
"Hehehe, kalian bertanya siapa kami, ya? Baiklah, kami akan memperkenalkan diri. Orang-orang biasa memanggil kami dengan sebutan.... Bocah Kematian!!"
Jangan salah paham dengan julukan 'Bocah Kematian'Bukan karena mereka berdua berbahaya, bukan juga karena mereka tergabung dalam sebuah gangster dan geng motor. Namun julukan itu mereka dapatkan karena kenakalannya yang diatas rata-rata.
Ya, benar sekali. Kenakalan Ren-Jun dan Jii-Sung memang sudah tidak tertolong lagi. Berurusan dengan mereka berdua sama saja dengan mimpi buruk, bahkan ada yang lebih memilih berurusan langsung dengan geng motor daripada harus berurusan dengan kedua bocah nakal itu.
"Paman, ngomong-ngomong Siapa mereka berdua? Apa mereka berdua juga bagian dari keluarga ini? Dan Sepertinya mereka memiliki hubungan yang kurang baik denganmu," ucap Ren-Jun penuh rasa ingin tahu.
Dan akhirnya Zian pun menceritakan seperti Apa hubungan mereka yang sebenarnya. Ren-Jun dan Jii-Sung sangat-sangat terkejut setelah mendengar apa yang Zian ceritakan. Mereka berdua sungguh tidak menyangka, jika mereka berdua sangat-sangat kejam dan tidak berhati.
"Wah, ini benar-benar parah. Mereka berdua benar-benar manusia paling durjana di muka bumi ini. Tapi kau tenang saja, Kak. Kami berdua pasti akan selalu melindungimu, aku dan bocah ini sekarang sudah besar dan bisa melindungimu." Ujar Ren-Jun dengan berapi-api.
Remon meludah di depan mereka berempat. "Cuih, memangnya Apa yang bisa dilakukan oleh bocah-bocah kecil seperti kalian, huh? Sebaiknya kalian berdua tidak usah macam-macam, aku tidak ingin berurusan kami. Dan menyingkirkan, urusan kami dengan Zian bukan dengan kalian!!" ujar Remon menegaskan.
"Eit, ingin mengganggu, Kakak. Maka langkahi dulu kita berdua." seru Jii-Sung lalu berdiri di depan Zian sambil merentangkan kedua tangannya.
"Hehehe, Kakek kau itu sudah tua dan bau tanah. Sebaiknya jangan berteriak, nanti kalau pita suaramu sampai putus bagaimana? Mau disambung dengan kawat berkarat? Dan jangan melotot seperti itu, apa kau tidak sadar jika bola matamu sudah hampir keluar? Dan satu lagi, jangan membuka mulutmu lebar-lebar karena bau sekali," Tutur Ren-Jun yang segera dibalas anggukan oleh Jii-sung.
"Hoek, sampai-sampai Aku mau muntah mencium bau mulut kakek. Bahkan lewat saja sampai oleng terbangnya. Pasti sudah satu abad tidak gosok gigi, ya?" tuding Jii-Sung menambahkan.
Remon yang mendengar hal itu pun langsung emosi."Bocah kurang ajar, berani-beraninya kalian menghinaku seperti itu?! Apa Kalian berdua sudah bosan hidup? Kemari kalian berdua, biar aku beri pelajaran!!" teriak Remon dengan emosi.
Pria itu menghampiri si kembar dan berniat untuk memberikan pelajaran padanya. Tapi si kembar menghindar dengan tepat waktu sehingga membuat Remon tersungkur ke depan. "Ahh, hidungku!!" teriaknya histeris.
"Hahaha... Makanya Kakek , kami bilang juga apa. Tulangmu sudah keropos, jadi jangan banyak bertingkah apalagi mencari masalah dengan kami berdua. Dan Jika kau berani memisahkan Kakak lagi, kami lah yang akan berdiri di barisan paling depan untuk melindunginya. Jadi jangan macam-macam lagi dengannya!!" ujar Ren-Jun panjang lebar.
Zian menghela nafas dan menggelengkan kepala."Cukup kalian berdua, tidak usah mengerjai Mereka lagi. Dan sebaiknya Kalian pergi dari sini, dan sebelum aku hilang kesabaran, sebaiknya Kalian pergi dari sini jika tidak ingin membusuk di penjjara atau hanya tinggal tulang-belulang saja!!" setelah cukup lama diam, akhirnya Zian membuka suara dan memberikan peringatan kepada mereka berdua.
Remon hendak menghampiri Zian namun dicegah oleh Maya, wanita itu menarik Remon menjauh.
"Cukup, Remon. Tidak perlu diteruskan lagi, masih banyak waktu untuk memberikan pelajaran pada mereka. Sebaiknya Sekarang kita pergi!!" ucapnya sambil menatap mereka dengan tajam. Lalu Maya menyeret lemon meninggalkan kediaman Lu.
Jii-Sung dan Ren-Jun bertos ria setelah berhasil mengusir mereka berdua dari kediaman kakaknya. Si kembar tidak akan tinggal diam melihat orang lain menindas Zian
.
.
Luna merebahkan tubuhnya yang terasa lelah setibanya ia dan Zian di kamar mereka.
Perjalanan pulang pergi bandara menyita banyak waktu mereka, bagaimana tidak, saat pulang mereka terjebak macet lebih dari tiga puluh menit. Belum lagi si kembar yang selalu ribut sepanjang perjalanan, sehingga Luna tidak bisa tidur atau hanya sekedar Menutup Mata saja.
Kau lelah," pertanyaan itu sedikit mengalihkan perhatiannya. Luna menoleh dan terlihat Zian menghampirinya.
Wanita itu mengangguk. "Ya, lumayan." jawabnya."Oya, Zian. Apakah mereka berdua memang senakal itu?" Luna merubah posisinya, iya duduk berhadapan dengan Zian.
Zian mengangguk. "Ya, memang seperti itu mereka dari dulu. Dan mencari masalah dengan mereka berdua, sama saja dengan menempatkan dirinya sendiri dalam kesulitan. Bahkan banyak yang memilih untuk bertemu dengan hantu daripada harus berurusan dengan mereka berdua," terangnya.
Luna mengangguk paham. "Dan sekarang dia mengerti kenapa mereka berdua sampai mendapatkan julukan bocah kematian, itu karena kenakalannya. Dan sepertinya melibatkan mereka berdua dalam menghadapi orang-orang seperti Paman dan Bibimu adalah pilihan yang tepat. Jadi dengan begitu kau tidak perlu susah-susah turun tangan sendiri." Ujar Luna.
__ADS_1
Dia tak merespon usulan Luna. Karena tanpa harus melibatkan mereka sekalipun, mereka justru akan melibatkan dirinya sendiri. Apalagi Jii-Sung dan Ren-Jun sangat suka mencari masalah dengan orang-orang seperti Maya dan Remon.
"Mereka berdua sangat hobi mencari masalah. Tanpa aku memintanya sekalipun, mereka sudah pasti akan melibatkan diri. Dan aku tidak tahu rencana apa yang mereka miliki saat ini untuk mengerjai mereka berdua. Jii-Sung dan Ren-Jun tidak mungkin melepaskan mereka berdua begitu saja, apalagi setelah mengetahui apa yang mereka lakukan padaku," ujar Zian panjang lebar.
Luna menghela napas. "Mereka benar-benar bocah Kematian. Dan aku rasa itu adalah julukan yang paling tepat untuk mereka berdua." Ujarnya.
"Hm, aku rasa juga begitu." Ucap Zian lalu mengulurkan tangannya pada Luna dan menuntutnya untuk duduk di pangkuannya.
Wanita itu mengangkat kedua tangannya lalu mengalungkan pada leher Zian. pandangan Luna bergulir pada sepasang manik hitam milik Zian yang selalu dingin dan tajam. Namun tatapan mata itu perlahan melembut ketika menatapnya. "Zian, apa kau benar-benar mencintaiku?" tanya Luna memastikan.
"Lalu menurutmu? Apa kau tidak mempercayaiku dan meragukan perasaanku?" Luna menggeleng. sepertinya Zian yang sudah salah paham pada pertanyaannya. "Lantas?"
"Jangan salah paham dulu apalagi tersinggung, aku kan hanya bertanya, tapi kenapa jawabanmu begitu sinis?" Luna mempoutkan bibirnya.
Zian menghela napas. "Siapa juga yang tersinggung? Memangnya harus dengan cara apa supaya aku bisa membuktikan jika diriku benar-benar mencintaimu?" tanya Zian sambil mengunci manik Hazel milik Luna.
Wanita itu menggeleng. "Entah, aku sendiri tidak tahu." Luna meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri. Melihat ekspresi menggemaskan Luna membuat Zian tidak tahan untuk tidak mencium bibirnya.
Pria itu terus memagut dan mellumat bibir Luna tanpa ampun. Meskipun awalnya sempat terkejut dengan ciuman Zian yang terlalu frontal, namun dia begitu menikmatinya.
Luna mengeram pelan ketika lidah Zian mulai mengajak lidahnya untuk menari bersama. Seperti tarian seksuall dengan diiringi musik erotiss yang panas dan memikat.
Salah satu tangan Zian menarik pinggang
Luna untuk semakin membunuh jarak diantara mereka. Tubuhnya memberikan respon
pada segala macam sentuhan mulut indah
Reaksi yang luar biasa dari tubuh Luna mengirimkan getaran menuju pita suaranya hingga beberapa kali
mulutnya meloloskan erangan yang semakin
membangkitkan gaiirah Zian untuk mendapatkan lebih dan lebih.
Zian menarik dirinya sesaat dan menatap mata
Hazel Luna yang tampak sayu. Mata hitam itu memancarkan gaiirah seperti api yang berkobar membakar seluruh gaiirah dalam tubuh Zian. Kupu-kupu dalam tubuh Luna menari-menari
seolah menginginkan lebih.
Gaiirah dalam tubuhnya terbangkitkan oleh sentuhan-sentuhan bibir dan tangan Zian. Meskipun sebenarnya Luna merasa lelah karena perjalanannya dari bandara tadi. Tapi tetap saja Luna tidak bisa menolak keinginan Zian karena dia juga mengingatkannya.
Sekali lagi Zian mencium bibirnya dengan
lebih bergaiirah. Pria itu melumatt dan
menghisap bibir wanitanya dengan lebih ganas, dan
ketika Luna mengambil alih ciuman itu.
__ADS_1
Erangan liiar berulang-ulang lolos dari bibir
Zian , tangan Zian meremaspayuddara Luna dengan kuat, meraupnya di dalam genggaman tangan besarnya. Memainkan putiingnya, membuat api gaiirahdalam tubuh Luna menyebar dengan cepat.
Mengirimkan kelenjar panas ke seluruh sel-sel di dalam tubuhnya. Bibir mereka bertarung
semakin panas, Zian mellumat bibir Luna dengan liiar dan ganas. Isi dalam mulut Luna terus diobrak-abrik oleh lidah Zian yang sesekali mengajak lidah Luna menari bersama. Mereka sama-sama menikmati permainan itu.
Zian melepaskan tautan bibirnya. "Aku
menginginkanmu, baby!" bisiknya lirih , jelas-jelas dia tahu jika Luna masih kedatangan tamu bulanan.
Nafasnya yang hangat menyapu permukaan
payuddara Luna yang sudah mengeras "Ohhh,
fuckkk!" Luna menddesah ketika salah satu
putiingnya sudah berada didalam mulut
Zian.
Luna menekan tengkuk Zian disana, agar hisapan itu lebih dalam. Lidahnya bergerak-gerak diatas putiing miliknya yang mengeras. Salah satu tangannya meremass dan memilin putiing Luna yang lain.
Setelah puas, Zian memindahkan bibirnya
pada bibir Luna dan mellumatnya seperti tadi.
Tanpa melepas tautan bibirnya, Zian merubah posisi mereka dengan Luna berada dibawah kungkungan tubuh kekarnya. Tangan Zian bergerak menyusuri setiap jengkal pada tubuh Luna.
Mulai dari wajah, kemudian turun menuju leher jenjangnya, semakin turun hingga mencapai dadanya, kemudian turun lagi menuju perut ratanya,
sampai akhirnya tangan itu tiba diarea sensitive
milik wanita itu.
Luna merasa perutnya mengejang seketika
ketika tangan Zian berada diarea sensitive-
nya yang telah basah sejak pertama kali
Zian mencumbunya. "Zian, hentikan!! Ki..Kita tidak bisa melakukannya. Karena tamuku belum pergi." ucap Luna dengan dessahan yang semakin keras.
"Aku tau, Sayang. Kita bermain-main saja sampai kau puas, jadi keluarkan semua milikmu, aku akan membantumu."
.
.
__ADS_1
Bersambung.