Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Pacar Pura-Puraku


__ADS_3

Zian menghentikan motor besarnya di halaman luas sebuah rumah bertingkat yang berada disalah satu kawasan elit kota Seoul. ini bukan rumah Luna, rumah ini dua kali lebih besar dari rumah gadis itu dan Zian tidak tau rumah siapa ini.


Luna segera turun dari motor Zian setelah tiba di tempat tujuannya. "Ayo masuk." Ajak Luna.


"Memangnya rumah siapa ini?" Zian menatap Luna dengan penasaran.


"Orang tuaku. Saat dijalan tadi tiba-tiba aku lapar dan ingin makan masakan, Mama. Makanya aku arahkan kau kemari." Jelasnya.


"Tidak usah. Kau masuk sendiri saja. Aku akan langsung pulang." Ucap Zian.


Luna menggelengkan kepala. "Tidak boleh, pokoknya kau harus ikut masuk ke dalam. Mama dan Papa pasti senang melihatmu. Dan kau tenang saja, keluargaku adalah orang-orang yang sangat baik dan supel. Mereka tak akan memandang rendah dirimu hanya karena penampilanmu yang luar biasa mengerikan." Ujar Luna yang langsung dihadiahi satu jitakan oleh Zian. Karena dia sudah bicara sembarangan.


Bukannya marah dan melayangkan protesnya karena dijitak oleh Zian, Luna justru tertawa. Karena Luna sadar jika memang dia yang bersalah.


"Sudahlah, ayo masuk." Luna menarik lengan Zian dan memaksanya untuk masuk ke dalam. Sehingga Zian tidak memiliki pilihan lain karena Luna terlalu memaksanya. "MA.. PA.. LIHATLAH, AKU PULANG BAWA CALON MANTU UNTUK KALIAN!!" seru Luna dengan sangat lantang.


Sontak Zian menoleh dan menatap Luna dengan pandangan terkejut. Pemuda itu menghentikan langkahnya dan dengan pandangan yang sama. "Aku butuh penjelasan darimu, Nona Muda. Memangnya sejak kapan aku menjadi calon suamimu?" tanya Zian meminta penjelasan.


"Aku pasti akan menjelaskannya padamu. Tapi nanti. Dan untuk sekarang bisakah kau membantuku terlebih dulu. Please, aku tidak tau harus meminta bantuan pada siapa lagi. Sedangkan aku tidak memiliki teman pria yang bisa membantuku dalam hal ini. Zian, please." Luna menatap Zian dengan tatapan memohon.


"Memangnya bantuan apa yang kau inginkan dariku?" Zian menatap Luna penasaran.


Gadis itu tersenyum lebar dan memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Zian, jadilah pacar pura-puraku untuk malam ini saja. Mama dan Papa berencana untuk menjodohkanku dengan anak temannya. Dan satu-satunya cara supaya aku bisa menolak perjodohan itu adalah dengan membawa seorang kekasih kehadapan mereka berdua." Akhirnya Luna pun menceritakan yang sebenarnya pada Zian.


Pemuda itu menghela napas. "Lalu kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi? Bagaimana orang tuamu akan berpikir tentang diriku setelah melihat penampilanku yang urakan ini? Kau masuklah dulu, aku akan segera kembali." ucap Zian lalu melepaskan genggaman Luna pada pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Tapi, Zian~"


"Aku tidak akan lama, aku pergi dulu." Kemudian Zian beranjak dari hadapan Luna dan meninggalkan gadis itu begitu saja.


Tak berselang lama setelah kepergian Zian. Terlihat Nyonya dan Tuan Xia menghampiri Luna. Kebingungan tampak di wajah mereka berdua. "Luna, Mama dan Papa mendengar teriakanmu tadi. Lalu dimana calon menantu kami? Kau saja datang sendirian." Ucap Nyonya Xia. Dia mencari calon menantu yang Luna sebut tadi.


Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tadi aku memang datang dengannya. Tapi~"


"NAH!! Karena kau tidak bisa membawa calon pilihanmu ke hadapan Mama dan Papa, maka kau harus siap untuk kami jodohkan dengan putra, Bibi Ella." sahut Tuan Xia dengan heboh.


"AKU TIDAK MAU!!" Luna menolak tegas. "Lagi pula siapa juga yang kau dijodohkan dengan karung goni seperti itu. Kenapa selera kalian berdua jelek sekali. Dari sekalian banyak laki-laki tampan di dunia ini. Kenapa harus dia yang ingin kalian jodohkan denganku?! Lagipula aku sudah memiliki calon. Dia hanya pergi sebentar saja. Dan sebentar lagi dia juga kembali." Ujar Luna.


Luna benar-benar tidak mau dijodohkan dengan calon pilihan orang tuanya yang menurutnya sangat-sangat buruk dan tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Dia bertubuh gembul dan berkacamata. Bahkan dia memiliki hobi yang menurut Luna sangat aneh. Yakni makan bawang putih mentah.


Luna menggaruk kepalanya seraya tersenyum tiga jari. Dengan kaku dia menganggukkan kepalanya. "Ya, memang dia." Jawabnya.


"MAMA BILANG JUGA APA!!" Luna terlonjak kaget karena ulah ibunya yang tiba-tiba saja berteriak. "Kalau jodoh memang tidak akan kemana."


Sontak Tuan Xia menoleh dan menatap sang istri penuh tanya. "Vic, jadi kau sudah pernah bertemu dengan kekasih, Luna?" wanita itu Victoria' menganggukkan kepalanya. "Lalu kenapa kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya? Memangnya dia lelaki yang seperti apa? Tampan tidak?" Tuan Xia bertanya dengan begitu antusias.


"Tentu saja tampan. Dan apa kau tau, dia sangat mirip denganmu saat masih muda dulu. Dia pemuda yang sedikit urakan." Ucap Nyonya Xia.


"Bagus, bagus, bagus. Akhirnya ada penerus Papa juga, hahaha."


Luna menatap ibu dan ayahnya tak percaya. Sepertinya akan ada sebuah drama yang sangat seru setelah Zian tiba. Panjang umur, baru juga dibicarakan dan Zian sudah datang. Luna memicingkan matanya melihat penampilan Zian yang berbeda dari sebelumnya. Ternyata Zian pergi untuk mengganti pakaiannya.

__ADS_1


"Nah itu dia datang. Zian, cepat kemari. Aku akan memperkenalkanmu pada Mama dan Papaku," seru Luna lalu memeluk lengan Zian yang tertutup kemeja hitamnya.


Tuan dan Nyonya Xia kemudian menghampiri pemuda itu. Tuan Xia tersenyum. "Vic, benar yang kau katakan. Dia memang sangat tampan. Pantas saja jika Putri kita sampai jatuh cinta padanya." Ujar paruh baya itu."Nak, ayo masuk. Kami sudah lama menunggumu." Tuan Xia merangkul punggung Zian dan membawanya masuk ke dalam.


"Kau ngobrol dulu dengan, Papa. Aku akan membantu Mama menyiapkan makanan dulu." Ucap Luna dan dibalas anggukan oleh Zian.


Luna menghampiri ibunya yang sedang sibuk menyiapkan makanan di dapur. Meskipun waktu makan malam telah lewat sejak beberapa jam yang lalu. Tapi dia tetap harus menyiapkan makanan untuk menjamu tamunya. Apalagi tamunya adalah calon suami putrinya, yang artinya dia adalah bagian dari keluarga Xia.


"Ma, apa yang sedang kau masak?" tanya Luna setibanya dia di dapur.


"Tentu saja menyiapkan makanan special untuk calon suamimu. Dan kita harus menyambutnya dengan baik. Oya, dimana kau mengenalnya? Penampilan calon suamimu itu mengingatkan Mama pada masa muda Papamu dulu. Saat masih muda, penampilannya juga seperti itu." Ujar Nyonya Xia.


Sontak Luna menoleh. "Benarkah, kenapa aku tidak pernah tau?" Luna menatap ibunya dengan pandangan tak percaya.


"Papamu yang melarang Mama untuk memberitahumu dan juga Vincent, dia malu jika anak-anaknya sampai tahu bagaimana masa lalunya dulu." ujar Nyonya Xia.


Lalu pandangan Luna bergulir pada Zian dan ayahnya. Mereka sedang berbincang di ruang keluarga. Baguslah jika mereka berdua bisa langsung dekat. Bahkan Zian tak terlihat canggung sama sekali. Dia terlihat sangat nyaman berbincang dengan ayahnya.


Sudut bibir Luna tertarik keatas. Gadis itu mengurai senyum setipis kertas.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2