
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian satu-satunya orang di dalam ruangan itu. Lalu pria itu menoleh dan mendapati Luna memasuki ruangan sambil menenteng dua kantung berisi makanan dan minuman .
Wanita itu mengerutkan dahinya melihat wajah
muram suaminya. Diletakkan kantong itu diatas
meja lalu menghampiri Zian. "Zian, ada apa dengan mukamu itu? Kau baik-baik saja bukan?" ucapnya memastikan.
"Buruk," jawabnya dengan sedikit sinis.
Luna mendekati Zian lalu duduk di pangkuannya dengan manja. "Buruk kenapa? Coba kau katakan padaku," pinta Luna.
Tiba-tiba Luna membulatkan matanya ketika merasakan sesuatu mengganjal pantatnya. Dia mengintip kebawah dan mendapati sosis berurat milik Zian dalam mode on.
Luna menyeringai. Kemudian dia menggesekkan pantatnya di sana. Tatapan nakal Luna Seolah-olah memberikan sinyal agar Zian melakukan lebih. Paham apa yang diinginkan oleh istrinya, pria itu meraih bibir Luna dengan bibirnya.
Dan sementara itu. Seorang pria tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat sesuatu yang terjadi di dalam ruangan, membuatnya urung untuk masuk ke dalam.
"Omo!! Untung saja aku tidak jadi masuk ke dalam. Mereka benar-benar sudah gila, apa tidak bisa menahannya sampai nanti malam? Kenapa juga harus di lakukan di kantor? Bagaimana jika ada yang tiba-tiba masuk dan melihatnya?!" gerutu Max melihat kegilaan Luna dan Zian.
Untung saja yang melihat adalah Max, bukan orang lain. Karena jika orang lain yang melihatnya bisa-bisa mereka kejang dan mimisan melihat adegan panas di dalam sana. Dan untungnya juga tidak ada CCTV juga di ruangan itu. Satu-satunya saksi mata live
kiss Luna dan Zian adalah Max. Tubuhnya sampai panas-dingin dan kakinya gemetar saking kagetnya.
Tak ingin mati berdiri karena melihat ciuman
panas mereka berdua. Segera saja Max
melesat pergi dan urung masuk ke dalam sambil mengipasi tubuhnya dengan tangannya, ia benar-benar kegerahan karena ulah mereka berdua yang bermain gila di tempat yang tidak tepat.
Dan live kiss itu masih terus berlangsung meskipun empat menit telah berlalu, mereka hanya sesekali berhenti untuk mengambil napas lalu lanjut kembali. Bahkan penampilan mereka pun sudah tidak serapi sebelumnya. Dress hitam yang membalut tubuh Luna sedikit tersingkap keatas, resleting yang ada dibalik punggungnya turun hingga mencapai pinggangnya.
Begitu pula dengan Zian, tiga kancing teratas pada
kemeja putihnya terbuka dan bagian bahunya
tersingkap hingga terlihat singlet hitam yang
menjadi lapisan dalam kemejanya. Lama kelamaan ciuman itu menjadi lumattan, Zian berusaha memasukkan lidahnya kedalam mulut Luna.
Luna yang menyadari keinginan sang suami dengan
senang hati mempersilahkan lidah Zian untuk
menjelajahi isi di dalam mulutnya. Zian
semakin ganas, lidahnya melilit lidah Luna dan mengajak lidah itu untuk ikut menari
bersama.
Beberapa menit telah berlalu, namun mereka
masih sama-sama enggan untuk mengakhiri
ciuman panasnya, meskipun sama-sama
menyadari jika paru-paru mereka telah sama-
sama kosong dan membutuhkan asupan
oksigen.
"Sayang, bagaimana jika kita bersenang-senang
sebentar?" Zian melepas tautan bibirnya dan
menatap Luna dengan gerlingan messumnya.
"Kau gila, ini di kantor? Lagi pula ini masih
siang, Zian!!" ujar Luna sedikit cemas.
"Apa kau tidak ingin bersenang-senang denganku, hm?" Zian menurunkan Luna dari pangkuannya kemudian bangkit dari duduknya, Ia mendudukkan wanita itu diatas meja.
"Apa kau tidak takut jika ada orang yang tiba-tiba
__ADS_1
nyelonong masuk?" Luna menatap Zian dengan cemas.
"Siapa yang Peduli? Memangnya siapa yang berani menggangguku? Apa mereka sudah bosan hidup!" ujarnya dan segera mellumat bibir Luna seperti tadi. Tidak ada penolakan, Luna malah membalas ciuman itu.
Zian melahap habis bibir ranum itu tanpa ampun, bukan hanya bibir saja. Ciuman Zian pun semaki turun dan turun, setelah puas menjelajahi leher putih Luna, kemudian ciuman itu beralih pada dadanya.
Kain brokat berharga mahal yang membungkus tubuh Luna sudah tidak terbentuk lagi, bagian dadanya juga sudah terekspos hingga tampak dua gundukan yang tersembunyi dibalik braa hitam beredarnya.
Tak mau kalah dari Zian, Luna juga membuka
kemeja putih itu dari tubuh kekar suaminya dan hanya menyisakan singlet hitam yang memperlihatkan sebagian dada kekar Zian yang menggoda.
"Kali ini aku akan mendominasi mu!" Luna
mendorong tubuh Zian dan memaksa pria itu untuk duduk di kursi. Tangan seputih porselen itu
masuk ke dalam cellana Zian, memainkan dan
memijit sosis berurat milik Zian. Membuat dessahan seketika keluar dari bibirnya.
Zian mendongakkan wajahnya . Kedua matanya terpejam menikmati setiap sentuhan jari lentik Luna yang bermain-main dengan sosis berurat milinya. Wanita itu menyeringai melihat Luhan yang begitu menikmati permainannya.
Seperti yang dia katakan, Luna benar-benar menguasai permainan dan tidak membiarkan Zian mendominasi dirinya lagi, dengan cepat Luna menyatukan bibirnya dengan bibir Zian saat melihat bibir itu terbuka,.
Tanpa ragu sedikit pun, Luna terus melumatt bibir Zian dan tidak memberi kesempatan untuk laki-laki itu mengambil alih ciumannya. Liidah Luna
sudah berada di dalam mullut Zian, mengabsen deretan gigi putihnya dan sesekali membelitnya.
Luna menyingkap dress-nya dan mendudukkan dirinya diatas pangkuan Zian setelah menurunkan celananya hingga sebatas paha. Kebanggaan milik Zian telah menegang dan siap untuk memanjakan
Luna.
Luna menddesah ketika junior milik Zian telah berhasil masuk ke dalam dirinya. Zian benar-benar tak habis pikir dengan Luna, dia begitu nekat. Tetapi Zian tetap membantunya dengan menggerakkan pinggul Luna naik turun dalam tempo cepat.
Zian meraup bibir Luna dan mellumat habis
bibir ranum itu, kedua tangannya memeluk
pinggang ramping Luna hingga tidak ada
lagi jarak diantara mereka "Aku benci di dominasi, dan permainan kali ini aku ambil alih!" ujar Zian sebelum meraup bibir menggoda Luna untuk yang kesekian kalinya.
Tokk .. Tokk .. Tokkk ...
Disaat permainan mereka sedang panas-
panasnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar dan hal itu membuat mereka berdua
kelabakan. "Rapikan pakaian dan penampilanmu!" Pinta Zian. Kemudian dia meraih kemejanya yang tergeletak dilantai dan memakainya kembali.
Luna mengangguk dan buru-buru merapikan penampilannya. Dan setelah penampilan Luna rapi seperti semula, Zian berseru dan mempersilahkan
orang yang ada di luar untuk masuk.
"Masuk!"
Sebelum orang itu masuk. Luna buru-buru
bersembunyi dikolong meja kerja Zian. Entah ide gila apa yang wanita itu miliki untuk suaminya. Dan Zian yang bingung dengan rencana Luna hanya mengerutkan dahinya.
Sebuah ide muncul, Luna menyeringai saat menatap wajah tampan Zian, Ia ingin sedikit mengerjainya. Dalam hatinya, wanita itu tertawa terbahak membayangkan bagaimana ekspresi wajah Zian setelah ini.
'Luna, apa yang kau lakukan??' Kaget Zian
saat merasakan ada jari-jari yang memainkan sosis beruratnya. Namun pandangan Zian terarah pada sosok wanita yang tengah berjalan
menghampirinya.
"Presdir,"
"Ada apa?" Zian mencoba untu menahan desahannya. Wanita itu pun merasa heran
dengan sikap Zian yang terlihat sedikit aneh. Wanita itu menatap Zian dengan cemas. "Presdir, anda baik-baik saja?" tanya wanita itu memastikan. Zian tampak berkeringat. "Apa anda sakit??" tanyanya sekali lagi.
Zian menggeleng. Meyakinkan pada wanita itu jika dirinya baik-baik saja. "Tidak, aku baik-baik saja!" wanita itu mengangguk "U..untuk apa
__ADS_1
kau datang kemari?" Zian menutup matanya sejenak, nyaris saja dessahan meluncur dari bibirnya. Di bawah sana, Luna tengah memanjakan dirinya.
Wanita itu menyerahkan sebuah map berwarna coklat tua pada Zian. "Presdir, ini ada beberapa dokumen yang harus segera Anda tandatangani. Dan ini adalah proyek untuk bulan depan, Anda bisa memeriksanya terlebih dulu."
'Sial, Luna hentikan!' Jerit Zian membatin,
wajahnya semakin memerah membuat wanita itu
menjadi semakin cemas
"Presdir, wajah Anda memerah, Apa anda demam??" Wanita itu semakin cemas. Dia hendak mendekati Zian untuk memeriksa keadaannya namun gerakan tangannya terhenti saat Zian mengangkat tangannya dan meyakinkan jika Ia baik-baik saja. Wanita itu mengangguk mengerti.
"Aku baik-baik saja, kay keluarlah. Dokumen ini akan segara ku periksa dan aku tandatangani." Ucap Zian.
Wanita itu yang diam-diam menyimpan rasa pada Zian semakin terpesona saat melihat wajah laki-laki itu yang merona dengan peluh di pelipisnya yang membuatnya semakin terlihat sexy. Sementara itu, Luna masih gencar memainkan pisang raja milik Zian hingga sesuatu yang kental berwarna putih menyembur dari lubangnya dan melumuri jari-jarinya.
"Presdir," seru wanita itu. Dia urung untuk meninggalkan ruangan Zian.
"Sora, jika kau sudah tidak memiliki kepentingan. Bisakah kau keluar sekarang!" Zian meminta wanita itu untuk keluar saat Ia sudah mencapai puncaknya, dan Zian tidak bisa menahannya lebih lama lagi 'Kau benar-benar gila, Xia Luna!' ujarnya membatin.
Sora pun meninggalkan ruangan itu. Namun Ia
tidak benar-benar pergi, Ia sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi pada Zian hingga laki-laki itu bersikap aneh.
Sora memutuskan untuk mengintip melalui cela kecil pada pintu. Sementara itu, di dalam ruangan.
Zian tengah berperang dengan kenikmatan yang Luna berikan padanya, dan untuk yang kedua kalinya laki-laki itu melakukan pelepasan.
Dapat dengan jelas Sora lihat saat Zian mengangkat wajahnya kemudian menghela nafas panjang, seperti sedang kelelahan. Sora mengerutkan alisnya saat melihat warna coklat terang menyembul dari kolong meja kerja Zian.
Sungguh di luar dugaan Sora, sosok Luna muncul dari bawah kolong meja, lalu wanita itu melesat
menuju wastafel untuk membersihkan tangannya.
Dan saat Luna kembali, bibirnya telah disambut oleh Zia, dia mellumatnya. Sora sedikit
tersentak ketika Luna menolehkan kepalanya
kearah pintu seolah-olah wanita itu mengetahui
jika ada seseorang yang berdiri dibalik pintu
yang tertutup tersebut.
Sora pun beranjak dari sana. Sekilas melirik kearah rok hitamnya yang tampak basah. Ia juga merasa tidak nyaman ketika berjalan, bagian bawahnya basah dan sedikit terasa gatal. Bukan karena, Sora berpenyakitan, tapi karena sesuatu yang lain.
Selepas kepergian Sora, Max datang sambil menenteng cemilan. Laki-laki jangkung itu bersenandung kecil, tanpa berpikir dua kali. Dia membuka pintu bercat coklat itu, cemilan ditangan Max pun langsung jatuh dari genggamannya dan mulutnya sedikit menganga dengan kedua mata terbelalak
Tubuh jangkungnya membeku ditempat dan tak
mampu bergerak satu inci pun saat melihat
sesuatu yang lebih gila lagi dari yang dia lihat
sebelumnya.
Susah payah Max menelan salivanya ketika melihat dan mendengar suara-suara mengetikan yang keluar dari bibir sepasang suami-istri yang tengah bermain gila di dalam sana.
"Ohh, sial. Lagi-lagi aku datang di waktu tidak tepat!" Max menggeram, tangannya memegangi miliknya yang berkedut dibawah sana. Dan life itu sungguh
membuatnya tersiksa, entah sadar atau
tidak, Max sudah memasukkan tangannya sendiri ke dalam cellananya dan mengocok sosis beruratnya dengan tempo cepat.
Max menddesah sambil memejamkan matanya, menggigit bibirnya sendiri, membayangkan jika saat ini dia sedang di manjakan oleh lima wanita sekaligus.
Sungguh, Max ingin memiliki lima istri agar Ia bisa
berganti-ganti tiap malamnya. Dan Max sedikit panik ketika mendengar derap langkah kaki yang bergerak kearahnya, buru-buru dia menarik keluar tangannya dan menutup pintu yang terbuka lebar itu agar tidak ada korban lagi selain dirinya.
Dan selain itu, Max tidak juga tidak ingin jika kegiatan panas mereka berdua disaksikan oleh orang lain juga. Cukup matanya saja yang ternoda, dan hebatnya Zian maupun Luna tidak menyadari akan keberadaan Max karena terlalu asik dengan
dunianya sendiri. Maklum saja, namanya juga pengantin baru apalagi disaat seperti ini.
.
__ADS_1
.
Bersambung