Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Ingin Menundanya.


__ADS_3

Sebuah pelukan hangat dari belakang sedikit menyita perhatian Luna. Dan tanpa melihatnya sekalipun, tentu saja Luna sudah tahu siapa yang memeluknya , karena kehangatannya dan juga aroma tubuhnya yang sangat familiar.


Saat ini mereka berdua sedang berada di balkon kamarnya, untuk menikmati senja. Dan dari tempat Mereka berdiri saat ini, Luna dan Zian bisa melihat dengan jelas matahari yang mulai terbenam. Mereka berdua sedang berada di pulau Jeju untuk berbulan madu.


"Zian, apa kau ingin segera memiliki anak?" tanya Luna mengakhiri keheningan di antara mereka.


"Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?" Zian memicingkan matanya. "Apa kau masih belum siap untuk memiliki anak?" tanya Zian memastikan.


"Aku~" Luna menggantung kalimatnya lalu menundukkan kepalanya. Wanita itu menggigit Bibir bawahnya, dia takut Zian akan kecewa. "Zian, aku~"


Zian menghela napas. Kemudian dia memutar tubuh Luna supaya menghadap padanya. "Tidak perlu dikatakan karena aku sudah tau apa jawabanmu. Aku bisa mengerti, Luna. Dan aku tidak akan memaksamu untuk segera memiliki anak. Kita bisa menundanya selama beberapa tahun ke depan, sampai kita berdua sama-sama siap untuk menjadi orang tua," ujarnya.


Sontak Luna mengangkat kepalanya dan menatap Zian tak percaya. "Kau tidak marah ataupun kecewa padaku?" tanya Luna memastikan.


Zian menggeleng. "Sama sekali tidak, untuk apa harus kecewa? Toh, kita masih sama-sama masih muda dan emosi kita juga belum stabil." ujar Zian.


Luna tersenyum lebar mendengar perkataan Zian, sekarang dia bisa merasa lega setelah mendengar jawaban suaminya. Luna pikir Zian tak akan setuju dengannya, tapi ternyata dia juga memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya.


Wanita itu tersenyum lebar. Kemudian Luna mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Zian. "Sebaiknya kita nikmati saja dulu masa muda ini sebelum memiliki anak. Apalagi kita berdua menikah tanpa ada pengalaman berpacaran. Jadi tidak ada salahnya jika kita berdua pacaran setelah menikah," ujar Luna. Dan apa yang dia katakan adalah fakta, karena faktanya ia dan Zian belum pernah berpacaran sebelumnya.


Perlahan tapi pasti Luna mendekatkan bibirnya pada bibi Zian lalu menyatukannya. Memagut bibir itu dengan lembut dan penuh perasaan. Jika biasanya Zian-lah yang memulainya lebih dulu, maka kali ini tidak, karena yang memulainya lebih dulu adalah Luna.


Namun sayangnya, itu tidak berlangsung lama karena Zian tidak suka didominasi, dan kali ini ciuman itu diambil alih oleh Zian sepenuhnya, Luna pun hanya bisa pasrah dan membiarkan pria itu menginvasi bibirnya.


Bibir mereka saling melumatt, menghisap dan


memagut. Luna beranjak dari posisinya dan


berpindah keatas pangkuan Zian, tubuh


mereka semakin intiim dan nyaris tidak berjarak


lagi. Salah satu tangan Zian berada di


belakang kepala Luna dan tangan satu lagi


melingkari pinggangnya, menariknya lebih


dekat untuk menempel pada dada


tellanjangnya.


Ciuman mereka yang semula lembut dan santai


perlahan berubah menjadi ciuman panas yang


menuntut. Kedua mata mereka sama-sama


tertutup dan kepala mereka saling berputar, dan


tak cukup hanya melumatt saja.


Zian menyusupkan lidahnya ke dalam mulut hangat


Luna dan mulai mengobrak-abriknya. Mulai


dari mengabsen satu persatu giginya, menyapu


dinding-dinding mulutnya sampai mengajak

__ADS_1


lidahnya menari bersama.


Desahhan dan erangan berkali-kali lolos dari


mulut Luna saat Zian menciumnya semakin


keras. Posisi mereka tidak lagi duduk, Zian


mengunci tubuh wanita itu di bawah tubuh


kekarnya.


Puas berlama-lama pada bibirnya, kemudian


Zian menurunkan ciumannya menuju leher


jenjang Luna, mengecapnya dan


meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di


sana.


Zian mengangkat kepalanya untuk menatap


Luna sesaat. "Apa kau sudah sembuh?" tanyanya memastikan, saat ini Luna masih sayang bulan.


Luna menggeleng seraya tersenyum getir "Dua hari lagi." jawabnya dengan lemas.


Zian mendesah kecewa. Sudah lima hari juniornya dianggurkan, tapi mau bagaimana lagi, keadaan tidak memungkinkan "Baiklah, aku mengerti." Zian kembali membawa bibir Luna dalam ciuman


panjang, lidahnya menerobos masuk dan


mengobrak-abrik isi dalam mulut wanita itu,


saliiva.


Meskipun tubuh mereka tidak bisa


bergulat panas tapi lidah dan bibir mereka bisa


menggantikannya.


Luna mendorong tubuh Zian dari atas


tubuhnya dan mereka bertukar posisi. Luna


menyeringai melihat sesuatu yang keras yang


ada dalam genggamannya. "Bagaimana jika


kau mengeluarkan melalui mulutku, bukankah


itu tidak terlalu buruk?"


"Lakukan, baby, ouugghh....Aaahhhhh, aku


benar-benar sudah tidak bisa menahannya


lebih lama lagi." rancau Zian di tengah kenikmatannya.

__ADS_1


"Kau sangat tidak sabaran, Zian...."


Luna mengullum benda kebanggan milk


Zian sambil memainkan telurnya. Wanita itu


menggerakkan junior Zian naik turun di dalam


mullutnya sambil sesekali menghiisap bagian


ujungnya.


Dessahan dan erangan berkali-kali lolos dari mulut sexy Zian saat wanita itu mengullum batangnya semakin dalam dan cepat. "Aaahhh, baby, lebih cepat lagi, lebih cepat lagi."


rancau Zian sambil memainkan putiing milik Luna.


Mereka berdua saling memuaskan meskipun


tanpa harus berhubbungan badan, Zian terus


memillin kedua putting Luna membuat wanita


itu menddesah berkali-kali.


"Aaahhh, Luna lepaskan , milikku hampir keluar."


seru Zian.


Luna melepaskan kullumannya


dan membiarkan cairan milik Zian keluar


begitu saja, wanita itu membantu dengan


mengocokk benda kebanggan suaminya


tersebut dengan gerakkan naik turun.


"Aku akan mandi sekarang, setelah ini temani aku


menjemput seseorang." Ucap Zian kemudian


mengecup singkat bibir Luna, wanita itu


mengangguk.


Sembari menunggu Zian selesai mandi. Luna memutuskan untuk merapikan


penampilannya yang cukup berantakkan dan


berganti pakaian. Dan setelah selesai, Luna


memilih untuk menunggu Zian di luar, wanita


itu beranjak dari kamarnya dan pergi menuju


lantai satu tempat tinggal mereka.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2