Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Menikahlah Dengan Luna


__ADS_3

Kata-kata Vincent masih terus terngiang-ngiang di telinga Luna. Membuat dia menjadi panik bingung dan gelisah. Luna tidak tahu bagaimana tanggapan Zian nantinya, jangan sampai dia berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.


Suara derap langkah kaki orang yang datang sedikit menyita perhatiannya. Kemudian Luna menoleh mendapati sang Ibu memasuki kamarnya. Nyonya Xia kebingungan melihat wajah pasrah Luna, kemudian wanita itu mendekatinya.


"Sayang, ada apa?" Nyonya Xia menatap Luna dengan bingung.


Luna membalas tatapan ibunya, dan menatapnya dengan serius. "Ma, sebaiknya kau jujur apa alasan Papa meminta Zian untuk datang? Bukankah Aku sudah memberikan penjelasan pada kalian berdua, jika sebenarnya kami berdua tidak memiliki hubungan apa-apa," Luna mencoba membuat ibunya mengatakan yang sebenarnya, meskipun sebenarnya dia sudah tahu alasan ayahnya mengundang Zian untuk datang.


Namun Nyonya Xia memilih untuk tetap diam. Dia sudah berjanji pada suaminya, untuk tidak memberitahu Luna perihal alasan mereka mengundang Zian untuk datang. Karena Tuan Xia takut jika Luna akan mengacaukannya.


"Nanti kau juga akan tahu sendiri, sebaiknya sekarang bantu Mama menyiapkan makan malam," pinta Ibu dua anak itu.


Luna menghela nafas. "Mama, kerjakan saja sendiri. Dan memangnya sejak kapan diantara kita jadi ada rahasia begini? Jika kedatangannya ada hubungannya denganku, maka aku berhak untuk tahu. Tapi jika Mama tidak mau memberitahuku, sebaiknya aku pulang saja," ucap Luna dan pergi begitu saja.


"Luna, tunggu," seru Nyonya Xia dan menghentikan langkah Luna. Kemudian wanita itu menghampirinya. "Baiklah Mama akan memberitahumu, tapi jangan katakan apapun pada Papamu. Karena dia melarang kami berdua untuk mengatakan apapun perihal dia ingin bertemu dengan Zian," ucapnya.


"Sekarang Mama katakan, dan jangan membuatku penasaran." pinta Luna.


Kemudian wanita itu meraih tangan kanan Luna dan menggenggamnya. Nyonya Xia menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Luna, kami sudah semakin tua, dan kau sudah semakin dewasa. Sudah saatnya kau memiliki pendamping hidup, yang bisa menjaga dan melindungimu. Bagi Mama dan Papa, kau tetaplah Putri kecil kami yang menggemaskan."


"Tapi bagaimanapun juga, kau tidak bisa hidup sendirian, membutuhkan seseorang sebagai tempatmu bersandar. Untuk itu, papa ingin bertemu dengan Zian, karena menurutnya hanya dia satu-satunya pria yang paling pantas denganmu." tutur Nyonya Xia panjang lebar.


Gadis itu pun terdiam setelah mendengar apa yang ibunya katakan. Memang tidak ada yang salah dengan maksud dan tujuan mereka berdua, tetapi yang menjadi masalahnya adalah apakah Zian mau dan setuju dengan permintaan ayahnya. Apalagi menyatukan dua hati yang tidak saling terhubung bukanlah sesuatu yang mudah.


Luna menghela nafas panjang. "Tapi apakah dia mau? Sementara aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa, jangankan memikirkan kami akan bersama, membayangkan Jika dia akan mencintaiku saja tidak pernah. Jadi jangan harapkan apapun dari rencana kalian ini." Ujar Luna.


Nyonya Xia mengangguk. "Ya, kami tahu. Tapi tidak ada salahnya mencobanya dulu. Siapa tahu Zian akan setuju dan mau menikahimu, bukankah itu lebih bagus. Percayalah, Luna. Apa yang kami lakukan sama dan Papa sangat peduli padamu, kami memikirkan masa depanmu, dan kami juga berharap kau berada di tangan pria yang tepat," tutur Nyonya Xia.


Ya, semua yang mereka lakukan adalah semata-mata untuk kebahagiaan Luna, karena tidak ada yang lebih penting bagi mereka berdua selain kebahagiaan Putrinya. Karena setiap orang tua menginginkan kebahagiaan untuk putra-putrinya, Nyonya dan Tuan Xia salah satunya.


"Zian, kau sudah datang, duduklah." seruan itu mengalihkan perhatian ibu dan anak tersebut. Nyonya Xia dan luna saling bertukar pandang, kemudian mereka berdua bersama-sama meninggalkan dapur.


Selepas kepergian Luna dan ibunya, di ruang tamu hanya menyisakan Zian dan Tuan Xia. Seketika keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua, tak ada obrolan diantara berdua. Tuan Xia dan Zian sama diam dalam keheningan.


Karena tak ada ucapan yang keluar dari bibir paruh baya itu, akhirnya Zian lah yang mengambil inisiatif untuk memulai obrolan. "Paman, sebenarnya ada apa kau ingin bertemu denganku?" tanya siang tanpa banyak basa-basi, karena dia adalah orang yang to the point.


"Baiklah, Paman akan langsung saja. Zian, menikahlah dengan, Luna," pinta Tuan Xia secara to the poin. Bahkan dia tidak berbasa-basi sama sekali.

__ADS_1


Zian pun memicingkan matanya dan menatap pria paruh baya itu penuh tanya. "Maksud Paman bagaimana?" Zian bertanya. Dia membutuhkan penjelasan dari ucapan Ayah Luna.


"Maksud Paman sangat jelas, Zian. Paman ingin supaya kau menikahi, Luna. Paman, tahu jika kau dan Luna tidak memiliki hubungan apa-apa, apalagi spesial. Tapi Zian, cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Paman dan Bibi sudah semakin tua, Vincent juga sudah memiliki kehidupannya sendiri jadi dia tidak mungkin bisa selalu melindungi adiknya."


"Sementara kami ingin ada seseorang yang bisa menjaga serta melindungi, Luna. Dan menurut Paman kau adalah satu-satunya orang yang paling tepat untuknya. Paman, tidak berharap kau mencintainya, tapi kami hanya ingin dia memiliki sandaran dan juga ada seseorang yang bisa menjaganya. Tetapi Paman tidak akan memaksamu, kau bisa memikirkannya terlebih dulu," Tutur Tuan Xia.


Zian terdiam sesaat. Dia bingung harus menjawab bagaimana. Dia memiliki banyak sekali pertimbangan, apalagi ini masalah pernikahan. Mudah saja untuk menikah, yang menjadi pertanyaannya apakah ia dan Luna mampu untuk menjalaninya. Karena menyatukan dua hati orang yang tak saling mencintai bukanlah perkara yang mudah.


"Maaf, Paman. Aku akan memikirkannya terlebih dahulu, dan untuk saat ini aku tidak bisa memberikan jawaban apa-apa, jadi berikan aku sedikit waktu untuk memikirkannya," pinta Zian.


Tuan Xia mengangguk. "Memang tidak perlu terburu-buru, kau bisa memikirkannya terlebih dulu dan Paman akan memberimu waktu. Dan tolong jangan terbebani oleh permintaan Paman ini, ya. Apalagi merubah sikpamu pada Luna, dia tidak tau apa-apa, bahkan Paman merahasiakan alasan kenapa mengajakmu untuk bertemu."


Zian tak memberikan tanggapan apa-apa. Lalu pandangannya bergulir pada Luna yang sibuk menyiapkan menyusun makanan diatas meja. Meskipun ada keinginan di hatinya untuk selalu melindunginya, tapi Zian sadar diri jika dia hanyalah seorang berandalan yang tidak memiliki masa depan.


"Makan malam sudah siap. Zian, sebaiknya ikut kami makan malam sama-sama. Kebetulan Luna dan Ibunya memasak banyak malam ini." Ucap Tuan Xia.


Zian menganggukkan kepala. "Baik, Paman."


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2