
Malam sudah semakin larut, namun Zian masih tetap terjaga dan sulit untuk menutup matanya. Saat ini pemuda itu sedang berada di kediaman orang tua Luna, Zian terpaksa menginap karena mereka melarangnya untuk pulang, dan dia tidak enak hati untuk menolaknya, apalagi orang tua Luna sangat baik padanya.
Decitan suara pintu dibuka dari luar, dan derap langkah kaki seseorang yang datang menyita perhatian pemuda itu dari langit malam. Kemudian Zian menoleh dan mendapati Luna berjalan menghampirinya.
"Kau belum tidur?" tanya gadis itu setibanya ia di depan Zian. Pemuda itu menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Luna. "Kenapa, apa kau tidak bisa tidur?" tanya Lu ke Luna lagi. Lagi-lagi Zian menggelengkan kepala. "Lantas?" dia menatapnya penasaran.
"Ini masih terlalu awal untuk tidur. Lalu kau sendiri kenapa tidak belum tidur?" Zian balik bertanya.
Gadis itu berpindah dan berdiri disamping Zian. Saat ini mereka berdua berada di balkon kamar tamu yang Zian tempati. "Sama, aku juga tidak terbiasa tidur di jam segini. Apa kau suka melihat bintang?" Luna menatap langsung ke dalam manik hitam milik pemuda itu. Lalu pandangannya beralih pada langit malam.
"Tidak, lagipula tidak ada yang menarik untuk dilihat. Aku berdiri disini karena belum bisa tidur, lalu bagaimana denganmu?" Zian menoleh dan membalas tatapan Luna.
Gadis itu tersenyum lebar. "Tentu saja aku suka. Karena saat langit sudah mulai beranjak gelap, aku bisa melihat bulan dan bintang. Bulan yang bertahta di singgasananya, dan juga jutaan bintang yang menjadi penghias langit. Semua itu adalah karya Tuhan yang paling sempurna dan indah untuk dinikmati selain langit senja." Ujarnya.
Tiba-tiba keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Setelah perbincangan singkat itu mereka sama-sama diam dalam suasana hening. sebenarnya Luna adalah tipe gadis yang sangat cerewet, dia tak pernah kehabisan topik untuk dibahas ketika bersama orang yang tepat, tapi ketika bersama Zian mendadak dia menjadi gadis yang pendiam.
Zian tidak tau bagaimana harus memulai pembicaraan dengan pemuda itu. Zian terlalu dingin, dan itu yang membuat Luna sampai kehabisan kata-kata ketika berhadapan dengannya.
Luna berpikir keras, dia mencoba mencari topik yang tepat sebagai obrolan dengan Zian. "Em, Zian. Maaf ya karena aku harus merepotkanmu dan melibatkanmu dalam masalah. Jika bukan karena mereka berdua yang memaksaku, kau tidak mungkin dalam masalah seperti ini. Karena aku sendiri bingung pada siapa harus meminta tolong, apalagi aku tidak memiliki teman yang meyakinkan." Ujar Luna mencairkan suasana beku di antara mereka berdua.
Zian menggelengkan kepala. "Bukan masalah besar. Lagipula aku juga senang bisa membantumu. Apalagi berkat kau aku masih bisa hidup dan tetap bernapas hingga detik ini." Ujarnya.
Ya, Zian tidak akan pernah melupakan jasa Luna. Karena gadis itu ya masih tetap hidup dan bernafas sampai detik ini, Jika saja malam itu tidak ada Luna yang menolongnya tepat waktu, mungkin Zian sudah meregang nyawa karena kehabisan darah.
__ADS_1
"Ini sudah larut malam, sebaiknya kembali ke kamarmu dan istirahat." Pinta Zian pada Luna.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Kebetulan sekali aku memang sudah mulai mengantuk, sebaiknya kau juga masuk ke dalam. Udara disini sangat dingin, jangan sampai kau jatuh sakit. Aku duluan." Ucap Luna lalu beranjak dan meninggalkan Zian sendirian.
Tak berselang lama setelah kepergian Luna, Zian pun beranjak dari balkon dan kembali ke dalam untuk beristirahat. Tiba-tiba dia mengantuk, mungkin karena semilir angin yang menerpa wajahnya.
.
.
Setelah dirawat selama tiga hari tiga malam di rumah sakit. Akhirnya Tuan Lu diijinkan untuk pulang. Hanya Vera dan Sean yang menemaninya, dan tak terlihat batang hidung Zian di rumah sakit selama Donny Lu dirawat. Jangankan hanya dirawat, bahkan sampai ayahnya meregang nyawa sekalipun dia tidak akan peduli.
"Pa, hati-hati," Sean membantu Tuan Lu untuk berbaring. "Jaga, Papa. Aku akan pergi menemui, Zian." Kemudian Sean meninggalkan Vera dan ayahnya. Dia berencana mencari Zian, bagaimana pun caranya dia akan membawanya pulang
Sean mendatangi tempat biasa Zian nongkrong bersama teman-temannya. Tapi dia tidak ada, hanya ada teman-teman Zian yang ajaibnya minta ampun.
"Zian, dimana kau sebenarnya? Kenapa ponselmu juga tidak bisa dihubungi?" gumam Sean frustasi.
Sean tidak tau kemana lagi dia harus mencari adiknya. Dia benar-benar tidak bisa menemukan keberadaan Zian. Sean hanya mengirim pesan singkat dan voice note padanya, dan dia berharap Zian membuka pesan itu dan mendengarnya.
.
.
__ADS_1
Zian membuka ponselnya dan mendapati banyak panggilan tak terjawab dari Sean. Sedikitnya ada sepuluh panggilan tak terjawab dan tiga pesan singkat serta dua voice note.
"Zian, kau dimana? Pulanglah, Papa sakit dan baru keluar rumah sakit."
"Kenapa kau sulit sekali dihubungi? Sebenarnya kau masih menganggap papa sebagai orang tuamu atau tidak? Zian, pulang aku mohon,"
"Kenapa kau sulit sekali dihubungi? Zian, pulanglah sebentar saja dan tenggok Papa meskipun hanya beberapa menit saja."
Zian menghela napas. Dia mengabaikan pesan singkat itu. Zian tak mau ambil pusing dan masa bodoh dengan keadaan ayahnya. Apalagi dia masuk rumah sakit juga karena dirinya.
Ting ..
Lagi-lagi sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Dan kali ini dari Max, dia memberitahunya jika Sean mencarinya. Tak ada niatan Zian untuk membalas pesan singkat itu, dia mengabaikannya. Masa bodoh dengan kakaknya, masa bodoh dengan kondisi ayahnya. Zian benar-benar tidak peduli sama sekali.
Pemuda itu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan kearah balkon. Malam semakin larut tapi dia belum juga bisa menutup matanya. Zian benar-benar tidak bisa tidur. Mungkin karena berada di tempat yang asing, itulah yang menjadi faktor utama dia sulit untuk memejamkan matanya.
"Luna, apa yang sedang dia lakukan di sana malam-malam begini?" muda itu memicingkan matanya saat melihat siluet Luna yang sedang duduk sendiri di bangku taman belakang. Ditangannya memegang sebuah buku tebal yang sepertinya sebuah novel.
Zian tak berniat menghampiri Luna. Dia hanya menatapnya dari kejauhan, memperhatikannya dengan seksama, dan ketika sedang serius Dia terlihat sangat cantik. Tanpa sadar Zian menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis.
Pemuda itu terus memperhatikannya dari kejauhan, setiap gerak-gerik Luna. Berbagai ekspresi dia tunjukkan saat membaca membaca novel itu, terkadang sangat serius, terkadang dia tertawa dan juga kesal. Dia benar-benar menggemaskan. Dan entah kenapa Zian suka ketika melihat ekspresi Luna ketika dia sedang kesal, menurut Zian itu sangat menggemaskan.
.
__ADS_1
.
Bersambung