Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Tidak Menyangka


__ADS_3

"Mohon maaf jika saya datang sedikit terlambat, ada beberapa hal yang harus saya urus terlebih dulu. Saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Zian Lu, dan saya yang akan menjadi pemimpin Lu Empire selanjutnya. Ada sedikit kesalahpahaman yang perlu saya luruskan disini, saya adalah pewaris yang sebenarnya dan saham 70% yang selama ini menjadi misteri bukanlah milik, Remon Lu. Tapi saham itu milikku!" ujar Zian memberi penjelasan.


"Jangan mengada-ada, Zian. Kau datang-datang membuat kehebohan!" Maya melayangkan protesnya.


"Aku tidak mengada-ada, Bibi. Aku mengatakan yang sebenarnya. Dia adalah pengacara keluarga Lu, dan semua data-data mengenai kepemilikan saham itu sah di mata hukum. Jika Anda sekalian tidak percaya, silahkan di periksa!" Zian menyerahkan beberapa berkas asli mengenai kepemilikan saham 70% persen itu pada beberapa pemegang saham.


Orang-orang di dalam ruangan itu pun saling berbisik-bisik, kemudian mengembalikan dokumen itu pada Zian.


"Tapi, Tuan Muda. Perusahaan membutuhkan suntikan dana dan Investasi yang sangat besar." ucap salah satu pemegang saham.


"Soal itu Anda tidak perlu cemas, empat perusahaan yang dulu telah menarik sahamnya kini bersedia menyuntikkan dana untuk perusahaan ini dan menanam sahamnya kembali!" semua merasa lega dan bertepuk tangan.


Tatapan Zian lalu bergulir pada Remon, Maya dan Melisa yang sudah memucat. Seringai kemenangan tercetak jelas di wajah tampannya.


"Untuk itu, mohon dukungan dan kerjasamanya,"


Zian membungkukkan badannya dengan hormat. Tuan Xia tersenyum tipis, dia sungguh tidak menyangka jika menantunya yang bernadalan adalah seorang Tuan Muda dari keluarga ternama. Dan keempat CEO muda itu adalah Max, Alex, Cris dan Theo. Karena sebenarnya mereka berempat adalah para Tuan Muda dari keluarga ternama.


Mereka berempat menyeringai puas melihat kekalahan dan kehancuran Remon dan timnya. Dan tanpa siapa pun ketahui, bukti-bukti kejahatan Remon telah sampai ke tangan pihak yang berwajib dan hanya meninggal waktu saja untuk menangkap dan membekuk mereka semua.


Remon dan timnya meninggalkan ruang rapat dengan emosi. Rencana mereka gagal total, dan siapa yang menyangka jika Zian tiba-tiba hadir di sana dan mengacaukan semua rencana mereka. Dan sungguh sangat mengejutkan karena ternyata pemegang saham terbesar itu adalah dia.


Maya menghentikan langkanya kemudian berbalik dan menatap Remon. "Kenapa kau begitu ceroboh sampai-sampai tidak mengetahui jika bocah itu akan kembali dan mengacaukan semua rencana kita," Mata memarahi Remon habis-habisan. Dia menyalahkan semuanya pada akhirnya tersebut.


"Kenapa kau jadi menyalahkanku? Memangnya siapa yang menduga jika bocah itu tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya. Lagipula kau juga ikut andil dalam masalah ini, seharusnya kau juga lebih waspada bukannya hanya menyalahkannya saja!!" Remon pun tak diterima disalahkan oleh Maya, dia balik menyalahkannya.


Melisa menjadi penengah dan memisahkan mereka berdua. "Tuan, Nyonya, ini bukan waktunya untuk bertengkar. Sebaiknya kita memikirkan cara untuk mengatasi pemuda itu, karena dia adalah ancaman terbesar bagi Anda berdua," ujarnya sambil menatap mereka berdua bergantian.


Maya dan Remon menghela nafas. Memang benar apa yang dikatakan oleh Melisa, tidak seharusnya mereka berdua bertengkar seperti ini, lebih baik memikirkan cara untuk menyingkirkan Zian dari kursi kepemimpinan dan merebut perusahaan dari tangannya.


"Kau benar sekali, sebaiknya sekarang kita pulang dan memikirkan rencana selanjutnya." Ujar Remon lalu meninggalkan kedua wanita itu.


Maya dan Melisa saling bertukar pandang. Kemudian mereka berdua melanjutkan langkahnya dan menyusul Remon yang berjalan menjauh.


Masih di tempat yang sama namun di lokasi berbeda. Beberapa pria sedang berbincang. Mereka adalah Zian, Tuan Xia, Vincent, Jerry dan teman-teman Zian.


"Zian, jadi kau adalah Tuan Muda dari keluarga Lu? Lalu kenapa tidak memberitahu kami sejak awal?" tanya Vincent.


Zian menghela nafas. "Itu karena aku tidak ingin orang lain mengenalku sebagai seorang Tuan Muda kemudian memperlakukanku dengan berbeda, tapi mengenalku sebagai Zian, pemuda berandalan yang memiliki hobi balap liar dan mabuk-mabukan." Ujar Zian.

__ADS_1


Tuan Xia menepuk bahu Zian sambil tersenyum tipis. "Ternyata firasat seorang ayah memang tidak pernah salah, karena Papa menikahkan Luna dengan orang yang tepat," ucapnya dengan senyum yang sama.


"Dan dari kalian, aku bisa mendapatkan kehangatan dan arti sebuah keluarga yang sebenarnya. Dan aku berjanji padamu, akan selalu kulindungi Luna dengan nyawaku sendiri. Aku tidak akan mengecewakan kepercayaan Papa padaku," ucapnya meyakinkan.


"Ya, Papa mempercayaimu. Dan jangan pernah takut untuk menghadapi mereka, karena kami selalu berada di pihakmu. Ditambah lagi dengan empat perusahaan yang sebelumnya telah menarik semua investasinya, kini bergabung kembali di perusahaan ini. Dan itu akan memperkuat posisimu sebagai pemimpin."


Sungguh sebuah kehormatan untuk keluarga Xia karena memiliki menantu dari keluarga ternama seperti 'Lu', sungguh tak pernah terpikir sebelumnya jika ternyata Zian adalah Tuan Muda kedua yang mewarisi seluruh kekayaan keluarga yang di darahnya masih mengalirkan darah bangsawan tersebut.


"Sudah hampir waktunya makan siang. Sebaiknya kita pergi sekarang, biar aku yang mentraktir kalian semua." Ucap Vincent, dia menatap semua orang di dalam ruangan secara bergantian.


"Kebetulan sekali kami juga sudah lapar," sahut Theo menimpali.


Semua orang yang tersisa segera meninggalkan Ayla auditorium. Mereka hendak pergi untuk makan siang. Dan karena Vincent yang akan mentraktir, makanya teman-teman Zian menjadi sangat bersemangat. Apalagi mereka sangat menyukai gratisan.


.


.


Nasib buruk benar-benar menimpa hidup Vera. Akibat ulah para gangster itu, kini dirinya menjadi orang yang tidak berguna. Dia mengalami kelumpuhan pada sekujur tubuhnya. Dan saat ini vera masih belum sadarkan diri, dan sudah lebih dari dua hari Dia mengalami koma di rumah sakit.


"Kapan dia akan sadar, dok?" wanita itu mendekati dokter yang baru saja memeriksa Vera dan menanyakan kondisinya.


"Kira-kira kapan dia akan bangun, Dok? Dan apakah putri saya akan baik-baik saja?" tanya wanita itu memastikan.


Dokter itu menggeleng. Saya tidak bisa memastikannya, Nyonya. Karena memang luka yang dia alami sangat lebaran, dia mengalami patah tulang hampir di sekujur tubuhnya, untungnya dia tidak sampai mengalami pendarahan di ottaknya." Tutur dokter itu menjelaskan.


Wanita itu terduduk lemas setelah mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh dokter tentang keadaan Vera. Lalu pandangannya bergulir pada putrinya tersebut, hatinya perih melihat keadaan Vera saat ini.


"Apa artinya dia akan lumpuh selamanya?" wanita itu memastikan.


"Kemungkinan begitu, karena banyak sekali tulang-tulangnya yang patah dan sulit untuk menyambungnya kembali. Sekali lagi Dokter itu menjelaskan. "Kalau begitu u saya permisi dulu, Nyonya." kemudian dia beranjak dari hadapan Ibunya Vera dan pergi begitu saja.


Suasana di ruangan itu seketika menjadi legang setelah kepergian dokter tersebut. Pandangan wanita itu bergulir pada Vera yang masih tak sadarkan diri, dan menghela nafas.


Rasanya begitu tidak tega melihat keadaan Vera sekarang. Dan wanita itu tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Vera, ketika dia sadar dan mendapati dirinya telah dalam keadaan lumpuh. Pasti Vera akan sangat-sangat hancur.


.


.

__ADS_1


Siang berlalu dengan cepat, malam yang dingin datang menjelang. Jam dinding menunjuk angka 2100 malam, dan Zian masih harus terjebak di dalam ruangan itu dengan tumpukan dokumen yang menyebalkan.


Ini adalah hari pertamanya kerja, dan Zian sudah harus lembur. Benar-benar tidak adil, dia tidak tahu apa saja yang telah dilakukan oleh Sean dan ayahnya selama ini, sampai-sampai perusahaan bisa mengalami kekacauan.


Dan Zian menemukan banyak data bukti penting tentang penggelapan dana perusahaan. Ada yang mengalir ke rekeniing pribadi milik ayahnya, dan ada juga yang masuk rekeniing pribadi milik Remon juga Maya.


Dering pada ponselnya sedikit menyita perhatian Zian. Zian meletakkan pulpennya lalu beralih pada ponselnya. Ternyata Luna yang menghubunginya.


"Apa malam ini kau lembur?" Luna langsung melayangkan sebuah pertanyaan begitu panggilan itu diangkat.


"Ya, banyak sekali dokumen yang masih harus aku periksa data-datanya,"


"Bukannya kau masih bisa melakukannya Di rumah. Kenapa tidak dibawa pulang saja dan melanjutkannya di rumah?" tanya Luna.


Benar juga apa yang Luna katakan, dokumen-dokumen itu masih bisa dia lanjutkan di rumah nanti. Memang sebaiknya jika ia pulang dan menyelesaikannya di rumah. "Baiklah, aku akan segara pulang." Ucapnya lalu mematikan sambungan telfon itu begitu saja.


Tiga puluh lima menit berkendara, Zian tiba di rumahnya. Dan kepulangannya disambut oleh Paman Wang yang sedang berbincang dengan beberapa pelayan. Kemudian Paman Wang memisahkan diri dari mereka dan menghampiri Zian.


"Tuan Muda, Anda sudah pulang." Dia mengambil alih tas kerja itu dari tangan Zian.


"Dimana Luna, Apa dia sudah tidur?" tanya Zian memastikan.


"Beliau ada di kamar dan tidak keluar lagi setelah makan malam. Sepertinya sudah, tapi saya tidak yakin juga." Jawab Paman Wang.


Zian mengangguk. Lalu melanjutkan langkahnya dan menuju kamarnya berada di lantai dua, untuk memastikan Apakah Luna benar-benar Sudah tidur atau belum. Dan ternyata wanita itu masih terjaga, kedatangan Zian disambut senyum lebar olehnya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Zian.


"Aku masih menunggumu," jawab Luna. "Kau sudah makan malam?" luna bertanya memastikan, karena dia tidak yakin jika siang sudah makan malam, mengingat seberapa sibuk dia hari ini.


"Kebetulan sudah. Aku tadi makan malam bersama kakakmu, lalu kau sendiri sudah makan malam belum?" Zian Balim bertanya dan memastikan.


Luna mengangguk. "Sudah, kau mandilah dulu. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." Ucap Luna. Saat tahu Zian sudah mau pulang, Luna langsung menyiapkan air hangat untuknya.


Zian menepuk kepala Luna dan mengangguk. "Maaf merepotkan. Terimakasih, Sayang. Kalau begitu aku mandi dulu." Zian mengecup kening Luna dan meninggalkannya. Sudut bibir Luna tertarik keatas. Hatinya menghangat dengan sikap Zian akhir-akhir ini. Dan Luna berharap jika hubungan mereka berlangsung selamanya, sampai maut memisahkan mereka.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2