
Rasanya Zian sangat menyesali keputusannya saat ini. Karena ternyata menjadi seorang CEO tidaklah semudah yang dia bayangkan. Dan jika boleh memilih, Zian lebih memilih menjadi berandalan daripada harus menjadi pemimpin perusahaan.
Dia dihadapkan dengan dokumen-dokumen yang selalu membuat kepalanya pening. Kehidupan yang dia jalani saat ini benar-benar berbanding balik sampai 180 derajat dengan kehidupannya yang lama.
Suara ketukan pada pintu menggema, mengalihkan perhatian siang dari semua tumpukan dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Seorang pria memasuki ruangan Zian sambil membawa beberapa dokumen yang kemudian dia letakkan diatas meja.
"Ada lagi?" seru Zian dengan suara sedikit meninggi.
"Ini adalah beberapa dokumen yang harus anda periksa dan tanda tangani, Presdir." ucap orang itu menjelaskan. "Kalau begitu saya permisi dulu," kemudian ia membungkuk ruangan atasannya tersebut.
Zian menghela nafas. Dokumen yang sebelumnya saja masih belum selesai dia periksa dan tanda tangani, sekarang sudah ada yang baru lagi. Dan jika aku seperti ini terus, bisa-bisa dia lembur lagi.
"Zian, aku datang," dan kedatangan Luna yang begitu tiba-tiba seperti memberikan Oasis di tengah padang guru yang tandus. "Aku membawakan makan siang untukmu," Luna mengangkat bingkisan di tangannya seraya menghampiri Zian.
"Kau datang tepat waktu, Luna. Kemarilah dan berikan sedikit vitamin untukku," pinta Zian seraya menarik lengan Luna lalu menempatkan wanita itu diatas pangkuannya.
Tanpa banyak basa-basi, Zian menautkan bibirnya pada bibir Luna dan memagutnya pelan. Luna tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya, tetapi siang terlihat sangat kacau, dan entah kenapa dia berpikir jika itu karena dokumen-dokumen tersebut.
__ADS_1
Ciuman mereka masih terus berlanjut, Zian terus memagut dan mellumat bibir Luna semakin dalam. Ciuman itu begitu terasa manis dan mengairahkan. Memancing hasrat Luna untuk menginginkan lebih, namun sayangnya itu tidak mungkin bisa terpenuhi, karena posisi mereka saat ini yang sedang berada di kantor.
Dan Zian baru mengakhiri ciumannya, saat merasakan pukulan pada dadanya. Rupanya Luna sudah tidak sanggup untuk melanjutkan lagi. Dan setelah ciuman itu berakhir, mereka saling meraup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang mulai kosong.
"Kenapa kau masih saja payah, hm?" ucap Zian sambil menyeka sisa liur dibibir Luna.
"Itu karena aku masih belum berpengalaman!!" jawabnya menegaskan.
Zian terkekeh geli melihat ekspresi Luna yang tampak menggemaskan itu. Kemudian Zian mencium kening Luna lalu membantunya untuk turun dari pangkuannya. Zian juga beranjak dari kursinya.
"Kebetulan aku sangat lapar, ayo temani aku makan siang," ucapnya dan dibalas anggukan oleh Luna.
"Bukankah kau adalah Asisten, Remon Lu dan Maya Lu? Mau apa kau datang kemari?" tanya Zian pada orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Melisa.
Alih-alih menjawab pertanyaan Zian. Melisa malah mengalihkan pandangannya pada Luna dan menatapnya tidak suka. "Maaf, Presdir Lu. Yang ingin saya sampaikan adalah hal yang sangat penting, jadi Bisakah kau anda meminta nona ini untuk keluar dulu?" pinta Melisa dan menatap Luna dengan pandangan sinis.
Kenapa aku harus pergi? Jika ingin bicara, ya bicara saja!! Aku tidak akan mengganggu urusan kalian," Luna pun merasa tersinggung karena permintaan Melisa yang meminta Zian untuk mengusirnya.
__ADS_1
"Dia tetap disini dan tidak akan pergi kemana pun!! Jika ingin mengatakan sesuatu, katakan saja, tidak usah bertele-tele!!" ucapnya dengan nada bicara yang kurang bersahabat.
"Tapi yang akan saya katakan bersikap pribadi, karena sangat berbahaya jika sampai terdengar orang lain," Melisa masih tetap bersikukuh supaya Luna pergi dari ruangan.
"Tapi dia bukan orang luar!!" Zian menyela cepat. Sorot matanya dingin dan tajam. "Karena dia adalah istriku!!" ucapnya menegaskan.
Melisa sedikit terkejut setelah mendengar pernyataan Zian. Rasanya nyaris tidak percaya Jika ternyata Zian telah memiliki istri , dan wanita yang ada di hadapannya adalah istrinya. "Maaf, Presdir Lu. Saya sungguh-sungguh tidak tahu jika Nona ini adalah istri Anda. Tetapi tetap saja, dia harus pergi dari sini, karena yang saya akan katakan sangat rahasia." Ucapnya masih dengan pendiriannya.
Zian menghela napas. Sepertinya percuma saja bicara dengan orang seperti Melisa. Dan jika dilanjutkan itu hanya akan membuatnya semakin emosi. "Jika kau tidak setuju dia ada disini, sebaiknya kau pergi saja, karena aku sama sekali tidak butuh informasimu itu! Jadi segara tinggalkan ruangan ini sekarang juga!!"
"Presdir, Anda...!! Baiklah saya akan pergi, tapi saya harap Anda tidak pernah menyesal dengan keputusan ini!!" kemudian Melisa meninggalkan ruangan Zian dengan penuh kekesalan.
Luna diam selama beberapa saat. Entah kenapa dia merasa jika Melisa sebenarnya memiliki rasa pada Zian. Dan alasan dia memintanya untuk pergi adalah supaya bisa berduaan bersama dengan Zian, dengan dalih membawa sebuah informasi penting. Dan jika memang demikian, maka Luna tak akan tinggal diam. Dia harus segera membereskan wanita itu secepat mungkin.
.
.
__ADS_1
Bersambung.