
Sebuah pelukan hangat dari belakang sedikit menyita perhatian Luna. Dan tanpa melihatnya sekalipun, tentu saja Luna sudah tahu siapa yang memeluknya , karena kehangatannya dan juga aroma tubuhnya yang sangat familiar.
Saat ini mereka berdua sedang berada di balkon kamarnya, untuk menikmati senja. Dan dari tempat Mereka berdiri saat ini, Luna dan Zian bisa melihat dengan jelas matahari yang mulai terbenam. Mereka berdua sedang berada di pulau Jeju untuk berbulan madu.
"Zian, apa kau ingin segera memiliki anak?" tanya Luna mengakhiri keheningan di antara mereka.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?" Zian memicingkan matanya. "Apa kau masih belum siap untuk memiliki anak?" tanya Zian memastikan.
"Aku~" Luna menggantung kalimatnya lalu menundukkan kepalanya. Wanita itu menggigit Bibir bawahnya, dia takut Zian akan kecewa. "Zian, aku~"
Zian menghela napas. Kemudian dia memutar tubuh Luna supaya menghadap padanya. "Tidak perlu dikatakan karena aku sudah tau apa jawabanmu. Aku bisa mengerti, Luna. Dan aku tidak akan memaksamu untuk segera memiliki anak. Kita bisa menundanya selama beberapa tahun ke depan, sampai kita berdua sama-sama siap untuk menjadi orang tua," ujarnya.
Sontak Luna mengangkat kepalanya dan menatap Zian tak percaya. "Kau tidak marah ataupun kecewa padaku?" tanya Luna memastikan.
Zian menggeleng. "Sama sekali tidak, untuk apa harus kecewa? Toh, kita masih sama-sama masih muda dan emosi kita juga belum stabil." ujar Zian.
Luna tersenyum lebar mendengar perkataan Zian, sekarang dia bisa merasa lega setelah mendengar jawaban suaminya. Luna pikir Zian tak akan setuju dengannya, tapi ternyata dia juga memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya.
Wanita itu tersenyum lebar. Kemudian Luna mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Zian. "Sebaiknya kita nikmati saja dulu masa muda ini sebelum memiliki anak. Apalagi kita berdua menikah tanpa ada pengalaman berpacaran. Jadi tidak ada salahnya jika kita berdua pacaran setelah menikah," ujar Luna. Dan apa yang dia katakan adalah fakta, karena faktanya ia dan Zian belum pernah berpacaran sebelumnya.
Perlahan tapi pasti Luna mendekatkan bibirnya pada bibi Zian lalu menyatukannya. Memagut bibir itu dengan lembut dan penuh perasaan. Jika biasanya Zian-lah yang memulainya lebih dulu, maka kali ini tidak, karena yang memulainya lebih dulu adalah Luna.
Namun sayangnya, itu tidak berlangsung lama karena Zian tidak suka didominasi, dan kali ini ciuman itu diambil alih oleh Zian sepenuhnya, Luna pun hanya bisa pasrah dan membiarkan pria itu menginvasi bibirnya.
Bibir mereka saling melumatt, menghisap dan
memagut. Luna beranjak dari posisinya dan
berpindah keatas pangkuan Zian, tubuh
mereka semakin intiim dan nyaris tidak berjarak
lagi. Salah satu tangan Zian berada di
belakang kepala Luna dan tangan satu lagi
melingkari pinggangnya, menariknya lebih
dekat untuk menempel pada dada
tellanjangnya.
Ciuman mereka yang semula lembut dan santai
perlahan berubah menjadi ciuman panas yang
menuntut. Kedua mata mereka sama-sama
tertutup dan kepala mereka saling berputar, dan
tak cukup hanya melumatt saja.
Zian menyusupkan lidahnya ke dalam mulut hangat
Luna dan mulai mengobrak-abriknya. Mulai
dari mengabsen satu persatu giginya, menyapu
dinding-dinding mulutnya sampai mengajak
__ADS_1
lidahnya menari bersama.
Desahhan dan erangan berkali-kali lolos dari
mulut Luna saat Zian menciumnya semakin
keras. Posisi mereka tidak lagi duduk, Zian
mengunci tubuh wanita itu di bawah tubuh
kekarnya.
Puas berlama-lama pada bibirnya, kemudian
Zian menurunkan ciumannya menuju leher
jenjang Luna, mengecapnya dan
meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di
sana.
Zian mengangkat kepalanya untuk menatap
Luna sesaat. "Apa kau sudah sembuh?" tanyanya memastikan, saat ini Luna masih sayang bulan.
Luna menggeleng seraya tersenyum getir "Dua hari lagi." jawabnya dengan lemas.
Zian mendesah kecewa. Sudah lima hari juniornya dianggurkan, tapi mau bagaimana lagi, keadaan tidak memungkinkan "Baiklah, aku mengerti." Zian kembali membawa bibir Luna dalam ciuman
panjang, lidahnya menerobos masuk dan
mengobrak-abrik isi dalam mulut wanita itu,
saliiva.
Meskipun tubuh mereka tidak bisa
bergulat panas tapi lidah dan bibir mereka bisa
menggantikannya.
Luna mendorong tubuh Zian dari atas
tubuhnya dan mereka bertukar posisi. Luna
menyeringai melihat sesuatu yang keras yang
ada dalam genggamannya. "Bagaimana jika
kau mengeluarkan melalui mulutku, bukankah
itu tidak terlalu buruk?"
"Lakukan, baby, ouugghh....Aaahhhhh, aku
benar-benar sudah tidak bisa menahannya
lebih lama lagi." rancau Zian di tengah kenikmatannya.
__ADS_1
"Kau sangat tidak sabaran, Zian...."
Luna mengullum benda kebanggan milk
Zian sambil memainkan telurnya. Wanita itu
menggerakkan junior Zian naik turun di dalam
mullutnya sambil sesekali menghiisap bagian
ujungnya.
Dessahan dan erangan berkali-kali lolos dari mulut sexy Zian saat wanita itu mengullum batangnya semakin dalam dan cepat. "Aaahhh, baby, lebih cepat lagi, lebih cepat lagi."
rancau Zian sambil memainkan putiing milik Luna.
Mereka berdua saling memuaskan meskipun
tanpa harus berhubbungan badan, Zian terus
memillin kedua putting Luna membuat wanita
itu menddesah berkali-kali.
"Aaahhh, Luna lepaskan , milikku hampir keluar."
seru Zian.
Luna melepaskan kullumannya
dan membiarkan cairan milik Zian keluar
begitu saja, wanita itu membantu dengan
mengocokk benda kebanggan suaminya
tersebut dengan gerakkan naik turun.
"Aku akan mandi sekarang, setelah ini temani aku
menjemput seseorang." Ucap Zian kemudian
mengecup singkat bibir Luna, wanita itu
mengangguk.
Sembari menunggu Zian selesai mandi. Luna memutuskan untuk merapikan
penampilannya yang cukup berantakkan dan
berganti pakaian. Dan setelah selesai, Luna
memilih untuk menunggu Zian di luar, wanita
itu beranjak dari kamarnya dan pergi menuju
lantai satu tempat tinggal mereka.
.
__ADS_1
.
Bersambung.