengan tatapan bertanya.
Namun ada jawaban dari pemuda itu, dan kediamannya Max sebagai jawaban. Memangnya apa yang bisa membuat Zian terlihat kacau jika bukan ayah dan istri mudanya. Karena hanya mereka berdua yang seringkali membuatnya naik darah.
"Bisakah kau tidak usah membahas apapun tentang mereka berdua, aku benar-benar muak mendengarnya!!" ucap Zian dengan sinis.
"Maaf, tidak akan lagi. Ngomong-ngomong kau mau ikut atau tidak? Aku dan anak-anak berencana untuk pergi Healing ke Busan,"
Zian menggeleng. "Kalian pergi saja. Aku sedang malas untuk kemana-mana," jawabnya menimpali. Kemudian Zian beranjak dari hadapan Max dan melenggang pergi. Dia malas jika harus mendapatkan banyak pertanyaan dari Max.
.
.
__ADS_1
"Kalian salah paham, aku bukan bagian dari mereka. Aku ini gadis baik-baik dan kebetulan aku baru pulang dari mengantarkan pesanan bunga pelanggan-pelanggan di toko tempatku bekerja."
Luna benar-benar dalam masalah besar. Dia ikut diciduk oleh petugas karena dianggap bagian dari para wanita malam yang sengaja menjajakan dirinya dipinggir jalan. Luna mencoba memberikan penjelasan pada para petugas tersebut.
"Banyak orang sepertimu. Jadi kami tidak akan tertipu."
Luna menggaruk kepalanya dengan kasar. Dia benar-benar bingung bagaimana harus memberikan penjelasan pada para petugas tersebut. "Sudah aku katakan!! Jika aku ini bukan bagian dari mereka, Aku baru saja pulang dari mengantarkan bunga!!" jelas Luna.
"Lalu kenapa kau berpakaian seperti ini?! Jelas-jelas ini adalah bukti jika kau itu bagian dari mereka. Jangan banyak alasan, cepat ikut kami ke kantor!!"
"Tidak mau!!" Luna menoleh dengan tegas.
"Baik, Komandan!!"
Luna membelalakkan matanya. "Lepaskan aku!! Aku sudah mengatakannya dengan jelas, jika diriku bukan bagian dari mereka, tapi kenapa kalian tetap memaksa untuk membawaku juga?!" bentaknya emosi. Dan tiba-tiba saja sebuah ide tercetus di kepalanya. "Papa, tolong aku!!" tiba-tiba Luna berteriak keras sambil melambaikan tangannya ke arah depan.
Para tugas itu pun lantas menoleh setelah Luna berteriak. Dan situasi itu pun segera Luna manfaatkan untuk melarikan diri. "Omo!! Dia kabur. YAKK!! Betina jangan kabur kau!!" teriak para petugas itu dengan keras. Mereka pun segera mengejar gadis itu yang sedang melarikan diri.
.
__ADS_1
.
Zian menghentikan mobil sport mewahnya di area taman terbuka Namsan, salah satu taman kota terbesar keempat di Seoul. Tubuh tegapnya bersandar pada bagian depan mobil sport mewahnya.
Kemudian Zian mengeluarkan sebungkus rokok dan pematik berwarna emas dari saku celana belelnya. Dan keberadaan pemuda itu di sana ana cukup menarik perhatian para kaum hawa yang berada di taman Namsan, mereka harus menahan nafasnya melihat penampilan sang adonis yang mampu membangkitkan birahii.
Penampilan Zian cukup berani, tubuh kekarnya hanya terbalut singlet putih yang mengikuti lekuk tubuh kekarnya, kaki jenjangnya di tutup jeans belel yang menggantung di pinggangnya. Dua kalung berwarna perak menggantung di leher jenjangnya, lima pierching menghiasi daun telinganya, selain punggung dan lengan kanannya, tatto juga menghiasi leher kirinya. Rambut abu-abunya di tata sedikit berantakan dengan poni memanjang hampir menyentuh mata kirinya.
Dia terlihat santai tanpa merasa terusik sedikit pun oleh tatapan memuja para wanita yang ada di taman Namsan, bahkan mereka yang telah memiliki pasangan pun sesekali mencuri pandang kearah pemuda itu . Zian kembali menikmati rokoknya dengan santai sampai sesuatu berwarna ngejreng sedikit mengalihkan perhatiannya.
Biru...
Ya, mata onyx Zian menangkap bayangan seorang gadis berambut Biru nyentrik yang mirip dengan permen kapas berlari kearahnya sambil sesekali menengok kebelakang. Ada empat pria berseragam mengejar di belakangnya. Sampai sosok biru terang itu tiba pada cahaya. Mata Zian menyipit dan...
"Luna?!"
.
.
__ADS_1
Bersambung