Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Kebahagiaan Yang Sempurna


__ADS_3

Sepasang suami istri terlihat memasuki sebuah restoran mewah yang terletak di pusat kota Seoul. Restoran tampak sepi, hal itu terlihat dari beberapa meja saja yang terisi. Hal itu membuat Luna merasa lega, karena dia tidak perlu berhadapan dengan banyak orang yang terkadang membuatnya merasa muak.


"Zian, aku mau kita duduk di meja dekat jendela," ucap Luna di tengah langkahnya.


Zian menggeleng. "Kita pesan ruangan VIP saja, aku ingin kenyamanan dan privasi." ucap Zian dan dibalas anggukan oleh Luna. Karena sebenarnya itu juga yang Luna inginkan. Lagipula dari lantai dua mereka bisa lebih leluasa menikmati keindahan indah kota Seoul saat malam hari seperti ini.


Dibandingkan tempat duduk umum , sebenarnya Luna lebih menyukai ruangan tertutup seperti ini, karena dia tidak perlu merasa tidak nyaman karena harus berbaur dengan banyak orang ketika menyantap makan malamnya. Terkadang itu membuatnya merasa agak risih.


"Apa kepalamu terasa pusing?" tanya Luna mengakhiri keheningan diantara ia dan Sean.


"Hm, sedikit." Zian menjawab singkat.


"Bagus aku tidak melihatnya secara langsung. Jika dia berani melukaimu tepat di depan mataku, tidak peduli sebanyak apa polisi yang ada di sana, sudah aku binasakan dia!!" ujar Luna sambil mengepalkan tangannya.


Sebagai seorang istri, mana mungkin Luna rela melihat suaminya dilukai oleh orang lain. Sangat beruntung bagi Sean, karena Luna tidak melihatnya secara langsung ketiga dia melukai Zian, karena jika Luna sampai melihatnya, entah bagaimana nasib dia selanjutnya? Mungkin saja Sean hanya akan menjadi penghuni tempat tidur selama bertahun-tahun.


"Sudah, jangan banyak bicara lagi, sebaiknya kita makan sekarang sebelum makanan-makanan ini menjadi dingin," ucap Zian dan dibalas anggukan oleh Luna.


Selanjutnya mereka berdua menyantap makan malamnya dengan tenang. Karena perut Luna sudah sangat keroncongan sedari tadi, makanya dia makan dengan sangat lahap


"Huu, aku memang sudah sangat kelaparan. Kita harus menunda makan malam sampai beberapa jam karena ulah kakakmu yang kurang ajar itu." Ujar Luna.


"Iya, tapi pelan-pelan saja makannya, tidak perlu terburu-buru." Nasehat Zian. Tapi Luna tidak menghiraukannya dan tetap fokus pada makannya.


Zian menghela napas, pria itu menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Benar-benar bocah, pikirannya. Zian meletakkan sendok dan garpunya lalu menatap Luna dengan serius. "Ada apa?" wanita itu bertanya dengan bingung.


"Luna, ini masalah anak. Apa kau masih tetap menundanya atau ingin segera memilikinya. Aku tidak akan memaksamu, semua keputusan mengenai hal itu aku serahkan padamu." ucap Zian.


Luna menghela napas. Dia meletakkan sendok dan garpunya lalu menatap Zian dengan serius. "Zian, maaf sebelumnya, bukan maksudku ingin menundanya lagi, tapi aku benar-benar belum siap. Memiliki anak bukan hanya tentang kesiapan saja, tetapi mental juga, apalagi banyak hal yang akan berubah saat kita memiliki anak. Dan untuk saat ini, aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu denganmu, menciptakan banyak kenangan bersamamu dan masih banyak hal lagi yang ingin aku lakukan bersama. Setidaknya untuk satu-dua tahun ke depan." Ujar Luna panjang lebar.

__ADS_1


Zian menggeleng. "Tidak masalah, apapun keputusanmu aku akan tetap menyetujuinya. Dan masalah ini kita bisa membicarakannya lagi saat sama-sama siap," ucap Zian sambil menggenggam tangan kanan Luna.


Luna kemudian bangkit dari duduknya lalu menghampiri Zian dan memeluknya dengan erat."Terimakasih atas pengertianmu, Zian. Aku benar-benar beruntung memiliki suami sepertimu." Ucap Luna lirih.


Zian mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Luna. "Sama-sama, Sayang." Zian mengusap punggung Luna naik-turun. Apapun akan Zian lakukan untuk membahagiakan Luna, karena kebahagiaannya adalah prioritas utama bagi Zian.


.


.


Musim semi telah tiba, menandakan jika musim dingin telah berlalu. Musim semi adalah salah satu musim yang paling ditunggu-tunggu oleh penduduk kota, karena musim semi mereka bisa terbebas dari dinginnya udara di musim dingin.


Tak terkecuali Luna. Luna sangat menyukai musim semi tapi membenci musim dingin.


Wanita itu pasti lebih banyak menggerutu ketika musim dingin tiba, terkadang orang-orang disekitarnya sampai bosan mendengarnya keluhannya. Namun hal tersebut tak lagi terjadi sejak musim dingin tahun ini, lebih tepatnya setelah kebersamaannya dengan Zian.


Zian berbalik badan lalu menarik pinggang Luna dan membunuh jarak diantara mereka berdua. "Benarkah?" matanya terkunci pada bibir ranum milik Luna. Wanita itu mengangguk. "Kau juga sangat cantik," bisiknya lalu mengecup lembut bibir kemerahan milik Luna.


Luna mengangkat kedua tangannya untuk memeluk leher Zian ketika pria itu semakin memperdalam ciumannya. Matanya tertutup rapat saat merasakan pagutan-pagutan lembut pada bibirnya. Zian terus melumatt bibir Luna atas-bawah bergantian, Luna begitu menikmati ciuman tersebut.


Tapi ciuman mereka tak berlangsung lama, Zian mengakhiri ciumannya kurang dari satu menit. "Nanti saja kita lanjutkan lagi. Jangan sampai kita membuat Mama dan Papa menunggu terlalu lama." Ucap Zian dan dibalas anggukan oleh Luna.


"Tapi dimana si kembar?"


"Mereka menunggu di luar," jawab Zian.


Keduanya lalu berjalan beriringan meninggalkan kamar. Ren-Jun dan Jii-Sung sudah menunggu di depan. Ada acara kecil-kecilan di kediaman Luna. Hari ini adalah perayaan ulang tahun pernikahan orang tua Luna yang ke tiga puluh tahun.


Tiga puluh menit berkendara, mereka tiba di kediaman Xia. Harusnya dua puluh menit lalu, tapi karena terjebak macet, makanya perjalanan mereka jauh lebih lama dari biasanya. Si kembar tidak satu mobil dengan Zian dan Luna, mereka mengendarai mobilnya sendiri. Karena sudah cukup umur, makanya Zian membelikan mobil untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Mama, kami datang," seru Luna dengan sangat keras. Namun tak ada sahutan karena semua orang berkumpul di taman belakang, dan acara makan-makan diadakan di taman belakang.


Ternyata teman-teman Zian di undang semua untuk ikut merayakan ulang tahun pernikahan orang tua Luna. Ada juga Starla dan Nenek Marta, semua orang terdekat mereka berdua turut hadir di sana. Dari semua keluarga Xia, hanya ada Nenek Xia saja, sementara yang lain tidak ada.


Luna pun segera menghampiri kedua orang tuanya dan mengucapkan selamat pada mereka berdua. Tidak lupa Luna juga membawa kado yang sudah ia dan Zian persiapkan jauh-jauh hari.


"Ma, Pa, selamat hari jadi. Semoga kalian berdua sehat selalu dan panjang umur, dan semakin romantis dari hari ke hari," ucap Luna sambil memeluk kedua orang tuanya.


"Terimakasih, Sayang. Kami juga selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan Zian," ucap Nyonya Xia menimpali.


Semua orang terlihat begitu bahagia, tak terkecuali Nenek Xia. Diusianya yang sudah semakin tua, rasanya begitu hangat melihat kebahagiaan keluarganya, meskipun takdir hidup tak seperti yang dia harapkan, tapi dia tetap bisa menemukan kehangatan di dalam kehampaan.


Semakin malam, suasana semakin meriah, kembang api di lepaskan dan semua orang begitu menikmati pesta malam ini. Menari, menyanyi, semua bergembira termasuk Zian dan Luna. Keduanya selalu tersenyum di sepanjang acara berlangsung, sungguh kebahagiaan yang begitu sempurna.


"Zian, terimakasih untuk semuanya, aku bahagia bisa mencintaimu," ucap Luna sambil mengunci mata Zian.


"Seharusnya yang mengucapkan terimakasih adalah aku, Luna. Terimakasih telah melengkapi hidupku, dan sejak kehadiranmu, aku tidak lagi merasa hampa. Kau, adalah malaikat yang Tuhan turunkan untukku, terimakasih Sayang, aku mencintaimu."


Keduanya kemudian berciuman, bukan sebuah ciuman panjang yang memabukkan, dan melalui ciuman itu mereka berdua sama-sama menyampaikan rasa cinta yang begitu besar. Zian mencintai Luna dengan sepenuh hatinya, dan begitu pula sebaliknya.


Mereka berdua saling mencintai dan melengkapi, dan kehangatan keluarga yang selama ini hanyalah angan-angan bagi Zian, akhirnya bisa dia dapatkan semenjak Luna masuk ke dalam hidupnya dan membawa cinta yang tulus untuknya.


"Aku mencintaimu, Luna..."


.


.


SELESAI

__ADS_1


__ADS_2