
Tubuh itu ambruk seketika setelah mendapatkan pukulan tolak pada Ulu hatinya. Sekujur tubuhnya babak belur akibat pukulan dan tendangan yang ia terima bertubi-tubi. Sakit rasanya sekujur tubuhnya, bahkan tulang-tulangnya terasa remuk akibat pukulan-pukulan itu.
"Uhuk," dia terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya. Di bagian dadanya terasa sesak, hingga membuatnya sulit bernafas. Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap tajam orang yang menghajarnya. Kenapa berhenti? Ayo cepat pukul lagi, pukul aku sampai mati!!" satria pria itu dengan frustasi.
Untuk apa aku harus melakukan sesuatu yang bisa mengotori tanganku? Jika kau memang ingin mati, maka lakukan sendiri," kemudian orang itu melemparkan sebuah pistol pada pria yang terkapar tersebut.
Bukannya menerimanya. Dia malah melemparkan pistol tersebut dan berusaha untuk bangkit dari posisinya. Tapi tidak bisa, jangankan untuk berdiri, untuk bergerak saja ia kesulitan. Sedangkan orang yang menghajarnya beranjak dan meninggalkannya begitupun saja.
"Zian Lu, kau benar-benar bajiingan!! Dasar iblis tidak berhati, aku pasti akan membalasmu!"
Zian menghentikan langkahnya lalu melirik ke belakang dan menatap orang itu dengan tajam. "Jika kau sudah tahu aku adalah iblis, lalu kenapa masih berani mencari masalah denganku?" ucapnya dingin. Ini kau ku ampuni, jadi berpikirlah dua kali sebelum mencari masalah denganku!!" Zian menyeka darah yang ada di bawah mata kanannya dan pergi begitu saja.
Mencari masalah dengan Zian sama saja dengan menghantarkan nyawa secara suka rela. Dan Zian tidak akan melepaskan siapa pun yang berani mengusiknya. Dan karena hari ini dia masih memiliki sedikit hati. Makanya, Zian melepaskan orang itu dan membiarkannya tetap hidup.
Berkali-kali Luna melihat kearah jam yang tergantung di dinding. Waktu telah menunjuk angka 22.21 malam, tetapi Zian belum pulang juga. Tidak biasanya dia pulang terlambat tanpa memberitahunya, dan hal itu membuat Luna menjadi sangat cemas.
Sudah berkali-kali Luna mencoba menghubungi ponselnya, tetapi nomornya selalu di luar jangkauan, membuat pikirannya semakin tidak tenang. Luna benar-benar takut sesuatu yang buruk suaminya, dia takut jika Zian sampai dicelakai orang atau terlibat tawuran dengan gangster yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya.
"Nyonya, apa Tuan Muda masih belum pulang juga?" tanya Paman Kim.
Luna menggelengkan kepala. "Belum Paman, ponselnya juga tidak bisa dihubungi," jawab Luna, dia menghela napas.
"Nyonya, mungkin saja pekerjaan Tuan Muda masih belum selesai dan ponselnya habis baterai, makanya tidak bisa dihubungi. Sebaiknya Anda jangan terlalu mencemaskannya karena Tuan Muda bukanlah orang yang mudah untuk dicelakai. Dia sangat peka dan waspada," ujar Paman Kim, dia mencoba menenangkan Luna yang sedang cemas dan ketakutan.
Wanita itu menghela nafas. "Ya, semoga saja," ucapnya.
Deru suara motor yang memasuki halaman menyita perhatian mereka berdua. Buru-buru Luna lari keluar untuk memastikan apakah itu Zian atau bukan, dan dia bisa bernapas lega karena yang datang benar-benar Zian.
"Luna, ada apa? Kenapa kau terlihat panik dan cemas?" tanya Zian kebingungan.
__ADS_1
"Kau darimana saja? Kenapa jam segini baru pulang? Lalu kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" Luna melayangkan pertanyaan bertubi-tubi pada Zian.
"Ponselku habis batere," Zian menjawab dengan nada datar.
"Lalu kenapa dengan wajahmu? Lalu plaster apa ini? Jangan bilang kalau kau terlibat tawuran lagi!!" lagi-lagi Zian diberondong berbagai pertanyaan oleh Luna.
Pria itu mendengus. Terlalu banyak pertanyaan yang Luna berikan padanya, sehingga Zian bingung harus menjawab yang mana dulu. "Terjadi sedikit insiden tadi, tapi aku tidak apa-apa dan ini hanya luka kecil saja. Dan perlu kau garis bawahi, aku tidak terlibat tawuran, tapi berkelahi untuk membela diri!!" ujar Zian menegaskan.
Luna mahalan nafas. "Syukurlah, karena kau tidak apa-apa. Sebaiknya kita masuk dan segera mandi, setelah ini kita makan malam sama-sama," ucap Luna.
"Kau belum makan malam?" tanya Zian. Luna menggeleng. "Kenapa?" tanya Zian sekali lagi.
"Karena aku menunggumu," jawab Luna tanpa mengakhiri kontak mata diantara iya dan Zian.
Zian menghela napas. "Kita makan malam dulu saja, aku mandi setelah makan malam." Ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna. Keduanya lalu berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Dan demi menunggu Zian pulang, Luna sampai rela menahan lapar. Luna ingin makan malam bersama dengan Zian.
.
.
"Oya, Zian. Aku hampir lupa, Mama tadi menelfon dan meminta supaya kita berdua ikut datang ke acara reunian, keluarga Xia. Mama dan Papa ingin mengenalkanmu pada semua, keluarga kami," ucap Luna dan mengalihkan perhatian Zian dari laptopnya.
"Kapan?" Zian bertanya singkat.
"Akhir minggu ini. Jadi aku harap kau bisa meluangkan waktumu untuk ikut datang ke sana," jawab Luna.
Zian menepuk kepala Luna dan menganggukkan kepala. "Aku pasti datang, aku tidak bisa mengecewakan Mama dan Papa karena tidak bisa datang,"
Luna tersenyum lebar mendengar jawaban Zian. Luna dan orang tuanya hanya ingin Zian bisa dekat dengan semua keluarga Xia. Karena bagaimana pun juga, Zian sekarang adalah bagian dari keluarga besarnya.
__ADS_1
"Ini sudah larut malam, sebaiknya kau cepat tidur," pinta Zian dan dibalas anggukan oleh Luna.
"Kebetulan aku juga sudah mengantuk. Kalau begitu aku tidur duluan," ucap Luna dan dibalas anggukan oleh Zian. Luna bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Luna benar-benar sudah ngantuk berat.
.
.
Pranggg...
Suara itu mengejutkan seorang wanita paruh baya yang sedang menonton TV. Ia meletakkan remotenya dan buru-buru lari ke kamar putrinya, karena suara itu berasal dari sana. Kedua matanya membelalak sempurna saat melihat sesuatu yang sangat mengerikan tepat di depan matanya.
"Vera!!"
Wanita itu berteriak sekencang-kencangnya ketika melihat putrinya terkulai di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri. Darah segar tampak keluar dari kepala Vera yang berbenturan dengan lantai, beling tampak berserakan di lantai dan beberapa menancap di tubuh wanita itu.
Vera terjatuh ketika hendak mengambil air minum yang ada di atas meja. Karena tidak sampai, akhirnya dia jatuh terjerambat. Tak ingin hal buruk terjadi pada putrinya, wanita itu pun segera Melarikan Vera ke rumah sakit.
Tiga puluh menit, kurang lebih waktu yang dibutuhkan untuk sampai di rumah sakit. Vera mengalami benturan keras pada kepalanya yang membuatnya mengalami gegerr otak dan koma. Membuat wanita itu terpukul dan terkejut.
"Lalu apakah ada harapan untuk dia bangun dan sembuh seperti sebelumnya?" tanya wanita paruh baya itu.
Dokter itu menggelengkan kepala. "Saya tidak bisa memastikannya, Nyonya. Nona Vera, mengalami benturan yang sangat keras pada kepala belakangnya. Jikapun dia bangun dan sadar kembali, mungkin dia akan mengalami gangguan pada syarrafnya. dia tidak bisa 100% lagi," terang Dokter itu menjelaskan.
Wanita itu terhuyung kebelakang dan terduduk lemas setelah mendengar penjelasan dokter tersebut. Kondisi Vera benar-benar parah, jikapun dia bangun ada kemungkinan jika Vera mengalami keterlambatan dalam berpikir.
Air mata mengalir deras dari pelupuknya yang kemudian jatuh membasahi wajahnya. Dia berpikir jika yang terjadi pada Vera adalah karma dari semua perbuatannya dimasa lalu, dan sebagai seorang Ibu, ia telah menjerumuskan putrinya dalam jurang kehancuran dan jalan yang salah.
.
__ADS_1
.
Bersambung.