Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Aku Tidak Peduli


__ADS_3

BRAKKK...


Dobrakan keras pada pintu nyaris saja membunuh beberapa orang yang sedang berkumpul di ruang tamu. Beberapa detik kemudian seorang pemuda berpenampilan serampangan memasuki rumah yang memiliki tiga lantai tersebut.


Salah seorang dari kelima orang itu buru-buru bangkit dari duduknya lalu menghampiri pemuda itu dan menatapnya dengan pandangan penuh kecemasan.


"Zian, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini?" tanya wanita itu sambil mengarahkan tangannya pada wajah Zian yang terluka.


"Bukan urusanmu!!" Zian menyentak tangan wanita itu dari wajahnya dan menatapnya dengan tajam.


"Zian, apa-apaan kau ini?! Kenapa kau bicara kesasar itu pada, Vera? Ibumu, bermaksud baik dan dia sangat mencemaskan mu!!" Tuan Lu pun segera mengambil tindakan atas sikap tidak sopan putra bungsunya tersebut.


Pemuda itu menyeringai dan menatap ayahnya dengan sinis. "Kau pikir aku tidak tau apa yang ada dibenak betina itu. Dan satu hal lagi, jangan pernah memaksaku untuk mengakuinya sebagai ibuku!! Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah terima dia menjadi bagian dari keluarga ini," ujar Zian menegaskan.


"ZIAN!!" bentak Tuan Lu dengan penuh emosi. Matanya yang diselimuti amarah menatapnya dengan tajam. "Kau benar-benar keterlaluan!! Dia istri Papa~!"


"Lalu?" Zian menyela ucapan ayahnya.


"Lalu? Apa maksudmu lalu? Hargai dia sebagai istri Papa, Zian!! Dia adalah istri, Papa. Dan itu artinya dia adalah ibumu!!" ucap Tuan Lu menegaskan.


Zian menyeringai sinis. "Kau ingin aku menghargainya, memangnya berapa harganya?" ucapnya dengan tatapan tertuju pada wanita itu, Vera. "Sepertinya 1juta won saja cukup. Bahkan itu terlalu mahal untuk wanita murahhan sepertinya,"


PLAKK..


Sebuah tamparan keras mendarat dengan mulus di pipi Zian. Dan siapa lagi pelakunya jika bukan Tuan Lu. Memangnya suami mana yang terima jika Istrinya disebut murahan oleh orang lain, terlebih lagi itu adalah putranya sendiri.


Bukan tanpa alasan kenapa Zian bisa sangat membenci Vera. Karena Vera adalah mantan kekasihnya. Wanita itu memilih mengakhiri hubungannya dengan Zian demi bisa menikahi ayahnya.

__ADS_1


Vera mengatakan jika dia sudah tidak cinta lagi padanya, karena menurutnya Zian adalah seorang berandalan yang tidak memiliki masa depan. Berbeda dengan ayahnya yang telah mapan dan memiliki kehidupan lebih baik.


"Aku sangat kasihan pada mendiang istrimu. Baru juga satu bulan ditinggal mati olehnya. Bahkan tanah kuburannya belum kering. Tapi kau sudah menikah lagi dengan wanita lain. Parahnya lagi wanita itu adalah seorang jallang murahhan. Kalian suami-istri benar-benar memalukan!!" ujar Zian dengan senyum meremehkan.


"Dasar bocah kurang ajar tak memiliki sopan-santun. Bagus sekali Vera tak jadi menikah denganmu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana masa depannya jika dia sampai jadi menikahi pemuda berandalan sepertimu!!" seru wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah ibu Vera.


Lagi-lagi Zian menyeringai. "Kalian ibu dan anak sama saja. Sama-sama menjijikkan,"


"Jika kau pulang hanya untuk membuat keonaran. Sebaiknya pergi saja dari sini. Karena rumah ini terlalu bersih untuk diinjak oleh berandalan sepertimu, Zian!! Kau benar-benar membuat Papa kecewa." Ujar Tuan Lu.


Tawa Zian pun meledak seketika. Dia menatap ayahnya dengan sinis. "Benar-benar lucu, ya. Jelas-jelas di dalam akta tertulis jelas siapa pemilik rumah ini. Apa kau lupa jika mendiang istrimu telah memberikan rumah ini padaku. Aku tidak ingin bersikap munafik, tapi dibandingkan kalian semua jelas aku yang lebih berhak atas rumah ini. Itung-itung sebagai ganti rugi karena kalian telah menelantarkan ku dulu." Tutur Zian panjang lebar.


"Zian, jaga bicaramu!! Bagaimana bisa kau bicara sekadar itu pada ayahmu sendiri?!" teriak Vera.


Zian menyeringai. "Wow, benar-benar istri yang berbakti, ya. Dan kepulanganku kali ini sebenarnya untuk memastikan dia sudah mati atau belum. Karena aku dengar ayahku tercinta itu sedang sakit keras." Ujar Zian.


"DONNY!!" teriak Vera sambil menahan tubuh Donny Lu yang tiba-tiba ambruk. "Zian, kenapa kau diam saja? Cepat bantu aku dan kita bawa ayahmu ke rumah sakit," serunya panik.


Zian menatap Vera dengan datar. "Aku tidak Sudi," ucap Zian dan pergi begitu saja. Jangankan melihat ayahnya tiba-tiba jatuh pingsan di depan matanya. Melihatnya mati di depan matanya sekalipun Zian tak akan peduli. Terlalu dalam luka yang sang ayah torehan dihatinya. Jadi tidak salah jika Zian menjadi begitu membencinya.


"Zian, kau benar-benar keterlaluan!! Dasar anak durhaka. Lihat saja kamu, pasti kau akan ku menyesal!!"


.


.


Zian mendatangi sebuah club' malam yang terletak dipusat kota Seoul. Kali ini dia hanya datang sendirian tanpa Max CS. Bahkan mereka tidak tau jika Zian pergi ke club' malam.

__ADS_1


Seorang bartender mendorong sebuah gelas kristal yang berisi minuman beralkohol pada Zian. Karena sudah langganan, jadi bartender itu tau minuman apa favoritnya.


"Tumben hanya sendirian. Memangnya dimana teman-temanmu yang aneh itu?" tanya si bartender setelah menyerahkan minuman itu pada Zian.


Zian mengangkat bahunya. "Aku sendiri tidak tau. Di markas mungkin," jawabnya datar.


Tak ada lagi obrolan setelah perbincangan singkat itu. Si bartender kembali bekerja melayani para pelanggannya. Sementara Zian menikmati minumannya. Club' malam adalah satu-satunya tempat yang menjadi tujuan utamanya ketika pikirannya sedang kacau.


"Boy, seperti biasa," seru seorang perempuan yang entah dari mana munculnya tiba-tiba sudah ada di depan Bar Stool.


"Oke,"


Dan suara bak lonceng itu seketika menyita perhatian Zian. Lantas ia menoleh pada asal suara dan mendapati seorang gadis yang sangat dia kenal berdiri disamping kanannya. Kemudian Zian menyerukan nama gadis itu.


"Luna," Mendengar namanya dipanggil. Sontak Luna menoleh. Dia sedikit terkejut ketika melihat Zian. Namun detik berikutnya sudut bibirnya tertarik keatas. "Sedang apa kau disini?" tanya Zian dengan suara dingin dan datar.


Gadis itu menggeleng. "Tidak ada, hanya cari angin segar saja. Kau sendiri?" kemudian Luna duduk di kursi dekat Zian. Dia juga penasaran dengan keberadaan Zian di club' malam. Meskipun Luna sangat yakin jika sebenarnya Zian memang sering datang kemari.


"Sama," jawabnya singkat.


Aneh rasanya melihat Luna berada di club' malam seperti ini. Dan mungkin saja Zian berpikir jika Luna tidak terbiasa pergi ke club' malam.


Namun pada kenyataannya tidak, Luna sudah biasa datang ke club' malam meskipun tidak terlalu sering. Dia hanya pergi ketika akhir pekan atau ketika sedang suntuk saja. Karena datang ke club' malam bukan hobi Luna. Karena dia pergi kesana hanya untuk mencari hiburan saja.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2