
"Tunggu!!"
Seruan keras itu menghentikan langkah Melisa. Wanita itu berhenti lalu menoleh ke belakang dan mendapati Luna berjalan ke arahnya. Melisa menautkan alisnya, dan menatap Luna penuh tanya.
"Untuk apa kau mengikutiku sampai kemari?" tanya Melisa tanpa basa-basi.
"Aku tidak akan banyak basa-basi denganmu, tapi sebaiknya jangan coba-coba untuk mengganggu apa lagi menggoda Zian, karena aku tidak akan tinggal diam!! Jika kau masih menyayangi rambut indahmu ini, sebaiknya jika sikapmu dan jangan pernah memancing kemarahanku, atau aku akan membotakkannya. Ingat peringatanku ini baik-baik!!" Luna menepuk pipi Melisa, dan pergi begitu saja.
Luna memberikan peringatan keras pada wanita itu, supaya dia tidak mengganggu suaminya lagi. Luna tahu, jika Zian tidak mungkin tergoda olehnya, tapi tetap saja wanita seperti itu harus diberikan peringatan keras supaya dia tidak semakin menggila dan menjadi-jadi.
Melisa mengepalkan tangannya dengan kuat, dan menatap kepergian Luna dengan marah. Lalu pandangannya menyapu, semua mata kini tertuju padanya. Dan itu membuat Melisa merasa risih sekaligus tidak nyaman. Apalagi ketika telinganya mendengar kata-kata 'pellakor' kalimat yang paling menyebalkan.
"Cih, dasar wanita penggoda. Apa Dia pikir dia itu cantik, mau coba coba mendekati Presdir Lu."
"Tau, tuh. Benar-benar wanita tak tahu malu, bisa-bisanya dia mencoba menggoda suami orang, seperti sudah tidak ada lagi laki-laki lain saja di dunia ini!!"
"Benar sekali, dan wanita seperti itu memang seharusnya dibasmi supaya lenyap dari dunia ini."
"Sudah jangan bergosip lagi, sebaiknya kembali bekerja atau pengawas akan memarahi kita bisa-bisa kita mendapatkan masalah!!,"
"Ya, kau benar juga. Ayo kembali bekerja."
.
.
Luna benar-benar merasa puas setelah memberikan peringatan pada Melisa. Meskipun peringatan yang dia berikan hanyalah sebuah peringatan kecil, tetapi peringatan itu tidaklah main-main. Karena Luna benar-benar akan memberinya pelajaran jika berani menggoda Zian lagi.
Sambil membawa makanan yang baru ia beli dari luar, Luna kembali ke ruangan Zian dan mendapati pria itu tengah sibuk dengan laptopnya. Luna tidak tahu apalagi yang sedang dikerjakan oleh Zian.
__ADS_1
Tapi dia tak mau ambil pusing, Luna melanjutkan langkahnya kemudian duduk di sofa yang berada di tengah ruangan.
Pandangan Zian kini bergulir padanya. "Kau dari mana saja?" tanya Zian seraya berjalan menghampiri Luna.
"Tidak dari mana-mana, aku hanya keluar sebentar untuk beli cemilan, diam seharian tanpa melakukan apapun di sini membuatku sangat bosan, apalagi tidak ada makanan sama sekali disini. Makanya aku keluar untuk membelinya, aku juga membelikan kopi pahit untukmu. Kau pasti lelah dan mengantuk, jadi cepat minum kopinya," ujar Luna lalu menyerahkan kopi yang baru saja ia beli pada Zian.
"Terima kasih, Luna. Dan jika kau merasa bosan, aku boleh pergi, karena Kemungkinan aku akan lembur lagi malam ini." Ucap Zian.
"Dan membiarkan wanita genit itu datang lagi lalu menggoda mu?!" Luna menyela ucapan Zian dan menatapnya tajam.
Zian menggeleng. "Bukan begitu, Luna." dia pun segera memberikan penjelasan dan pengertian pada Luna supaya dia tidak menyalah artikan maksud dari ucapannya.
Dan untungnya Luna langsung mengerti, meskipun Sebenarnya dia tadi tidak serius, tetapi bagus juga karena melihat Zian yang sedang panik rasanya sangat menggelikan.
"Aku tadi hanya bercanda, kenapa kau serius sekali? Dasar bodoh, aku sangat mempercayaimu. Sebaiknya kau kembali bekerja, aku akan menemani lalu disini sampai kau selesai," Luna menatap Zian sambil tersenyum lebar. Membuat pria itu ikut tersenyum juga, Zian menepuk Kepala Luna dan meninggalkannya begitu saja. Dia harus kembali bekerja.
.
.
Setelah membereskan semua berkas-berkasnya yang berserakan di atas meja, Zian membangunkan Luna dan mengajaknya untuk pulang. Karena terlalu lelah menunggu Zian menyelesaikan pekerjaannya, sampai-sampai Luna tertidur.
"Luna, bangun. Ayo pulang," suara lembut Zian membuat mata Luna perlahan-lahan terbuka dan memperlihatkan sepasang manik Hazel yang tampak redup, khas orang baru bangun tidur.
"Ada apa, Zian? Aku masih mengantuk," ucap Luna sambil mengucek matanya. "Memangnya ini sudah jam berapa?" tanya Luna dengan suara serak, khas orang baru bangun tidur.
"Hampir jam sebelas malam. Jika kau masih mengantuk, aku akan menggendongmu keluar," ucapnya namun segera dibalas gelengan oleh Luna. Dia menolak Zian yang berencana untuk menggendong dirinya.
"Tidak mau, aku bisa jalan sendiri. Ya, sudah ayo pulang," ucapnya.
__ADS_1
Luna menyambar tasnya dan melewati Zian begitu saja. Padahal Zian yang mengajaknya pulang, tapi dia malah ditinggalkan. Zian menghela nafas, kemudian dia melangkahkan kakinya menyusul Luna yang sudah semakin menjauh.
Dan saat di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba beberapa motor menghadang laju mobil mereka, dan memblokir jalan sehingga tidak ada ruang untuk Zian pergi. "Zian, keluar Kau!! Ayo, selesaikan dulu masalah diantara kita, baru aku akan mengijinkanmu pergi dari sini!!"
Zian pun terlihat turun dari mobil sport mewahnya."Apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku?" tanya Zian memastikan.
"Kematianmu!!"
Zian menyeringai dan menatap mereka dengan sinis. Bahkan Zian tidak gentar sedikitpun meskipun yang mereka inginkan adalah kematiannya. "Heh, kalian menginginkan kematianku?! Memangnya kemampuan apa yang kalian miliki sampai-sampai ingin mengambil nyawaku?!" Zian menatap mereka bergantian satu-persatu.
"Jangan terlalu sombong kau, bocah. Kau hanya sendirian, sementara kami berkelompok, satu banding dua belas, apa kau sanggup?!" orang-orang itu menatap Zian dengan pandangan meremehkan. Sepertinya orang-orang itu belum tahu siapa yang dihadapi sekarang.
"Siapa yang bilang jika dia hanya sendirian?!" sahut seseorang dari arah belakang.
Terlihat Luna menghampiri mereka lalu, lalu berdiri di samping Zian. Luna menoleh dan membuat matanya bersirobok dengan mata hitam milik suaminya."Kita hadapi saja mereka sama-sama. Dan beri mereka sedikit pelajaran supaya tahu siapa orang yang diremehkan!!" ucapnya dan dibalas anggukan oleh Zian.
Luna gemas sendiri dengan tingkah mereka, dan rasanya Luna ingin sekali mengulitii mereka satu persatu. Supaya mereka semua tahu rasa dan memiliki rasa jerah.
Dan perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi. Zian dan Luna bersama-sama menghadapi orang-orang itu dengan kompak. Luna begitu brutal ketika menghajar orang-orang itu sampai mereka babak belur. Tak hanya Luna, bahkan Zian tak kalah brutal darinya. Dan kurang dari sepuluh menit, kedua belas anggota gangster itu pun berhasil mereka tumbangkan dengan sangat mudah.
"Bagaimana? Masih ingin mencoba lagi?!" Luna menatap mereka satu persatu, dan kedua belas orang itu menggeleng dengan kompak. "Lalu kenapa masih disini? Cepat pergi!!" bentak Luna dan membuat mereka kalang kabut menyelamatkan diri masing-masing. Luna menghela napas. "Dasar berandalan kurang kerjaan, benar-benar membuang waktu saja."
Zian menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Kemudian Zian mendekati Luna. "Sudah jangan menggerutu lagi, sudah larut malam ayo cepat pulang." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Luna.
"Baiklah,"
Mobil milik Zian kembali melaju pada jalanan malam yang lega. Tak ada satupun kendaraan yang mereka temui sepanjang perjalanan pulang setelah perkelahian singkat tadi. Maklum saja, karena ini sudah larut malam dan di tambah udara malam yang begitu dingin. Membuat orang-orang lebih memilih untuk tetap berada di rumah daripada di luar ruangan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.