
Beberapa mobil mewah berjajar di depan sebuah hotel berbintang lima. Dua mobil mewah baru saja memasuki parkiran hotel. Empat orang keluar dari dua mobil mewah tersebut, mereka adalah Luna, Zian, Nyonya serta Tuan Xia.
Luna meraih tangan Zian lalu menggenggamnya. "Tidak perlu tegang, semua keluarga Xia baik kok, kecuali Paman Doris dan keluarganya. Tapi kau tenang saja, ada aku disini yang akan melindungi," ucap Luna.
Zian meletakkan tangan kanannya di atas tangan Luna yang menggenggam tangan kirinya. "Aku baik-baik saja, tapi terima kasih untuk perlindungan," kata Zian. Luna mengangguk, keduanya mempercepat langkahnya, menyusul Tuan dan Nyonya Xia yang sudah berjalan lebih dulu.
Pintu besar itu dibuka dari luar, mengalihkan perhatian semua orang yang berada di ruangan bernuansa mewah tersebut. Senyum wanita yang hampir semua rambutnya ditumbuhi dengan uban itu mengembang lebar melihat orang-orang yang sudah dia tunggu sedari tadi akhirnya tiba juga. Mereka adalah Luna, Zian, Nyonya serta Tuan Xia.
"Kalian sudah datang," seru wanita tua itu menyambut putra, menantu dan cucunya.
"Nenek, aku merindukanmu," ucap Luna sambil memeluk neneknya dengan erat.
Wanita tua itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan cucunya. "Nenek, juga sangat merindukanmu, Sayang." Ucap Nenek Xia sambil memeluk Luna dengan erat. Nenek Xia melonggarkan pelukannya dan menatap Luna dengan serius. "Oya, Sayang. Apa pria tampan ini adalah suamimu?" tanya Nenek Xia memastikan.
Luna mengangguk, lalu menarik Zian dan memperkenalkan dia pada Neneknya. "Ya, Nek. Ini suamiku, dan namanya Zian." dengan bangga Luna memperkenalkan Zian sebagai suaminya dengan bangga.
"Ngomong-ngomong apa pekerjaan suamimu?" tanya Xia Doris yang begitu penasaran dengan pekerjaan suami Luna. "Kalau suami Aretha sih manager di Lu Empire, jangan-jangan suamimu hanyalah karyawan rendahan, ya?" lanjut Doris, dia menatap Luna dengan tatapan meremehkan.
Doris membandingkan Zian dengan menantunya yang bekerja di Lu Empire sebagai manager, tanpa dia ketahui siapa sebenarnya pria yang berdiri dihadapannya itu. Luna hanya mengangguk-angguk saja, sambil mati-matian menahan tawanya.
"Ya, Paman benar, suamiku memang hanya seorang karyawan rendahan yang tidak memiliki masa depan. Dan setidaknya gaji perbulan yang dia dapatkan bisa menghidupiku selama satu tahun penuh. Itu bukan termasuk belanja barang-barang mewah, jalan-jalan dan liburan ke luar negeri dan lain sebagainya. Apa menantu Paman yang seorang manager itu bisa memberikan kemewahan seperti suamiku yang hanya seorang karyawan biasa?" ujar Luna. Wanita itu menyeringai ketika melihat wajah kesal Xia Doris setelah mendengar apa yang ia katakan.
"Dasar gadis bodoh!! Sebenarnya omong kosong apa yang kau katakan? Kau bermimpi terlalu tinggi, mana ada seorang karyawan rendahan memiliki gaji sebesar itu, bahkan seorang manajer seperti menantuku saja gajinya tidak lebih dari tiga puluh juta won, jadi jika ingin berbohong sedikit kira-kira!!" ucap Doris panjang lebar.
Bukannya tersinggung dengan ucapan Doris yang berusaha untuk merendahkan dirinya, Luna malah tertawa, wanita itu menggelengkan kepala.
"Paman Paman , kau itu lucu sekali, ya? Kenapa kau harus terpancing emosi hanya dengan mendengar kata-kataku saja, tapi aku ucapkan selamat untuk menantumu yang hebat itu karena berhasil menjadi manajer di sebuah perusahaan besar seperti Lu Empire." Ujar Luna dengan santainya.
Lagi dan lagi, hal serupa kembali terjadi di reunian keluarga Xia. Jika tahun lalu Doris mempermalukan keluarga adiknya karena Luna yang belum memiliki pasangan, sementara Putrinya sudah menikah.
Berbeda dengan tahun ini, Doris mempermalukan keluarga adiknya karena suami Luna yang hanya karyawan biasa tanpa dia ketahui kebenaran yang sesungguhnya. Siapa suami Luna, dan apa jabatannya.
"Doris, kau tidak berubah sama sekali. Kau tetap saja sombong dan suka membanding-bandingkan keluargaku dengan keluargamu, dan sasaranmu selalu Luna. Tapi apakah kau masih bisa bersikap sombong seperti ini jika tau siapa menantuku yang sebenarnya?" ucap Dean. Setelah cukup lama diam, akhirnya Ayah Luna ikut angkat bicara.
Sejauh ini Zian tak bereaksi sama sekali, dia memilih untuk diam dan mendengarkan ocehan Xia Doris. Zian ingin tau siapa menantu pria sombong dan arogan di depannya ini. Dan Zian akan melihat bagaimana pria itu berhenti bicara setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Doris, Dean, cukup!!" seru Nenek Xia menghentikan pertengkaran kedua putranya. "Kalian berdua ini apa-apaan? Mama, mengumpulkan kalian semua disini bukan untuk bertengkar melainkan demi mempererat ikatan keluarga kita, tapi kalian malah bertengkar seperti anak kecil. Dan kau , Doris. Kenapa kau suka sekali merendahkan Dean yang kenyataannya adalah adik kandungmu dan membandingkan Luna dengan Aretha." ujar Nenek Xia panjang lebar.
"Ma, Aku mengatakan yang sebenarnya, kenapa kau harus keberatan?"
"Apapun pekerjaan suami Luna, itu bukanlah sebuah masalah besar. Kau juga sebaiknya jangan sombong dengan kedudukan menantumu itu, jangan hanya karena dia seorang Manager, maka kau bisa bersikap seperti orang yang tidak berpendidikan. Nak, atas nama keluarga Xia Nenek minta maaf," Nenek Xia membungkuk penuh sesal, dia sungguh-sungguh menyesal atas sikap dan perilaku Doris.
__ADS_1
Luna menggelengkan kepala. "Nenek, kau tidak perlu meminta maaf pada, Zian. Dia baik-baik saja kau, dan aku tidak yakin taman Doris masih sanggup berkaor-kaor tidak jelas setelah mengetahui siapa Zian sebenarnya." Ujar Luna.
"Maaf, kami datang terlambat." seru seseorang dari arah belakang, dan kedatangannya mengalihkan perhatian semua orang yang berada di aula.
Mereka pun menoleh, Doris tersenyum lebar melihat kedatangan putri dan menantunya. "Kalian sudah datang, kenapa sampai terlambat? Oh, jangan-jangan kalian pergi membelikan sesuatu yang istimewa untuk Nenek kan? Putri dan Menantuku memang yang terbaik," ucap Doris membanggakan Aretha dan suaminya.
Pandangan Aretha lalu bergulir pada Luna. Wanita itu menyeringai. "Tentu saja, Pa. Mana mungkin aku datang hanya dengan tangan kosong saja, malu dong. Aku yang memiliki suami di perusahaan besar datang hanya dengan tangan kosong saja," ujarnya.
Kemudian Aretha menghampiri Nenek Xia lalu memberikan hadiah yang ia bawa padanya. "Nenek, ini untukmu. Perhiasan ini kami beli ketika dalam perjalanan kemari, dan ini adalah perhiasan termahal yang ada di toko tadi." Aretha memberikan sebuah cincin berlian pada Nenek Xia, dia berusaha memanas-manasi Luna.
Luna memutar matanya dengan jengah. Tidak anaknya, tidak ayahnya, tidak ibunya, semua sama saja, pikir Luna.
Tapi sayangnya Luna tidak mau kalah dari Aretha. Dia menghampiri Nenek Xia lalu memberikan hadiah yang ia persiapkan padanya. "Nenek, aku ada sedikit kado untukmu. Zian, yang memilihnya dan menurutnya ini sangat cocok untukmu." Ucap Luna.
Pupil mata Nenek Xia membelalak sempurna setelah melihat kado dari Luna. "Blue Sea," lalu ia mengangkat wajahnya dan menatap Zian.
"Itu adalah salah satu perhiasan peninggalan leluhur, keluarga Lu." terang Zian menjawab rasa penasaran Nenek Xia.
Sontak semua orang membulatkan matanya setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Zian. "Apa, leluhur keluarga Lu?!" hampir semua berseru kencang kecuali Orang tua Luna dan juga Vincent, karena mereka bertiga memang sudah mengetahui identitas Zian yang sebenarnya
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Doris penasaran.
Dan sikapnya membuat Doris dan Aretha kebingungan. Pria itu melepaskan pelukan istrinya lalu menghampiri siang. "Presdir Lu, maafkan saya karena tidak mengenali Anda," ucapnya penuh Sesal.
"Apa?! Presdir Lu?" Doris dan Aretha memekik sekencang-kencangnya. "Di..Dia adalah Presdir dari Lu Empire?" ucap Doris dengan suara gemetar.
"Ya, suamiku adalah pemilik dari, Lu Empire," jawab Luna membenarkan. Dengan begitu bangganya, Luna memeluk lengan Zian.
Doris menggeleng, benar-benar tidak percaya jika menantu dari adiknya adalah pemilik Lu Empire. Doris pun jatuh pingsan, siapa yang menduga jika orang yang sedari tadi dia rendahkan adalah pemilik dari Lu Empire.
Tamat sudah riwayatnya, hidup keluarganya akan berakhir jika menantunya sampai dipecat dari perusahaan. Dan bisa-bisa Aretha hidup dalam kekurangan, dan Doris tidak ingin hal itu sampai terjadi.
.
.
Insiden tak terduga yang terjadi membuat acara berantakan, doris dilarikan ke rumah sakit, sementara Dean dan keluarganya memutuskan untuk pulang.
Acara yang seharusnya mempererat ikatan keluarga, justru menjadi ajang pamer, dan Luna tidak akan terpancing jika Pamannya tidak memulai duluan. Jadi bukan salah Luna maupun Zian cara mengungkap identitas pria itu yang sebenarnya.
"Zian, maaf. Pasti kau merasa tidak nyaman," ucap Luna penuh sesal.
__ADS_1
Zian menggelengkan. "Sama sekali tidak, itu bukan salahmu jadi untuk apa kau meminta maaf. Dan orang seperti mereka tidak akan jerah jika sekali-kali tidak diberi pelajaran.", Ucapnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan pada menantu, Paman Doris? Kau akan memecatnya atau membiarkan dia tetap bekerja di perusahaanmu?" tanya Luna penasaran.
"Aku akan membiarkan dia tetap bekerja, namun bukan sebagai manager lagi. Aku akan menurunkan jabatannya, dan dia akan tetap bekerja sebagai OB." jelasnya.
Luna menyemburkan minuman di dalam mulutnya setelah mendengar jawaban Zian, apa dia tidak salah dengar? Zian akan menurunkan posisinya dari manager menjadi OB? Luna tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi pamannya perihal hal ini, dan Luna sudah tidak sabar melihat pria arogan itu membungkam mulutnya untuk selamatnya.
"Tapi, Zian. Apa menurutmu hal itu tidak keterlaluan? Kau menurunkan posisinya dari seorang manajer menjadi OB. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Paman Doris saat tahu menantu yang sangat dia banggakan turun pangkat," ujar Luna.
Zian mengangkat bahunya dengan acuh. "Itu bukan urusanku dan aku tidak peduli. Ini sudah larut malam, sebaiknya kita tidur sekarang. Besok aku ada pertemuan penting dengan kolegaku yang dari luar kota," ucap Zian seraya beranjak dari posisinya. Luna mengangguk, kemudian ia dan Zian sama-sama pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
.
.
Malam sudah semakin larut namun Zian masih terjaga, berkali-kali dia mencoba untuk tidur lebih awal tetapi tidak bisa. Pandangannya lalu bergulir pada Luna yang berbaring di sampingnya, wanita itu sudah tertidur pulas.
Menyibak selimut yang menutup sebagian tubuhnya, kemudian Zian beranjak lalu melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Dan kedatangannya mengalihkan perhatian Paman Kim yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga.
Buru-buru paman Kim berdiri lalu membungkuk pada Zian. Zian menepuk bahu pria paruh baya itu. "Tidak perlu selalu bersikap formal begitu padaku, Paman. Kenapa Paman belum tidur?" tanya Zian.
"Saya tidak bisa tidur, Tuah Muda. Banyak sekali hal yang mengganggu pikiran saya, lalu kenapa Tuan Muda sendiri belum tidur?" Paman Kim balik bertanya.
"Sama seperti Paman, juga belum bisa tidur," jawab Zian. "Apa yang sedang Paman pikirkan?" Zian balik bertanya.
"Keluarga saya. Tuan Muda, saya berencana untuk berhenti dan fokus pada keluarga. Saya ingin menikmati masa tua bersama mereka, sebenarnya sudah lama Paman memikirkan hal ini, tetapi Paman tidak bisa pergi dan meninggalkan tanggungjawab yang diberikan oleh Tuan Besar sebelum beliau meninggal. Karena sekarang Anda sudah kembali dan bergabung dengan perusahaan, saya bisa pergi dengan tenang," ujar Paman Kim panjang lebar.
Zian terdiam setelah mendengar perkataan Paman Kim. Lalu ia menatap pria itu dengan seksama. Banyak garis-garis lembut yang memenuhi wajahnya, rambut hitamnya juga sudah mulai memutih, yang mengartikan Jika dia sudah tua. Zian mengambil nafas panjang dan menghelanya.
"Baiklah, Paman. Aku memberimu ijin untuk keluar. Karena memang sudah waktunya Paman beristirahat, dan menikmati waktu Paman bersama keluarga." Ucap Zian memberikan keputusannya.
Paman Kim membungkuk sambil berlinang air mata. "Terimakasih, Tuan Muda. Dan kebaikan anda ini tidak akan pernah melupakan,"
Meskipun sangat berat, tetapi Zian tetap mengijinkan Paman Kim untuk berhenti, karena memang sudah waktunya dia beristirahat setelah pengabdiannya selama ini pada keluarga Lu. Dan sebelum pergi, Zian akan memberikan sebuah penghargaan pada Paman Kim untuk mengenang semua jasa-jasanya.
.
.
Bersambung
__ADS_1