
"ZIAN!!"
Luna memekik sekencang-kencangnya menyerukan nama pemuda itu. Luna mengusap dadanya dengan gerakan naik turun. Zian nyari saja membuatnya terkena serangan jantung dadakan.
"YAKK!! APA KAU SENGAJA INGIN MEMBUATKU MATI BERDIRI, EO?!" bentak Luna dengan marah. "Kau membuat orang cemas saja. Aku pikir kau terluka lagi seperti malam itu saat aku menemukanmu yang hampir mati disini." Ujar Luna yang mulai tenang.
Zian memicingkan matanya dan menatap Luna dengan penuh tanya. "Kau mencemaskan ku?" ucapnya memastikan.
Luna menganggukkan kepalanya. "Ya, aku mencemaskan mu. Ngomong-ngomong kenapa kau datang malam-malam begini, apa kau perlu sesuatu denganku?" tanya Luna. Matanya terkunci pada mata Hitam pemuda itu.
Zian menggelengkan kepala. "Tidak!! Aku hanya tidak sengaja lewat lali berhenti disini. Sudah larut malam, kalau begitu aku pulang." Ucap Zian seraya beranjak dari hadapan Luna dan hendak berjalan menghampiri motor besarnya.
"Zian, tunggu!!" namun cengkraman pada lengannya menghentikan langkah pemuda itu.
Lantas Zian menoleh. "Ada apa?" ucapnya dingin.
"Aku butuh bantuanmu. Lampu di kamar mandi tiba-tiba mati dan aku tidak bisa memperbaikinya sendiri. Bisakah kau membantuku memperbaikinya?" Luna menatapnya dengan penuh harap. Berharap Zian mau membantunya.
Zian mengangguk. "Baiklah." Luna tersenyum lebar mendengar jawaban Zian.
"Aku tahu kau tidak mungkin mengecewakanku. Dan sebaiknya bawa motormu masuk ke dalam karena terlalu berbahaya jika kau meninggalkan motormu di sini. Bisa-bisa motormu malah dicuri dan dibawa kabur oleh orang lain." Ujar Luna. Zian menganggukkan kepalanya. Kemudian keduanya kembali ke kendaraan masing-masing.
__ADS_1
Luna membawa Zian menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Karena yang mati adalah Lampur kamar mandi di kamarnya. "Apa kau memiliki lampu cadangan?" tanya Zian memastikan.
Gadis itu menganggukkan kepalanya."Tunggu sebentar, aku ambil dulu lampunya." Ucapnya lalu beranjak dari hadapan Zian.
Dan tak sampai satu menit Luna sudah kembali dengan membawa lampu baru yang bungkusnya masih tersegel rapi lalu memberikannya pada Zian. "Sudah," ucap Zian sembari menuruni tangga besi lalu memindahkannya ke tempat semula.
"Terimakasih dan maaf harus merepotkanmu." Sesal Luna. Sebenarnya Luna merasa tidak enak pada Zian karena harus merepotkannya. Tapi mau bagaimana lagi, karena hanya Zian yang bisa dia mintai bantuan.
"Bukan masalah besar. Kalau begitu aku pulang dulu. Sebaiknya cepat tidur dan jangan lupa untuk mengunci semua pintu dan jendela." Zian menepuk kepala Luna lalu beranjak dari hadapan gadis itu.
Zian hendak pulang, dan lagi-lagi Luna menghentikannya. "Zian, tunggu. Bisakah malam ini kau bermalam saja disini. Aku sedikit takut. Tadi sebelum pulang aku sempat ribut dengan geng motor. Kemudian aku dan mereka terlibat pertengkaran hebat. Aku juga memaki mereka habis-habisan. Dan aku takut mereka akan dendam padaku lalu berusaha mencari tempat tinggalku. Untuk itu bisakah kau bermalam disini dan menemaniku?" pinta Luna dengan tatapan memohon.
"Memangnya siapa mereka?" tanya Zian penasaran.
"Kalau aku tidak salah ingat geng mereka bernama, Black Jack." Jawab Luna.
Zian menghela napas. "Kenapa kau harus mencari masalah dengan mereka? Apa kau tidak tau jika mereka sangat berbahaya, bagaimana jika mereka sampai mengincarmu lalu melakukan sesuatu yang tidak baik padamu? Dan asal kau tau saja, Luna. Mereka adalah kelompok gangster yang sangat berbahaya." Tutur Zian.
Dan akhirnya Luna pun menceritakan sebab utama kenapa dirinya bisa sampai terlibat pertengkaran dengan anggota Black Jack. Dan Zian hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepalanya. Zian akui jika Luna sangatlah berani, meskipun dia sendiri tau jika yang dihadapi itu bukanlah pemuda baik-baik melainkan geng motor yang selalu berbuat onar dimana-mana.
"Nah, begitu ceritanya. Dan siapa yang tidak kesal coba. Malam hari malah menggeber motornya seperti jalanan umum milik nenek moyangnya sendiri. Dan rasanya aku bukan cuma menyiram mereka dengan air dingin, tapi dengan bensin lalu membakar mereka semua hidup-hidup!!" ujar Luna berapi-api.
__ADS_1
Zian menghela napas untuk kesekian kalinya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan Luna. "Lain kali sebaiknya pikirkan dulu sebab akibat yang akan kau alami sebelum mengambil tindakan. Jangan hanya karena terbawa emosi sampai-sampai kau harus melakukan tindakan yang merugikan dirimu sendiri." Ujar Zian memberi nasehat.
"Ya, tidak lagi-lagi. Itu yang pertama dan terakhir kalinya." Luna mengangkat tangannya dan jarinya membentuk huruf V, dia baru saja mengucapkan janji pada Zian.
Tiba-tiba keheningan menyelimuti kebersamaan Zian dan Luna. ada lagi obrolan di antara mereka berdua setelah berbicara singkat itu. Keduanya memilih untuk sama-sama diam. Karena mereka sama-sama tidak tau harus membahas apa lagi. Seketika Luna kehilangan kata-katanya.
"Luna, apa kau tidak takut padaku?" pertanyaan itu segera menyadarkan Luna dari lamunannya.
Gadis itu menoleh dan membuat matanya saling bersirobok dengan manik hitam milik Zian.
"Takut? Untuk apa aku takut padamu? Toh kita sama-sama makan nasi. Yang membedakan hanya dunia yang kita pilih. Kau memilih berjalan di dalam kegelapan , sedangkan aku dijalan cahaya. Sudahlah, jangan bertanya aneh-aneh lagi. Sebaiknya segera pergi ke kamar tamu lalu istirahat. Aku juga lelah dan ingin cepat-cepat tidur." Ucap Luna dan meninggalkan Zian begitu saja.
Kedua mata Luna sudah tidak bisa untuk diajak kompromi lagi. Dia benar-benar mengantuk , kedua matanya terasa berat dan sulit bertahan. Dan akhirnya dia pun menyerah dan memutuskan untuk tidur duluan. Meninggalkan Zian yang masih belum bergeming dari tempatnya saat ini.
Zian masih belum mengantuk. Lagipula sekarang masih terlalu awal untuknya tidur. Karena biasanya Zian tetap terjaga sampai larut malam, bahkan dini hari.
.
.
Bersambung.
__ADS_1