Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Pernikahan


__ADS_3

Max tak sedikitpun meloloskan pandangannya dari Zian. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya, jika akhir-akhir ini dia menjadi lebih banyak diam dan melamun, seperti memikirkan sesuatu. Penasaran apa yang terjadi pada sahabatnya itu, Max pun memutuskan untuk menghampiri Zian dan bertanya padanya.


"You oke? Aku perhatikan akhir-akhir ini kau menjadi lebih banyak diam dan melamun, apa terjadi sesuatu?" tanya Max memastikan.


Zian menggelengkan kepala. "Tidak ada hanya saja ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku, dan hal itu menggangguku akhir-akhir ini," ucapnya.


Max memicingkan matanya. Dia semakin penasaran dan ingin tahu. "Memangnya hal apa itu? Sepertinya sangat serius," Max menatap Zian dengan penasaran. Ya,Max semakin penasaran.


Pemuda itu mengambil nafas panjang dan menghelanya. Sepertinya memang paling tepat membicarakan masalahnya pada orang yang sudah berpengalaman dalam dunia percintaan. Ya, setahu Zian pemuda dihadapannya ini adalah yang paling sering berkencan dengan banyak wanita dibandingkan yang lainnya.


"Apa keuntungan yang bisa di dapatkan setelah menikah?" tanya Zian.


Dan nyaris saja Max tersedak asap rokok di dalam mulutnya setelah mendengar pertanyaan Zian. Sontak Max menoleh dan menatap Zian penuh tanya. "Kenapa tiba-tiba kau bertanya soal pernikahan? Memangnya siapa yang ingin menikah?" tanya Max penasaran.


"Jangan banyak tanya, jawab saja!!" ucap Zian menuntut. Tatapannya dingin dan penuh intimidasi.


Max benar-benar terkejut dengan pertanyaan Zian perihal pernikahan. Karena setahunya Zian tidak sedang dekat dengan perempuan manapun, apalagi menjalin sebuah hubungan yang serius. Zian tidak pernah dekat lagi dengan lawan jenisnya sejak dikhianati oleh mantan kekasihnya. Tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba dia membahas soal pernikahan.


"Pernikahan ya, sebenarnya menikah itu ada untungnya juga ruginya. Untungnya, setelah menikah kita jadi memiliki keluarga. Ketika kita bangun, ada orang yang menyiapkan sarapan dan kopi untuk kita, apa yang selalu kita lakukan sendiri sebelum menikah jadi ada yang melakukannya. Seperti mencuci pakaian kita, menyiapkan pakaian dan masih banyak lagi. Itu untungnya," tutur Max.


"Lalu ruginya?" Zian menatap Max dengan serius.


"Ruginya ya, kita jadi tidak bisa sebebas sebelum menikah. Pulang malam diomeli, tidak memberi uang bulanan didiemin. Tapi lebih banyak untungnya daripada ruginya. Jika saja aku memiliki kekasih, sudah pasti langsung aku nikahi, apalagi kalau keluarga dari pihak wanita sangat baik dan menyayangi kita layaknya putra sendiri. Itu lebih baik lagi. Dan satu lagi, saat cuaca sedang dingin ada yang bisa menghangatkan kita." Tutur Max panjang lebar.


Mendengar apa yang Max sampaikan membuat Zian terdiam. Selama beberapa hari ini dia selalu memikirkan tentang pernikahan. Bahkan dia sampai mencari untung dan rugi setelah menikah, dan jawabannya persis seperti yang Max katakan.


Saat ini Zian benar-benar dilanda gundah dan gulana, bimbang memikirkan permintaan ayah Luna yang memintanya untuk menikahinya. Banyak sekali faktor-faktor yang menjadi pertimbangan Zian. Apalagi menikah bukanlah suatu permainan, itulah kenapa sebelum menikah harus memikirkannya dengan matang.


"Zian, memangnya siapa yang akan menikah?" tanya Max. Namun tak ada jawaban dari pemuda itu, Zian malah meninggalkannya begitu saja. "YAKK!! Kenapa aku malah ditinggalkan?! Huh, dasar kulkas dua pintu menyebalkan,"


.


.

__ADS_1


Seorang pemuda terlihat berdiri di tepi Sungai Han. Tak ada seorangpun di sana, dia hanya sendirian. Tubuh tegapnya dalam balutan Vest hitam V-Neck dan singlet putih sebagai dallaman Vest-nya, celana panjang berwarna hitam pula menggantung di pinggulnya.


Kepulan asap putih yang keluar dari sela-sela bibirnya membumbung tinggi lalu menghilang tersapu angin malam. Dan kedatangan seseorang sedikit menyita perhatiannya. Pemuda itu melirik kebelakang melalui ekor matanya.


"Kau sudah datang," ucapnya dengan nada dingin dan datar.


"Ada apa kau mengajakku untuk bertemu?" gadis itu menatap pemuda di depannya dengan penasaran.


Pemuda itu kemudian berbalik badan, posisinya dan si gadis saling berhadapan. "Luna, aku sudah memikirkannya baik-baik tentang permintaan ayahmu. Dan aku setuju untuk menikahimu," pemuda itu yang tak lain dan tak bukan adalah Zian, membuat Pupil mata Luna membelalak saking terkejutnya.


"Zian, apa kau serius dengan keputusanmu ini?! Kau harus memikirkannya baik-baik, dan jangan asal mengambil keputusan. Karena aku tidak ingin kau menyesal pada akhirnya," tukas Luna.


Pemuda itu menggelengkan kepala. "Ini adalah keputusanku, Luna!! Dan aku sudah memikirkannya baik-baik, hanya tinggal keputusanmu bagaimana. Kau mau menikah denganku atau tidak? Untuk kedepannya kita pikirkan sama-sama, dan untuk saat ini sebaiknya kita jalani dulu saja seperti air mengalir." Tutur Zian.


Luna menggigit bibir bawahnya. Sekarang dia yang bingung, karena Luna memang belum memikirkannya apalagi mempertimbangkan dengan akhir keputusan Zian. Tapi apa yang Zian katakan ada benarnya juga, membiarkan hubungan mereka berjalan layaknya air mengalir.


"Katakan keputusanmu sekarang juga, iya atau tidak?" Zian menatap langsung ke dalam manik Hazel milik Luna.


Gadis itu mengepalkan tangannya seraya memejamkan matanya rapat-rapat. Luna menarik napas panjang, dan dengan mantap dia memberikan keputusannya pada Zian.


.


.


Berkali-kali Max, Alex, Theo dan Cris mencubit lengannya sendiri ketika melihat Zian berdiri diatas altar bersama seorang gadis yang sangat cantik. Rasanya mereka masih sulit sekali untuk percaya, Zian yang dingin dan mirip kutub Utara tiba-tiba saja menikah.


"Max, ini benar-benar nyata atau mataku yang sedikit bermasalah?" ucap Alex dengan pandangan lurus ke depan, lebih tepatnya kearah altar.


"Theo, coba cubit lenganku. Aku ingin memastikan jika yang aku lihat ini bukanlah mimpi," pinta Cris sambil mengulurkan tangannya pada Theo.


"Bagaimana rasanya, sakit tidak?" tanya Theo memastikan. Cris menganggukkan kepalanya. "Berarti ini bukan mimpi,"


"Tapi aku merasa ini seperti mimpi," sahut Max menimpali.

__ADS_1


"Rasanya aku ingin sekali menangis. Si Kutub Utara telah pasangan hidupnya, ini benar-benar hal yang sangat mengejutkan tapi juga menggembirakan. Air mataku, aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi," ujar Alex sambil terus menyeka air matanya yang tidak henti-hentinya mengalir dari pelupuknya.


Dan setelah melewati serangkaian acara sakral, akhirnya Zian dan Luna telah sah menjadi suami-istri. Jangankan mereka berempat, bahkan kedua mempelai pun masih tidak percaya jika mereka berdua telah menikah dan sekarang menjadi sepasang suami-istri.


"ZIAN, KENAPA KAU DIAM SAJA?! CEPAT CIUM ISTRIMU!!" dan teriakan itu mengejutkan semua yang ada di aula termasuk Nyonya Xia yang sedang menyusut air matanya. Dan semua mata ini tertuju pada Vincent yang baru saja berteriak dengan heboh.


"CIUM..."


"CIUM..."


"CIUM..."


Dan seketika terdengar suara sorakan para tamu undangan yang meminta Zian untuk mencium pengantinnya. Membuat Luna gugup setengah mati, terlebih lagi ketika berandalan tampan itu menatapnya dengan begitu dalam dan penuh kelembutan. Tatapan yang tak pernah Zian berikan sebelumnya, meskipun mereka sudah cukup lama saling mengenal.


Luna mengepalkan tangannya dengan kuat, ketika merasakan sesuatu yang lunak dan basah menyentuh permukaan bibirnya, disusul dengan pagutan-pagutan lembut yang semakin lama semakin dalam dan menuntut.


Sebelah tangan Zian menekan kepala bagian belakang Luna, sementara tangan satu lagi memeluk pinggang rampingnya. Menariknya lebih dekat dan membunuh jarak diantara mereka.


Zian merasakan detak jantung Luna yang berdebar lebih cepat dari biasanya. Pemuda itu sedikit mendongakkan kepala Luna dan tangannya berpindah pada sisi wajahnya, ciuman itupun semakin dalam dari sebelumnya. Sedangkan tangan Luna terkepal kuat disisi tubuhnya.


"KYYYAA!! MEREKA BENAR-BENAR BERCIUMAN!!" teriak histeris Tuan Xia yang begitu heboh melihat pemasangan luar biasa di depan matanya. Bahkan dia tidak peduli dengan semua mata yang kini tertuju padanya.


Nyonya Xia memperhatikan sekelilingnya. Dia pun segera meminta maaf dengan membungkukkan badannya. Buru-buru dia menarik suaminya untuk duduk kembali dan mencubit keras perutnya. Membuat mata Tuan Xia membelalak, baru juga dia hendak bersuara dan melayangkan protesnya, tapi delikan tajam istrinya membuatnya bungkam seketika.


Sementara itu, Max cs saat ini sedang menyusut air matanya. Antara bahagia dan terharu, semua perasaan bercampur aduk menjadi satu. Mereka pun ikut bahagia untuk Zian, apalagi sang mempelai begitu cantik dan mempesona.


"Mereka membuatku iri, aku jadi ingin menikah juga." Ucap Max sambil menyeka air matanya.


"Aku yang paling tua, tapi dia lebih beruntung dariku. Rasanya aku ingin berteriak dan menangis dengan kencang," sahut Alex yang juga bercucuran air mata. Theo dan Chris saling berpelukan, mereka juga menangis tersedu-sedu.


Semua orang terlihat begitu bahagia, dan air mata yang mereka teteskan adalah air mata kebahagiaan. Ini bukanlah akhir dari perjalanan Luna dan Zian, melainkan awal yang baru bagi mereka berdua. Karena masa depan yang cerah, setelah menunggu mereka di depan sana.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2